AC-nya Dingin, Tapi Boros

Tahun lalu, Januari 2018, saya membeli AC Daikin. ½ PK. Made-in Thailand.

Sekarang rasanya tepat, untuk berbagi pengalaman. Tentang barang yang seumur hidup tidak pernah saya miliki itu.

Saya tidak punya pengetahuan apapun tentang AC. Sampai tahun lalu, Air Conditioner itu masih saya anggap barang mewah. Bukan kebutuhan.

Hingga akhirnya muncul promo di situs belanja daring favorit saya. Lalu saya mulai sibuk. Mengumpulkan informasi. Dari sana sini. Hingga bulat keputusan.

Pengalaman teman-teman

Salah seorang teman bilang, Merk AC yang paling OK ya Daikin. Dia sendiri pernah punya pengalaman dengan AC merk Tiongkok, Changhong. Yang ternyata bertahan hingga 10 tahun lebih. Setelah itu ia mengganti AC-nya dengan Panasonic ½ PK. Entah tipe yang mana. Lalu dia kecewa. Mengapa dulu tidak memakai Daikin saja. Sesuai keyakinannya.

Bos saya juga menyarankan hal yang sama. Setelah 10 tahun menggunakan AC Mitshubishi ¾ PK, ia akhirnya beralih ke Daikin ½ PK x 2. Lebih irit katanya.

Teman yang memasang 2 AC di rumahnya memiliki pengalaman lain. AC Daikin yang baru ia beli tidak memuaskan. Setelah di servis, kembali tidak dingin lagi. Sedangkan AC satunya, merk LG, aman-aman saja.

Saya dibuat ragu. Padahal promo tidak bisa menunggu.

review ac daikin
Ceritanya Unboxing AC, ini unit Indoor-nya

Review tukang Servis

Ada tukang servis, yang memiliki saluran di YouTube. Darinya saya belajar tentang trik-trik tukang service AC.

Ternyata dia pernah mengulas tentang AC Daikin. Dia senang sekali bila mendapati AC rumah yang di servis adalah Jenama asal Jepang itu. Karena bagus material-nya.

Sebenarnya, bos saya juga bilang, tukang servis AC langganannya-lah yang menyarankan untuk beralih ke Daikin. Karena Mitsubishi sudah renta dan listriknya jadi boros sekali.

harga ac daikin
hemat energi?

Menentukan Pilihan

Akhirnya saya memutuskan untuk membeli AC Daikin. Tipe Split. Unit Indoor-nya FTNE15MV14, sedangkan Outdoor-nya RNE15MV14. Dengan tipe Freon R401A. Harga ke dua unit itu Rp 2.869.000. Agar AC itu bisa terpasang, saya harus membeli aksesoris tambahan. Kabel, selang, dudukan, dan semacamnya. Harganya Rp 400.000.

Selesai?

Belum … Kan AC itu belum di pasang. Ongkos pasang AC dipatok Rp 200 ribu. Jadi, total jenderal saya mengeluarkan uang Rp 3,6 juta untuk menikmati malam-malam nan dingin (Kira-kira loh ya, karena kabel dan terminal untuk power belum tersedia di paket material AC itu).

Aksesoris pasang ac daikin
Paket material untuk pasang AC

Malam pertama

Saat mendebarkan itu pun tiba. Malam pertama saya dan keluarga bersama AC. Saya ambil remote, lalu nyalakan. Saya tidak mengerti ikon-ikon yang ada di remote sederhana itu. Untung ada buku petunjuk.

Awalnya, saya setel suhu 25oC. Dengan kekuatan angin sedang. Dan Posisi Ikon bintang es. Setelah beberasa saat ruangan menjadi sejuk. Namun, tengah malam saya kedinginan. Suhu saya naikkan jadi 26oC, dan kekuatan angin terkecil. Kisi-kisi saya biarkan naik-turun.

Alhasil, lumayan. Suhu kamar terasa pas. Tidak panas dan tidak juga terlalu dingin. Besoknya saya ceritakan pengalaman ini.

Teman yang tidak jadi beli Daikin, mengiyakan, “iya seharusnya begitu. AC ada termostat, kalau sudah mencapai suhu ruangan yang di remote, dia standby.”

Ada juga teman lain yang memakai AC Polytron menyangsikan, “Ah masa’? 26oC udah dingin?”

ac daikin ftne15mv14
Sudah di pasang, tampilannya jadul banget yah

Boros Listrik

Malam-malam yang saya lalui memang menjadi nyaman. Tidak lagi terdengar deru kipas angin. Anak-anak relatif lebih lelap. Cuma, saya deg-degan. Mengapa meteran listrik cepat sekali berkurangnya.

Listrik di rumah sudah menggunakan sistem token, atau prabayar. Jadi saya dapat mengamati laju penurunan setiap harinya dengan mudah.

Biasanya sehari hanya menghabiskan 4 kWh. Sejak menggunakan AC, mencapai 8 kWh. Kira-kira terjadi kenaikan 2 kali lipatnya.

Penyebabnya jelas barang elektronik baru yang terpasang, si Daikin itu. Tapi kok bisa 2 kali-nya?

Salah sendiri

AC punya daya dan keluaran yang harus disesuaikan. Dengan dimensi ruang dan banyaknya orang. Pilihan saya jatuh ke ½ PK, karena ruangan yang akan dipasangkan AC tidak lebih besar dari 3×5 m (dan tinggi kira-kira 3,5 meter).

Masalahnya, ruangan itu tidak tertutup. Terjadi kebocoran. AC yang seharusnya tenang ketika mencapai suhu ruang, tidak terjadi. Terus saja meraung. Mungkin dia berpikir, kok tidak kunjung sampai juga, nih. Kondisi pemakaian seperti ini yang membuat listrik naik hingga 2 kali. Hipotesa saya.

outdoor ac daikin r401a
outdoornya nampak gagah?

Lalu harus bagaimana?

Ya … sementara saya biarkan saja. Toh ruangan yang benar-benar tertup belum punya. Beharap saja semoga AC itu awet hingga 10, 15, 20 tahun mendatang. Jadi saya bisa melakukan review lagi. hehe …

Bagaimana dengan perawatan?

Saya disarankan 3-4 bulan sekali untuk mencuci. Bagian Indoor maupun Outdoor-nya. Kalau mau repot ya cuci sendiri, dengan alat-alat yang dapat dibeli bebas. Kalau tidak, ya seperti saya yang biasa memanggil tukang.

Mereka cepat, tidak sampai 30 menit selesai. Setelah dibersihkan, yang paling terasa adalah hembusan anginnya: lebih kencang. Padahal kekuatannya masih sama, yang paling kecil.

Saya anggap itu wajar. Seperti halnya kipas angin yang sudah penuh debu. Anginnya tertahan, namun setelah dibersihkan kembali normal.

Spesifikasi AC Daikin FTNE15MV14, RNE15MV14

  • AC Split non inverter
  • Menggunakan refrigeran R-410A
  • Panel datar yang mudah dibersihkan
  • Tingkat suara lebih rendah
  • Mode setelan malam
  • Auto restart setelah listrik padam
  • Outdoor anti korosi
  • Konsumsi Daya 390 Watt
  • Dimensi Indoor 273x784x195
  • Dimensi Outdoor 418x695x244
  • Berat Mesin Indoor 8 kg
  • Berat Mesin Outdoor 21 kg
  • Garansi AC 1 tahun, *kompresor 3 tahun (3 tahun spare parts, 1 tahun service)

Jadi bagaimana dengan akang sekalian? Ada yang punya AC andalan, yang sejak bertahun-tahun dipakai tapi belum rusak-rusak, atau bahkan Freon tidak pernah ditambah-tambah?

Catatan

* Made-In-nya Thailand. Bukan Malaysia, atau Indonesia. Untuk bedanya, ini jawaban dari cs tempat saya membeli Hi, untuk Daikin buatan Thailand dan Malaysia berbeda di bahan kuningan di dalam unit indoor nya. Buatan Thailand lebih kokoh dan lebih awet dibanding buatan Thailand. Model fisiknya juga berbeda. (Mungkin maksudnya lebih kokoh daripada buatan Malaysia).

**Saya lihat di situs resmi Daikin Indonesia, tipe ini sudah tidak ada, Alias discontinue.

***untuk merk-merk AC lain yang saya sebutkan, tidak ada maksud untuk menyudutkan, karena kondisi masing-masing berbeda (mungkin juga unit-nya butuh di servis, seperti Daikin teman saya yang ternyata bocor halus di indoor-nya).

Terima kasih dan Salam,

diki septerian

Tinggalkan Balasan