AC Baru Seharga Rp. 79.000

kipas berdiri

CUACA Kota Depok saat ini memang membuat sulit orang Desa Selaawi. Gerah sepanjang hari. Fakih dan Mamanya—dia sekarang lebih sering menyebut Mama daripada Mbu—benar-benar tidak betah. Tidur malam Fakih tidak pernah senyenyak di sana. Semalam lebih dari 5 kali bangun. Minta di kipasin, minta minum, minta enen. Ayah dan Mama-nya bergantian menjadi tukang sate tiap malam. Tapi, malam kemarin lain. Fakih bisa tidur nyenyak seperti di tanah kelahirannya. Malam itu ada sesuatu yang baru di ruang tidurnya: “AC” seharga Rp. 79.000.

***

Kipas angin berputar terus. Bahkan selepas libur lebaran, dua kipas angin yang menyala: Satu yang berdiri, satu yang menempel di-dinding. Tidak mempan juga. Malahan Fakih masuk angin. “Sepertinya AC benar-benar harus dimasukkan dalam anggaran”, tekad saya kepada istri di suatu malam.

Saya mencari-cari informasi. Teman-teman kantor bilang, AC yang recomended itu Daikin. “Yang ½ PK harganya 2,8 juta. Model biasa bukan inverter. Ongkos pasang dan braket 350 ribu.”, ujar seorang teman yang baru saja mengganti AC nya setelah delapan tahun. “Iyalah dik, AC sekarang bukan lagi barang mewah, tapi kebutuhan, kamu emang nggak kasian sama anak?” Begitu dia menambahkan.

Melihat kondisi Fakih setiap malam, siapa juga yang tega. Tapi, setelah pencarian dan diskusi saya masih belum beraksi nyata: belum ada tempat elektronik yang saya datangi. Ada 3 ganjalan yang membuat saya tertahan. Pertama, belum ada uang. Masalah klasik, tapi bila sesuai rencana, tidak lama lagi saya akan bisa membeli AC Daikin yang katanya bagus itu. Insya Allah. Kedua, listrik yang terbagi dua. Ini yang sulit. Listrik di rumah ini memang ditanggung oleh saya dan tetangga. Di awal bulan biasanya kami berbagi angka. Hmm… sebenarnya simpel sih, kalaupun tambah AC, saya tinggal membayar lebih. Ketiga, ragu. Jangan-jangan walaupun AC sudah terpasang, Fakih tetap tidak bisa tidur nyenyak. Ini yang belum terpecahkan. Bisakah saya simulasi dulu? Kalau bagus jadi pasang, kalau tidak ya tidak … Bisa, buat lo apa sih yang enggak! Haha … ngimpi aje lo kerjanya… bangun!

***

kipas gantung_3

Ternyata simulasi benar-benar bisa dilaksanakan. Bukan pakai AC ½ PK tapi dengan Ceiling Fan 60 cm. Teman saya yang menyarankan. “Sebelum pasang AC, coba dulu pasang Kipas Gantung. Yang kecil, ngaitnya aja cuma pake paku ulir yang biasa buat gantungan burung.” Ingatan saya langsung tertuju ke kamar rumah dinas di Padang dulu. Benar pakai itu, dalam hati. “Tapi kan berisik”, sergah saya. “Berisik kalo pasangnya nggak kenceng, kalo kenceng nggak”, jawabnya yakin.

Dia yakin karena tetangga-tetangga yang datang ke rumahnya berkomentar positif, “dingin juga ya, gimana cara pasangnya?” Bahkan sampai ada yang minta tolong untuk dipasangkan. Ide memasang kipas gantung dia dapatkan saat sholat dzuhur di salah satu mushola kecil tak berventilasi baik. “Loh, kok dingin ya”, dia keheranan. Ternyata penyebabnya adalah kipas kecil yang digantung di langit-langit.

Ide itu menggugah saya. Jum’at malam kemarin saya kerjakan. Beli kipasnya juga di toko elektrik dekat rumah. Ternyata ada 3 macam ukuran. Paling kecil Rp. 35.000, di atasnya Rp. 50.000, di atasnya lagi Rp. 70.000. Saya tidak tahu mana yang dimaksud teman saya. Tapi, setelah melihat (dan memegang) kipas seharga 50 ribu dan 70 ribu, saya pilih yang 70 ribu. Lebih besar, dan lebih awet sepertinya. Saya juga membeli kabel tambahan sepanjang 4 meter dan klem untuk menempelkan kabel itu di dinding dan paku ulir berbentuk tanda tanya. Total Rp. 79.000 saja.

Mengerjakannya mudah, asal alatnya lengkap. Kursi atau tangga untuk menjangkau langit-langit. Tang untuk mengencangkan paku ulir. Palu untuk memasang klem. Gunting dan lakban hitam untuk menyambungkan kabel. Serta kawat atau tali keset (saya pakai rafia) untuk menguatkan gantungan kipas ke paku ulir. Itu saja, bagian krusial ada di gantungan itu, bila tidak kencang ia akan goyang dan berisik.

kipas gantung_1

Kipas saya posisikan tidak di tengah, melainkan sejajar dengan kaki. Hembusannya luar biasa, menjalar hingga ke kepala. Daya-nya rendah hanya 20 watt, setengah dari kipas berdiri yang selama ini saya gunakan. Merknya antah berantah: Niga. Awet? Belum bisa dipastikan. Semoga.

***

kipas sate

Maafkan, bila judul dan isi tulisan tidak sesuai dengan harapan. Kipas angin gantung tetap tidak bisa menurunkan suhu seperti layaknya AC. Tapi dua benda itu bertujuan sama: Agar membuat penggunanya nyaman. Dan ternyata, cukup dengan “AC” seharga Rp. 79.000 itu yang membuat saya dan istri pensiun sebagai tukang sate di malam hari.

Semoga bermanfaat.

Salam,

diki septerian

 

 

2 thoughts on “AC Baru Seharga Rp. 79.000

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.