7 Hari Bersama OPPO F1 Plus

oppo-f1-plus-oneplus-x-vivo-v3-y21-01

Handphone mahal atau kemahalan?

***

Ada tiga hal yang menjadi pertimbangan saya sebelum meminang handphone: (1) rasio harga & spesifikasi, (2) desain & kualitas pengerjaan, dan (3) software. Ketiga hal itu mengerucut menjadi satu sebenarnya: pengalaman pengguna.

Dan, setelah menggunakan berbagai jenis handphone, saya sampai pada kesimpulan seperti ini:

Handphone 1 jutaan (Lenovo a2010) biasanya masih banyak kompromi. HP 1,5 jutaan (vivo Y21) terasa lebih baik, meski terbatas di sana-sini. HP 2  jutaan (Hisense Pureshot, Flash Plus 2, Xiaomi Redmi 3 Prime) mulai bisa diandalkan. Sedangkan HP di rentang 2,5-3,5 juta (Oneplus X, vivo V3) adalah sweet spot-nya. Bila ada HP dengan harga di atas itu rasanya berlebihan.

Tapi, meminang hp ternyata seperti cinta yang kadang-kadang tidak ada logika. Buktinya ini: saya membeli barang yang dihargai Rp 5,5 juta. Tanpa logika, tanpa pikir panjang. Lebih kepada emosi jiwa. Ouch.

oppo-f1-plus-ds-10

***

OPPO itu merk baru harga belagu. Sekitar dua tahun lalu teman saya berkomentar begitu. Kata-katanya bukan tanpa alasan. OPPO Find 7 kala itu dihargai Rp 7 juta. Harga yang sungguh sangat mahal, bahkan untuk ukuran saya saat ini.

Hari berlalu, tahun berganti. Nyatanya OPPO masih ada di Indonesia, bahkan katanya menjadi vendor ponsel dengan penjualan ketiga terbesar di negeri tercinta ini. Di negeri asalnya-pun tidak kalah menarik. Tahun 2016 OPPO berhasil menggeser tahta Huawei sebagai raja ponsel di sana.

Kok bisa? Ok, kita tidak akan membicarakan strategi yang begitu terang benderang dari OPPO (iklan di mana-mana, toko di mana-mana, brand ambasador terkenal, pendekatan ke para penjual, dll) tapi strategi jangka panjangnya: Build Quality.

OPPO benar-benar menyadari, segala macam marketing itu tidak akan berhasil bila produknya sendiri tidak istimewa. Dan, untuk menajamkan strategi itu, OPPO mengkerucutkan kekuatannya pada kualitas kamera. OPPO tidak lagi bertarung di kelas atas, ia fokus di kelas menengah dengan selalu menonjolkan jargonnya sebagai Camera Phone. Puncaknya lahir generasi F1 dengan jargon Selfie Expert, ahlinya swafoto.

Mantra itu berhasil, buktinya generasi F1 berlanjut terus. OPPO F1, F1s, F1s versi terbaru (Ram 4GB internal 64GB), kemudian ratunya yang saya gunakan untuk menulis artikel ini: OPPO F1 Plus.

oppo-f1-plus-ds-09

***

Oke, cukup cerita sejarahnya. Sekarang kita lanjut ke handphone yang saya tidak pernah kepikiran untuk membelinya.

OPPO F1 plus sekilas sama dengan generasi terbarunya F1s. Sama-sama 5.5 inchi, sama-sama memiliki RAM 4GB dan memori internal 64GB. Kameranya juga 13MP di belakang, 16MP di depan. Tapi… lihat lagi.

Tebalnya hanya 6.6mm. Tepian layarnya sangat tipis. Teknologi layarnya amoled dengan resolusi Full HD.

Saya belum pernah menyentuh F1s, tapi mengenggam F1 Plus rasanya seperti mengenggam permata. Kualitas pengerjaannya bukan main-main. Kecerahan, keluasan, dan akurasi warna pada layarnya luar biasa. Saya tidak pernah menyangka mengenggam handphone 5,5 inchi bisa seenak ini.

Apalagi yang menarik? VOOC charging nya itu loh! Bukan sekadar marketing. Kabelnya beda, ujungnya juga, berwarna hijau di dalam dengan konektor yang lebih banyak. Cukup dengan mengisi 40 menit bisa sampai 90%. Aseli fitur ini yang saya rindukan ada pada neng V3.

vooc-oppo-f1-plus-01

Tidak fair rasanya kalau tidak membahas kameranya. Speknya tidak umum, 16 depan 13 belakang. Lensanya juga begitu f/2.2 belakang, f/2.0 di depan. Namun, tren sepertinya akan berbalik. Kamera depan adalah kamera utama! Lihat saja generasi vivo terbaru, generasi A-nya Samsung, semuanya kejar-kejaran.

Tidak ada yang kurang dari fitur kameranya. Expert, GIF, ultra hd, panorama, double exposure, time lapse. Bahkan ada yang istimewa: RAW file.

oppo-f1-plus_screenshot-review-diki-23

RAW seperti pada DSLR itu? Bisa dibilang begitu. Jenis filenya bukan file hasil masakan seperti .jpg, melainkan .dng dengan besar 1 filenya mencapai 25MB (normal 4MB). Bagaimana kenyataannya?

Dengan mode biasa, langsung foto fokus ke objek (ayam).

oppo-f1-plus-ds-12

Dengan Mode Expert RAW: ON (sudah di edit dan di export ke jpg).

oppo-f1-plus-ds-13

Dengan Mode HDR.

oppo-f1-plus-ds-14

Pengambilan gambar model di atas termasuk yang susah-susah gampang. Karena ada cahaya sangat terang dari belakang. Biasanya dalam kondisi ini kita memilih mana yang mau diexpose: Objek atau Latar? Tapi dengan teknik HDR dan editan RAW, situasi seperti itu (seharusnya) bisa diatasi, dua-duanya bisa kita expose.

Oh iya, dengan RAW warna asli lebih terlihat (warna ayam memang merah muda, bukan merah seperti pada mode biasa).

Bagaimana dengan kamera depannya?

oppo-f1-plus-ds-02

Silahkan dinilai sendiri hasilnya. Yang bisa saya katakan proses pengambilan gambar dengan OPPO F1 Plus menyenangkan. Fokus cepat, fitur melimpah, hasil memuaskan (meski cenderung lebih jenuh warnanya).

***

Mediatek 6755 dengan 8 Cortex-A53 berkecepatan 2.0GHz menjadi penyokong handphone yang juga memiliki pemindai sidik jari ini. Semua prosesornya tipe hemat daya, bukan power layaknya Cortex-A72/A73. Konstruksi chipset yang dikenal dengan Helio P10 ini masih 28nm. Ketinggalan dari Si Naga 625 yang sudah 14nm.

Bahasa manusianya?

Jangan harap bisa main game dengan grafis tingkat dewa lewat handphone ini. Loh, kan RAM nya 4GB? RAM itu ibarat meja, makin luas makin banyak yang bisa dikerjain sekaligus. Tapi tetap tergantung siapa yang mengerjakan. GPU-nya, Otaknya. Dalam hal ini si Mali-T860MP2 yang berotak dua.

Saya mencoba memainkan Asphalt 8: Airborne dengan pengaturan grafis tertinggi hasilnya … Nge-lag. Patah-patah. Baru halus dan lancar bila grafis diturunkan menjadi medium.

Kok bisa? Padahal adreno 405 pada vivo V3 juga bukan kelas gamer. Resolusi layar jawabnya. Kerja adreno 405 tidak dipaksakan menampilkan grafis Full HD, sedangkan pada F1 Plus si Mali tadi di push agar mampu menjalankannya.

Cuma, kabar baiknya… multitasking bukan masalah. Scrolling juga cepat. Ditambah lagi Color OS 3.0 yang memang minimalis. Sekadar berpindah-pindah aplikasi sih perkara enteng. Wuss… wuss… rasanya.

oppo-f1-plus_screenshot-review-diki-22

***

Android Lollipop itu sudah ketinggalan jaman. Kini Nougat mulai menyebar, meski Marshmallow belum sepenuhnya diadopsi oleh para vendor.

Software jadul itu yang mendasari OPPO F1 Plus. Color OS 3.0 OPPO menyebutnya. Tampilannya seperti IOS. Ikon-nya, multitasking nya. Aplikasi bawaannya sudah saya singgung tadi minimalis, dan memang saya lebih suka yang kayak begini. Meski minimalis bukan berarti miskin fitur. Berbagai macam gesture terdapat di sini.

***

OPPO F1 Plus memang barang bagus. Siapapun yang menyentuh, memandang, dan mencoba si ahli swafoto itu meng-iya-kannya. Yang mencuat adalah kualitas pengerjaannya, keakuratan dan ketajaman layarnya, kualitas dan fitur RAW pada kameranya, serta bonus di VOOC charging yang selalu dapat diandalkan.

Cuma, dengan kehadiran penantang serius dari saudara dekat, vivo V5 Plus, serta kehadiran A series-nya Samsung (dengan bonus IP68-nya), membuat harga Rp 5,5 juta mau tidak mau harus dikoreksi. Bila tidak, OPPO F1 plus butuh lebih dari sekadar kedipan Raisa untuk membantu penjualan para penjaja di garda terdepannya.

Fitur Split Video.
Fitur Split Video

***

Catatan lain,

  • Fingerprint tidak always on. Tidak bisa sekadar sentuh lalu hidup, harus menekan tombol baru aktif. Baiknya, sangat responsif.
  • Tidak ada fitur double tap to screen off.
  • Tidak ada fitur glance screen.
  • Long screenshot dapat dilakukan dengan menekan tombol power+volume atas secara bersamaan. Screenshot biasa dengan menyapu 3 jari ke bawah sekaligus.
  • Ada lampu led notifikasi di sebelah proximity sensor. Putih pendaran cahanya.
  • Tombol back dan multitasking juga memiliki lampu led, sehingga menyala bila disentuh.
  • Sudah dilengkapi dengan antivirus. Kerjasama dengan avast sepertinya.
  • Performa GPS cukup cepat.
  • Baterai 2850mAh mampu menemani saya selama seharian (aktivitas kantor >10 jam).
  • Bisa menonton video sambil membuka aplikasi yang lainnya.
  • Bisa OTG.

***

Spesifikasi OPPO F1 Plus

 

OPPO F1 Plus

Harga

Rp 5,5 Juta

Display

5.5 Inchi

Amoled Full HD

Gorila Glass 4, 2.5D

Ukuran

151.8x74.3x6.6 mm

Chipset

MediaTek MT6755

Memori

RAM 4 GB

Internal 64 GB

Slot

Dual Nano-SIM Cards

Or Nano-SIM Card and microSD Card

Jaringan

GSM: 900/1800MHz

WCDMA: 900/2100MHz

FDD-LTE: Band 1/3/5/8

Koneksi

Bluetooth 4.0

USB 2.0

OTG

Wi-Fi 2.4Ghz/ 5Ghz

Kamera

Belakang 13MP, f/2.2

Depan 16MP, f/2.0  

Audio

Dirac HD

Baterai

2850 mAh (Non-removable)

Quick Charging (VOOC)

Warna

Emas (depan putih)

OS

Android 5.1 Marshmallow

Color OS 3.0

Sensor

Kompas Elektronik

Ambien Light

Proximity

Accelerometer

Gyro

Isi Kotak

OPPO F1 Plus

In-ear type earphones

Kabel Micro USB

VOOC Flash Charger mini

SIM ejector tool

Buku Panduan

Case

Service

Tersebar seluruh Indonesia

Salam,
diki septerian

3 thoughts on “7 Hari Bersama OPPO F1 Plus

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.