5 Jalan Masuk Uang

UANG memasuki kantong orang-orang yang bekerja. Tidak bekerja, uang tidak mau masuk. Semakin giat bekerja, semakin keras bekerja, semakin banyak juga uang yang masuk. Selalu begitu? Tidak juga. Orang-orang yang uang memasuki kantongnya lewat gaji—seperti saya, tidak peduli sekeras apa, sekreatif apa bekerja, tiap bulan uang tidak mau mengajak temannya yang lain. Jumlahnya tidak bertambah—bahkan bisa berkurang karena terlambat, tidak masuk, atau lain sebagainya.

Jika tidak puas dengan jumlah uang yang masuk tiap bulannya, apa yang sebaiknya dilakukan?

***

pict by: jasonlehq.com
pict by: jasonleehq.com
Kuadran Arus Kas ala Kiyosaki

Robert T. Kiyosaki—penulis buku best seller Rich Dad Poor Dad—menjelaskan Arus kas dalam buku keduanya (yang juga best seller) Cash Flow Quadrant: Panduan Ayah Kaya menuju Kebebasan Finansial. Tidak, saya tidak tertarik menuju bebas finansial, kalimat itu terlalu wow dan sarat marketing. Kalau memang sudah bebas finansial, bagaimana rasa harap dan takut kita terhadap Tuhan?

Tapi, idenya membagi uang masuk ke 4 jalan yang berbeda menarik perhatian saya: Employee, Self Employed, Business Owner, dan Investor.

Jalan Pertama: Employee

Ini jalan yang sedang saya tempuh. Juga para PNS, para karyawan, dan semua orang-orang yang bekerja untuk orang lain—atau lembaga. Di jalan ini tidak ada kejutan, uang rutin masuk setiap bualn dengan jumlah yang sama. Selain gaji, uang juga rutin masuk melalui bonus tahunan, THR, Gaji ke-13, atau komisi atas penjualan—seperti saya.

Apakah orang-orang di sini bisa kaya? Sangat bisa. Di jalur ini ada jenjang karir, semakin rajin, semakin giat, biasanya ada peluang untuk naik jabatan. Yang berarti juga uang akan lebih banyak masuk. Di kantor saya sekarang ini juga ada (bahkan banyak) cerita heroik. Dulunya dari kampung, modal motor butut, sekarang sudah punya rumah, punya mobil, hidup berkecukupan.

Tapi, apapun jabatannya, di jalur ini karakternya sama: Kalau berhenti bekerja, uang ogah masuk ke kantong.

Jalan Kedua: Self Employed

Jalan ini ditempuh oleh para entertain, dokter, desiner (pakaian, web, printing), developer aplikasi, arsitek, konsultan, ahli bangunan, pengacara, penulis, blogger, youtuber, videographer, fotografer, trainer, ustadz, pedagang skala kecil, driver lepas, dan semua orang-orang yang bekerja untuk dirinya sendiri. Tidak punya bos, merekalah bosnya. Meski, kadang tidak memiliki anak buah.

Semakin mereka bekerja keras dan cerdas, maka uang tanpa ragu akan memenuhi saku-saku mereka. Di jalan ini uang masuk karena keahlian yang dimiliki. Biasanya khusus. Orang-orang di sini juga perfeksionis. Dan memang mereka dibayar karena hasil kerja mereka yang profesinal.

Mereka berbeda dengan jalan pertama. Bila employee bekerja untuk orang, mereka memiliki pekerjaan itu. Beberapa employee yang tidak puas dengan tempatnya bekerja, mencoba menjadi self employed. Mendirikan perusahaan sendiri, menjual barang sendiri, membuka praktek sendiri, mencari klien sendiri, memasarkan diri dan produknya sendiri. Bila tidak meninggalkan tempatnya bekerja, mereka mencari sampingan. Menancapkan kaki pada sisi yang sebenarnya sama dengan yang mereka kerjakan dulu.

Apakah orang di sini bisa kaya? Jelas bisa. Tapi, di sisi ini, karakternya masih belum berubah: Kalau berhenti bekerja, maka uang juga tetap ogah masuk.

Jalan Ke Tiga: Business Owner

Inilah jalan impian. Jalan yang sama sekali berbeda dengan Employee dan Self Employed. Employee bekerja untuk mereka. Self Employe yang bijak, akan berjalan menuju mereka. Contohnya dokter. Awalnya buka praktek sendiri, tapi kalau bekerjasama, membuat jaringan, lama-lama akan jadi klinik, kemudian rumah sakit, dan akhirnya memiliki rumah sakit dimana-mana dengan sistem yang sama.

Bila Self Employed berfokus pada product, Business Owner berfokus pada Sistem. Para self employed mungkin bisa membuat produk yang lebih bagus, lebih enak, lebih hebat dari produk busines owner. Tapi, belum tentu sistem penjualannya, distribusinya, pengambilan bahan bakunya, penyimpanannya, sistem kerjanya, dan lain sebagainya.

Kiyosaki bilang, Business Owner adalah mereka yang bila meninggalkan bisnisnya selama 1 tahun, bisnis itu tidak akan bubar, bahkan akan tetap menghasilkan keuntungan buat meraka. Bisnis di sini skalanya Nasional dan Multi Nasional. Yang punya Djarum, yang punya Gudang Garam, yang punya Sinar Mas, yang punya Trans Corp, yang punya MNC, yang punya Indo-Indo-an (Salim grup maksudnya),yang punya Astra, yang punya Kompas, yang punya Jawapos, yang punya Datascrip (ehm), yang punya Sayap (wings gitu), yang punya maret-maret-an, yang punya daqu …. Dan semua yang punya sistem bisnis serta memperkerjakan ratusan orang masuk ke jalan ini.

Di sini karakternya berbeda.

Uang masuk lewat aset-aset yang sudah dibangun dan dimiliki oleh para B ini. Di sini, “tidak bekerja” uang tetap akan mengalir.

Bisakah bisnis tipe ini jatuh? Tentu bisa. Bahkan perusahan Kiyosaki sendiri dinyatakan bankrut pada tahun 2012.

Jalan Ke 4: Investor

Bila menyebut jalan ini, Nama Erick Thohir menguap dari ingatan saya. Tahun 2013 ia membeli 70% saham Inter Milan—klub bola yang punya banyak fans di Indonesia. Hingga sekarang ia menjadi Presiden klub biru hitam itu. Sebelumnya ia juga membeli saham dari klub bola Amerika DC United, Klub NBA Philadelphia 76ers.

Investor menanamkan uangnya ke orang-orang B. Mereka lebih nyaman memberi modal kepada orang yang tahu bedanya produk dengan sistem. Selain menanamkan uang ke perusahaan, mereka berinvestasi ke komoditas, real estate, atau juga bursa saham.

Apakah orang-orang B bisa langsung menjadi Investor yang baik? Tidak selalu. Apakah orang-orang ini bisa jatuh? Sangat bisa. Cerita tentang morat-maritnya pasar saham Tiongkok beberapa bulan lalu menjadi contoh jelasnya.

Jalan Ke 5

Secara umum uang masuk melalui 4 jalan itu. Keempat jalan menuntuk kita aktif bekerja. Meski prakteknya akan sangat berbeda sekali. Jalan manakah yang lebih baik? Semua ingin kaya, semua ingin bahagia. Kabar baiknya semua bisa dicapai di masing-masing jalan itu. Tapi, tentu ada syarat nya. Syarat itulah yang membawa kita ke jalan nomor 5: Taqwa.

“… Barangsiapa bertaqwa kepada Allah, niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan keperluannya…”

(Al-Qur’an Surat At-Talaq ayat 2-3).

Itulah jalan ke 5: Rezeki dari arah yang tidak di sangka-sangka. Cerita heroik di sini juga tidak kalah banyak. Tukang bubur yang bisa naik haji contoh santernya. Cerita Wito yang menjemput surga juga layak menjadi inspirasi. Dan mungkin kita juga pernah (atau bahkan sering) mengalaminya.

***

Sekian dulu. Selamat berakhir pekan. Semoga bermanfaat.

 

Salam,

diki septerian

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.