21 Hari Bersama vivo V3

vivo-v3-ds-11

Mengapa ponsel dengan sistem operasi Android Lollipop, layar sebatas HD, dan chipset Qualcomm Snapdragon 616 masih sangat layak dibeli di tahun 2017.

***

Saya beli ponsel vivo (lagi). Padahal spesifikasinya di bawah Si Hitam Manis Oneplus X. Chipsetnya sebatas seri 600-an bukan 800-an. Kerapatan layarnya juga sebatas HD IPS, bukan Amoled Full HD. Sistem operasinya juga belum bisa move on dari manisnya Lollipop, dan mungkin tidak akan pernah merasakan kekenyalan Marshmallow atau gurihnya Nougat.

Tapi, membeli ponsel tidak melulu soal chipset dan layar kan?

***

Segala kurang dari Neng Vitri (baca: vivo V3) sudah saya sebutkan satu per satu. Bila diminta menambah, maka alpha-nya pengisian daya cepat adalah jawabnya. Selebihnya, ponsel yang sekarang harganya 2,6 juta itu memenuhi harapan.

Kualitas Pengerjaan, Desain dan Ergonomi

vivo-v3-ds-07

 

Meski tidak seramping Si Hitam Manis, Neng Vitri tetap nyaman digenggam. Ini disebabkan karena posturnya yang ramping, bobotnya tidak sampai 140gram. Tingginya 143mm, lebarnya 71mm, dan tebalnya 7,5mm. Semua perangkat berada pada posisi yang pas. Pengeras suara ada di bagian bawah, bukan di belakang. Pemindai sidik jari ada di belakang dan mudah diakses, tidak seperti pada Redmi 3 yang terlalu ke atas. Tombol power dan volume juga sama, berada di sisi kanan dan tidak terlalu ke bawah seperti pada Oneplus X.

vivo V3 dibuat dari material plastik dan metal. Rapi, sangat rapi. Warna emasnya kalem. Bagian belakang yang seperti pasir itu terasa halus ketika disentuh, tidak licin dan tidak membekaskan sidik jari. Bagian depannya berwarna putih di sisi atas terdapat logo vivo (yang akan memantul bila terpapar cahaya), kamera depan, sensor jarak, speaker telinga dan lampu notifikasi.

Isi di Dalam Kotak

vivo-v3-ds-12

 

Di dalam balok putih berlabel V3 itu terdapat: kartu garansi, petunjuk penggunaan, card ejector, jelly case, earphone yang ada microphonenya, charger dengan keluaran daya 5V;1A (5W), dan kabel yang dapat berfungsi sebagai charger sekaligus transfer data. Layar vivo V3 sendiri sudah dipasangi dengan pelindung model tempered glass. Kualitas aksesoris itu? Sangat baik.

Display 

vivo-v3-ds-06

 

Ukuran diagonal layar vivo V3 adalah 5 inchi (12,7cm). Resolusinya sebatas HD atau 1280 x 720 piksel. Teknologinya IPS. Karena bingkai layar berwarna putih, maka sisi hitam yang mengelili layar akan terlihat. Tidak jelek juga, karena tipis dan simetris.

Dengan spesifikasi seperti itu awalnya saya ragu, karena Oneplus X menawarkan pengalaman yang sungguh sulit ditolak: sama-sama 5 inchi, namun dengan resolusi full HD dan teknologi Amoled. Namun ternyata tidak ada masalah sama sekali. Teks masih dapat terbaca dengan baik. Sudut pandang luas. Begitu juga dengan tingkat kecerahannya, Neng V3 begitu berani menantang matahari. Memang sih warna tidak sekental pada Oneplus X, tapi justru terlihat lebih alami. Bila disentuh? Sangat menyenangkan, lembut dan tanggap.

Audio dan Telepon

vivo-v3-ds-04

 

Ponsel-ponsel keluaran vivo selalu dirancang untuk unggul dari sisi audionya. Hi-Fi & Smart, begitu vivo mengenalkan dirinya (sekarang berganti jadi Camera & Music). Yang paling terlihat adalah tingkat pengaturan volume media-nya yang mencapai 30 tingkat. Sedangkan ponsel lainnya sebatas 15 saja.

Bagaimana dengan vivo V3 sendiri? Secara spesifikasi ponsel ini memiliki Digital to Analog Converter (DAC) khusus. AK4375 vivo menyebutnya. Memangnya buat apa sih? Sesuai namanya, fungsi dari DAC itu untuk merubah sinyal digital menjadi analog, merubah file musik yang digital itu hingga bisa kita dengarkan melalui telinga. Seberapa pengaruh sih?

Nah ini yang sulit dijawab. Karena selain DAC, ada juga yang mempengaruhi alunan musik menjadi enak didengar: sumbernya, earphone-nya, juga penguat suaranya. Butuh artikel tersendiri untuk membahas ini. Tapi, setidaknya vivo V3 sudah memperbaiki satu hal yang pada ponsel lain dianggap biasa saja.

Jadi, kesan saya seperti ini: mendengarkan musik melalui earphone dari vivo V3 akan membuat keluaran suara lebih bersih, soundstage lebih luas dan lega, vokal lebih alami dan dekat, detil juga lebih keluar. Saya sudah mencobanya dengan earphone bawaan, Co-Donguri Shizuku, JVC HAFX1X, dan Mi In-Ear Monitor. Juga membandingkannya dengan ponsel lain. Hasilnya? Sungguh membuat saya tidak ingin kembali ke ponsel-ponsel terdahulu.

Sektor loud speaker-nya juga sama. vivo menanamkan smart AMP sebagai teknologinya. Klaim-nya membuat pengalaman mendengarkan seperti home cinema. Benarkah? Ya, nggak begitu-begitu amat sih. Tapi memang berbeda, keluaran suara dari speaker mungil itu terasa lebih bulet, bersih, dan nyaring. Jangan berharap mendapatkan bass yang jedag-jedug dari speaker sekecil ini.

i music didaulat vivo sebagai player-nya. Di sini ada fitur rahasia. Bila kita menekan tombol menu (tombol sebelah kiri tombol home), maka menu edit, scan, sleep mode, dan pengaturan akan muncul. File yang dapat dibaca adalah AAC, AAC+, AMR, MIDI, OGG, FLAC, WMA, WAV, APE, MP3 (belum bisa membaca file DSD seperti pada vivo Xplay 6 yang menggiurkan itu).

Bagaimana dengan telepon? vivo V3 dilengkapi dengan dua microphone. Satu di bawah sebagai input suara, dan satu lagi di atas sebagai peredam kebisingan. Rasanya? Suara orang di seberang sana terdengar bersih dan jelas.

Performa dan Benchmarking

Skor Antutu: 40706, Kecepatan memori internal; Baca: 140MB/s, Tulis: 73MB/s. Sisa memori internal 23,91 GB dari 32 GB.

Adakah kendala signifikan yang saya rasakan setelah turun kelas dari Qualcomm Snapdragon 801 ke 616? Saya khawatir iya. Namun, nyatanya tidak. Menjalankan belasan aplikasi sekaligus tidak ada masalah. Scrolling juga mulus. Memang pada awal membuka aplikasi terasa jeda-nya, namun setelah itu RAM 3GB bekerja dengan baik. Aplikasi-aplikasi yang berjalan di latar dapat dibekukan. Tidak ada flashing, atau kedipan. Selama penggunaan juga tidak ada panas berlebih yang terasa.

Performa untuk gaming? Saya memainkan Asphalt 8 Air Borne dengan kualitas visual tertinggi tidak ada masalah. Lancar.

Bagaimana dengan performa sidik jarinya? Tidak seperti pada Galaxy S7, vivo V3 dapat langsung membuka ponsel bila kita menyentuhnya. Instan, tidak perlu menunggu ponsel stand by. Pemindai itu juga mengenali sidik jari meski kita menyentuhnya dengan posisi terbalik. Memorinya entah berapa, saat ini ada 3 jari yang dapat membuka Neng V3 saya dan rasanya masih bisa ditambah. Jadi tidak masalah ingin membukannya dengan jari apapun dari tangan apapun. Terserah yang enaknya saja.

Oh iya, sidik jari itu juga berfungsi sebagai tombol kamera. Misalkan sedang swafoto, sentuh saja, maka foto akan terambil.

Bagaimana dengan GPS nya? Ini yang menarik. Ia lebih cepat mengunci dari pada Oneplus X. Bahkan dalam posisi GPS dimatikan, ia tahu posisi kita ada di mana. Ketika kita akan menjalankan navigasi barulah ia meminta kita untuk mengkatifkan GPS.

Funtouch OS 2.5 dengan Segudang Fiturnya

Masuklah kita kebagian yang sebenarnya perlu artikel tersendiri untuk membahasnya. Betul, vivo V3 berjalan di atas Android Lollipop 5.1.1, tapi rasanya seperti pada Marshmallow yang memiliki fitur baterai Doze dan Nougat yang akhirnya menjadikan fitur split screen sebagai bawaan. Lagi-lagi penurunan kelas tidak membuat saya kecewa (Oneplus X sudah Marshmallow).

Sejak awal ponsel dihidupkan ada pemberitahuan pembaruan sistem. Dan hingga tulisan ini dibuat yang berjalan adalah Funtouch OS 2.5 versi 1.12.6. Secara umum tidak berbeda dengan Funtouch OS 2.1 milik vivo Y21. Masih IOS banget. Tapi, kini akses cepatnya ketambahan pengaturan volume. Dan ini benar-benar membuat saya hampir tidak pernah menyentuh tombol power dan volume yang ada di sisi kanan ponsel. Smart!

Segala kenyamanan yang ditawarkan Funtouch OS 2.1 juga masih dipertahankan, bahkan ditambahkan. Fitur glance screen masih ada, fitur smart keep bright juga masih ada, fitur double click to light kini ke tambahan doule tape to turn off. Tambahan lain ada pada smart call & answer, smart split, dan one handed. Semua fitur tambahan itu efektif dan bekerja dengan baik.

Adakah kutunya?

Yang terasa adalah warna notifikasi judul email yang gelap. Tapi itu segera hilang ketika kita menarik notifikasi ke bawah. Selebihnya tidak ada kutu yang benar-benar menggangu.

Bagaimana dengan aplikasi bawaan?

Aplikasi bawaan vivo termasuk minimalis. Ada i theme tempat untuk mengunduh tema, wallpaper, dan screenlock berbagai rupa. vivoCloud tempat untuk mencadangkan kontak, sms, bookmarks, catatan dan daftar hitam telepon. Easy Share sebagai alat untuk transfer apapun, yang ada pembaruan ke versi 1.0.298.1. Aplikasi video yang bisa membaca file MP4/3GP/AVI/MKV/WMV.

Selain itu ada kumpulan tools yang isinya: Calculator yang bila ponsel dimiringkan akan menjadi kalkulator scientific, FM Radio, Recorder dengan kualitas 3GPP atau AMR, Clock yang terdiri dari alarm, world clock, stopwatch dan timer. Juga ada Compass, yang berfungsi sebagai … kompas.

Aplikasi populer seperti Facebook, WhatsApp, WPS Office dan WeChat juga langsung tersedia tanpa perlu unduh lagi.

Dari semua aplikasi bawaan, i manager layak mendapat sorotan. Karena, dengan aplikasi inilah kita mengontrol kebersihan memori ponsel, pemakaian data, pemakaian aplikasi, baterai, rejection (telp dan sms) juga privasi.

Jaringan

 

vivo V3 mampu berjalan di jaringan 4G secara otomatis. Tanpa perlu kulikan seperti pada Xiaomi Redmi 3 Prime. Dua-dua selot kartunya begitu (ukuran nano dan micro). Tapi, hanya salah satu saja yang aktif. Misal kita memutuskan selot dua yang digunakan sebagai data, maka selot satu diposisikan sebatas G saja. Memang begitu umunya kan.

Kamera

vivo-v3-ds-08

vivo V3 dipersenjatai dengan 2 kamera khas kelas menengah: 13MP di belakang dan 8MP di depan. Secara spesifikasi tidak istimewa, lensa nya juga biasa-biasa saja, f/2.2 di belakang dan f/2.4 di depan. Tapi, dua-duanya bisa fokus secara otomatis. Mengejutkan, karena kamera selfie vivo V5 sendiri sekadar fixed focus (tapi bisa memilih mana yang mau di expose).

Fitur mengejutkan lainnya ada pada kamera depan. Ternyata mampu menggunakan flash. Errmm.. memang sebatas screen flash sih, tapi ternyata ini berguna juga bila tempat nya benar-benar gelap.

Fitur kamera profesional yang membuat saya jatuh hati pada vivo Y21 kini kemampuannya ditingkatkan. ISO maksimalnya bisa hingga 1600 dan shutter speednya bisa sampai 16 detik. Artinya? Bila cahaya kurang, ISO 100 (gambar paling bersih) masih dapat dikejar. Catatannya memang ponsel tidak boleh bergerak, sehingga tidak terjadi blur.

 

Hasil Kamera Depan

 

Kondisi: cahaya redup selepas maghrib, di stasiun yang hampir indoor.

Hasil Kamera Belakang

 

Baterai

Butuh waktu 2 jam untuk mengisi baterai 2550mAh milik vivo V3 dari kondisi di bawah 20% hingga mencapai lebih dari 90%. Setelah itu dengan ia sanggup menemani aktifitas saya selama 12 jam (no gaming). Charger bawaan vivo V3 tidak berbeda dengan vivo Y21, sama sama keluaran 5W (5V;1A). Ternyata, pengisian daya juga tidak bertambah cepat bila kita mencolokkan charger dengan keluaran daya 10W (milik Oneplus X) ataupun 12W (milik powerbank Asus) sekalipun. Aneh atau aman?

Singkatnya

vivo-v3-ds-09

 

Layar HD, Android Lollipop, dan si Naga 616 memang bukan barang menarik di tahun 2017. Meski begitu, vivo V3 tetap enak di ajak jalan bareng. Tampilan antar mukanya, gerak pintarnya, juga kualitas audionya membuat pengalaman pengguna menjadi lebih lengkap dan menyenangkan.

Disclaimer: artikel ini murni pengalaman pribadi. Saya tidak ada afiliasi sama sekali dengan perusahaan vivo.

***

Spesifikasi vivo V3 (Harga Rp 2.600.000)

DISPLAY

Size 5.0-inch ; Resolution 1280 x 720 HD ; Type IPS ; Touch Screen Multi-touch Capacitive Screen

CAMERA

Rear 13MP PDAF ; Front 8MP ; Flash Rear: LED ; Video Recording MP4

CELLULAR

Dual SIM Dual Standby; 2G GSM: Band 2/3/5/8 ; 3G WCDMA: Band 1/5/8 ; FDD: Band 1/3/8

BASIC

Processor Qualcomm S616 1.5Ghz Octa-core 64bit ; RAM 3GB ; Storage 32GB (Supports up to 128GB MicroSD Card) ; Battery 2550mAh Build-in ; Color Gold ; OS Funtouch OS 2.5 based on Android 5.1 Lollipop

BODY

Dimension 143.6 x 71 x 7.5mm ; Weight 138g ; Material Metal

MEDIA

Hi-Fi AKM AK4375

Sound Playback AAC, AAC+, AMR, MIDI, OGG, FLAC, WMA, WAV, APE, MP3

Video Playback MP4/3GP/AVI/MKV/WMV

CONNECTIVITY

USB USB 2.0 ; Wi-Fi Support ; Bluetooth Bluetooth 4.1 ; OTG Support ; FM Radio Support

LOCATION

GPS, Beidou, GLONASS

SENSORS

Accelerometer, Light Sensor, Proximity Sensor, Gyrometer

 

12 thoughts on “21 Hari Bersama vivo V3

  1. Kang Diki, v3 vs y55 prefer yang mana? v3 apakah akan mendapatkan Marshmallow++?
    Iistri saya pakai y55 dari desember 2016, lancar jaya, hanya internal memory 16GB hampir setengahnya untuk funtouchOS. Marshmallow di y55 benar-benar membuat perbedaan apalagi sebelumnya menggunakan hape jelly bean :D. Nuhun sharingnya kang….

    1. Kang Rano,

      Prefer v3 walopun belum marshmallow. Alasannya :
      1. Ram dan Rom nya lebih besar (3, 32).
      2. Kamera lebih bagus (13+8)
      3. Ada Hi-Fi nya.
      4. Update os tetap ada, dan rutin.
      5. Saya sudah coba marshmallow nya v5 (funtouch os 2.6) dan perbedaannya nggak signifikan sama 2.5. Perbedaan keliatan di v5 plus yang funtouch nya udah 3.0.

      Begitu kang. Semoga membantu :).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.