5 Hari Bersama Xiaomi Redmi 4A

Definisi baru smartphone murah.

***

Setahun yang lalu, dengan uang Rp 1,5 juta saya membeli vivo Y21. Handphone yang begitu saya sukai software, kualitas pengerjaan dan fitur kameranya. Meski begitu, ia tetap jauh dari sempurna. Jaringannya belum menembus 4G LTE, chipset-nya mediatek 6580 (4 Cortex A7, jadul beud kan), RAM-nya cuma 1GB, dan resolusi layarnya di bawah HD.

Tahun ini, dengan jumlah uang yang sama, saya mendapatkan Xiaomi Redmi 4A. Dilengkapi dengan Chipset Snapdragon 425, RAM 2GB, ROM 16GB, kamera 13MP dan 5MP, baterai 3120 mAH, layar 5” beresolusi HD dengan teknologi IPS, dan jaringan yang sudah mendukung 4G LTE (bahkan FDD dan TDD!).

Kalau sudah begini, paling susah mencari lemahnya.

***

Redmi 4A didaulat sebagai seri paling bawah dari Xiaomi. Redmi 4 sendiri ada 4 varian: Redmi 4, Redmi 4X, Redmi 4 Prime, dan terakhir si bungsu Redmi 4A. Spesifikasi dibeda-bedakan sedikit. Utamanya di Chipset, baterai dan kerapatan piksel pada layar. Perlu dibahas di sini?

Rasanya belum, karena yang baru muncul secara resmi memang Redmi 4A yang tidak memiliki pemindai sidik jari sebagai tambahan keamanannya. Tapi intinya sih, ponsel Redmi ya menyasar kelas menengah bawah. Beda dengan Mi series yang memang menyasar menengah atas.

Isi di dalam kotak

Seperti biasa, tidak ada yang istimewa di balik kotak Redmi series. Charger dengan keluaran 5V 1A (5W), kabel data dan charger, buku dan garansi. Sudah itu saja. Tidak ada jelly case, tidak ada tempered glass tambahan. Parahnya, saya tidak menemukan spesifikasi proteksi layar dari Redmi 4A ini. Jangan-jangan memang belum ada si Gorilla sama sekali!

***

Desain dan Ergonomi

Meski tidak tipis, Xiaomi Redmi 4A terasa ringan digenggam. Juga kompak. Bodinya tidak seperti Redmi 4 Series lainnya yang berbalut logam, Redmi 4A plastik di sana-sini. Memang sih plastiknya tidak terlihat, penyelesaiannya sungguh rapi. Cuma, ada rasa lain yang menyeruak: ringkih.

Dimensi lengkapnya begini: 139,5 x 70,4 x 8.5 mm, berat 131,5 g. Pengeras suara ada di bodi belakang, belum pindah seperti kakak-kakanya di sisi bawah. Lampu LED notifikasi tetap ada di bawah tombol home, warnanya bisa disesuaikan. Infra Red ada di bagian atas. Serius, Xiaomi tidak memotong bagian ini. Salut deh.

Display

Biasanya handphone murah itu ada pengurangan di sini. Entah teknologinya yang dikurangi menjadi TN misalnya, atau juga resolusinya di bawah HD (qHD, FWVGA). Kali ini salut lagi buat Xiaomi yang tetap menyajikan display yang nyaman di tatap dari sudut manapun. Ada kecerahan otomatis juga, meski tidak secanggih milik vivo Y21 yang memiliki fitur smart keep bright, tapi layarnya sungguh dapat diapresiasi.

Tidak ada masalah juga dengan pembacaan di luar ruangan. Menyentuhnya juga tanpa tenaga. Mulus, dan responsif. Masalah ada di fitur double tap screen to wake. Kadang-kadang fitur itu tidak bekerja dengan baik. Beberapa kali dua ketukan tidak berhasil mengaktifkan layar itu. Saya terpaksa harus menekan tombol power di sisi kanan.

Mematikan layar memang tidak bisa dengan double tap lagi. Tapi Redmi 4A memberikan pilihan mematikan layar dari bagian pengaturan cepat, ikon kunci dengan tulisan lock yang memainkan peran itu. Ketika ditekan, maka layar akan padam. Mirip fungsi lock pada aplikasi bawaan vivo.

Ooh, ada lagi yang patut diparesiasi di bagian pengaturan layar, Redmi 4A menyediakan koreksi. Sederhana sih, tapi berguna juga buat yang tidak suka dengan warna bawaan.

Marshmallow 6.0.1 dengan MIUI 8.1

Yang saya suka dari MIUI adalah kesederhanaannya. Dan itu tetap dipertahankan oleh MIUI 8.1 ini. Bahkan rasanya lebih mulus daripada MIUI 8.0.2 yang ada pada Redmi 3 Prime.

Fitur yang menjadi sorotan dari MIUI 8 masih ada pada dual apps dan second space. Fitur yang menjanjikan bagi yang memiliki dua kepribadian. Ehm.

Bagaimana dengan fitur lain? Tidak begitu banyak yang dibenamkan. Fitur gesture & motion tidak bisa dibandingkan dengan handphone keluaran vivo. Begitu juga dengan fitur kameranya. Kita bahas nanti ya.

Apa yang menarik lagi adalah Redmi 4A tidak dipersenjatai dengan aplikasi yang menyiksa. Minimalis tapi fungsional begitu kira-kira. Coba lihat bagian tools yang dijadikan satu folder. Semua berguna.

Performa

Dugaan saya betul. Redmi 4A yang memiliki chipset di bawah Redmi 3 Prime ternyata mencatatkan nilai yang lebih tinggi pada papan skor Antutu.

Qualcomm Snapdragon 425 menjadi pengganti sempurna dari Qualcomm Snapdragon 410 yang sempat terkenal dulu. Intinya masih bergatung pada 4 Cortex A53 yang diberi daya 1,4Ghz. GPU-nya Adreno 308 yang berkecepatan 400Mhz.

Maksudnya?

Jangan berharap mendapatkan performa mobil balap dari Chipset kelas bawah ini. Cuma, menariknya Chipset ini mampu. Multitasking hayo, main Asphalt 8: Airborne dengan grafis tertinggi juga jalan.

Salah satu yang penting di era informasi ini adalah berselancar di dunia lain. Bagaimana Redmi 4A dengan 2GB RAM-nya mengatasi browser berat macam Chrome?

Cukup saja. Tapi lebih baik dari Redmi 3 Prime. Membuka Chrome pada awalnya terasa lambat. Setelah itu lebih mudah. Kadang halaman akan mengalami refresh saat kita membukanya lagi. Kadang langsung terbuka.

Begitu juga dengan Asphalt 8 yang coba saya bekukan. Bila sudah lama ditinggalkan, maka permainan akan memulai dari awal lagi.

Selama penggunaan, keluaran panas masih terjaga dengan baik.

Kamera

Ini juga menjadi bagian yang paling sering kena pangkas pada handphone murah. Xiaomi Redmi 4A kelihatannya tidak. Kamera belakangnya 13MP dengan bukaan lensa F/2.2. Sedangkan kamera selfie-nya 5MP dengan bukaan yang juga F/2.2.

Proses pengambilan gambar dengan Redmi 4A terbilang cepat. Fokusnya memadai. Sayangnya fitur tidak begitu. Memang ada manual. Cuma terbatas mengatur iso dan white balance. Mungkin memang Xiaomi tidak rela memberi pengaturan Shutter Speed pada seri Redmi. Eksklusif pada Mi series saja.

Bagaimana dengan hasilnya?

Tetap sama dengan Redmi 3 Prime yang cenderung pucat. Warna hijau jadi lebih muda. Ungu jadi merah muda. Untungnya fitur white balance pada mode manual dapat mengoreksinya. Sesuikan saja kondisi pencahayaan saat gambar akan diambil. Kemudian jpret!

Baterai

Bagian ini juga tidak seperti pada kakak-kakaknya. “Cuma” 3120mAh, bukan 4100mAh. Tapi.. Baterai dengan kapasitas ini cukup untuk menemani keseharian. Lemahnya ada pada pengisian daya yang keluarannya sekadar 5W. Jadi, mengisi baterai dari kapasitas di bawah 15% hingga mencapai 97% butuh waktu 2 jam 30 menit.

Lama? Begitulah. Kabar baiknya, bila kita mengisi menggunakan charger dengan keluaran daya lebih tinggi, maka kecepatan mengisi juga mengikuti.

Lain-lain

Redmi 3 Prime dan kakaknya Note 3 Pro terkendala dengan aturan TKDN. Sedangkan Redmi 4A tidak. “KaMi buatan Indonesia”, begitu Erafone bangga memasang banner pada laman promonya.

Memang bukan pabrik milik Xiaomi sih, sekadar partnership. Tapi, tidak ada salahnya-kan. Yang penting hasilnya perangkat-perangkat dari Xiaomi kini langsung bisa dinikmati 4G LTE nya. Selot yang disediakan adalah dual sim (Micro dan Nano), sayangnya banci. Alias tidak ada selot untuk micro sd khusus.

Sektor audio biasa saja. Saya tidak pernah menyukai pegeras suara yang ada dibagian belakang bodi. Keluaran suaranya lumayan kencang. Bila dipasangkan dengan earphone hasilnya juga biasa saja. Intinya no complain.

Simpulan

Mencari lemah pada jajaran Redmi kian sulit. Setelah masa “kelam” dengan Seri 3, Xiaomi memukul balik dengan seri 4 yang memiliki material lebih baik, software yang semakin matang, Chipset lebih bertenaga, dan jaringan yang tidak lagi ada kendala. Dengan Redmi 4A, Xiaomi berhasil mebuat definisi baru pada handphone murah.

Bila Redmi 4A sudah demikian impresif, bagaimana dengan Redmi 4 Prime, Redmi 4 Note-nya? Atau bahkan Mi series-nya?

***

Spesifikasi* Xiaomi Redmi 4A (Harga Rp 1.499.000 Free Mi Led)

NETWORK Technology GSM / HSPA / LTE
2G bands GSM 850 / 900 / 1800 / 1900 – SIM 1 & SIM 2
3G bands HSDPA 850 / 900 / 1900 / 2100 – Global
4G bands LTE band 1(2100), 3(1800), 4(1700/2100), 5(850), 7(2600), 20(800), 38(2600), 40(2300) – Global
Speed HSPA, LTE
GPRS Yes
EDGE Yes

 

BODY Dimensions 139.5 x 70.4 x 8.5 mm
Weight 131.5 g
SIM Dual SIM (Nano-SIM/ Micro-SIM, dual stand-by)

 

DISPLAY Type IPS LCD capacitive touchscreen, 16M colors
Size 5.0 inches (~70.2% screen-to-body ratio)
Resolution 720 x 1280 pixels (~294 ppi pixel density)
Multitouch Yes
  – MIUI 8
PLATFORM OS Android OS, v6.0.1 (Marshmallow)
Chipset Qualcomm MSM8917 Snapdragon 425
CPU Quad-core 1.4 GHz Cortex-A53
GPU Adreno 308

 

MEMORY Card slot microSD, up to 256 GB (uses SIM 2 slot)
Internal 16 GB, 2 GB RAM

 

CAMERA Primary 13 MP, f/2.2, autofocus, LED flash
Features Geo-tagging, touch focus, face/smile detection, HDR, panorama
Video 1080p@30fps
Secondary 5 MP, f/2.2

 

SOUND Alert types Vibration; MP3, WAV ringtones
Loudspeaker Yes
3.5mm jack Yes
  – Active noise cancellation with dedicated mic

 

COMMS WLAN Wi-Fi 802.11 b/g/n, Wi-Fi Direct, hotspot
Bluetooth v4.1, A2DP, LE
GPS Yes, with A-GPS, GLONASS, BDS
Infrared port Yes
Radio FM radio
USB microUSB v2.0

 

FEATURES Sensors Accelerometer, gyro, proximity, compass
Messaging SMS(threaded view), MMS, Email, Push Mail, IM
Browser HTML5
Java No
  – DivX/Xvid/MP4/H.265 player
– MP3/WAV/eAAC+/FLAC player
– Photo/video editor
– Document viewer

 

BATTERY   Non-removable Li-Ion 3120 mAh battery

 

MISC Colors Gold, Rose Gold

*spesifikasi diambil dari gsmarena.com

13 thoughts on “5 Hari Bersama Xiaomi Redmi 4A

  1. minta bantuan pakar xiomi.saya pake xiomi redmi4a saat di isi daya sering mati pengisian daya,harus beberapa kali masukin carjer daya.gimana caranya biar satu kali masukin carjer daya terus mengisi . terimakasih sebelumnya……

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.