Belajar Fiqh Prioritas

RAMADHAN mendekati akhirnya. Hari ke-27. Banyak yang mengincar malamnya. Tidak berbeda dengan orang-orang yang datang ke Masjid BI ini. Tumpah Ruah. Pantia juga tidak kalah serius menyiapkan segala sesuatunya. Kejutan pertama datang saat menjelang berbuka: orang-orang Qatar ikut berbuka dan berpartisipasi (dana) menyukseskan i’tikaf ini.

Alhamdulillah, hari itu saya sempat memegang nasi kotak. Walau akhirnya tidak jadi memakan isi nya. Saya lewatkan beberapa, hingga akhirnya tidak lagi ada yang tersisa. Sebelah kiri saya dapat, dua orang sebelah kanan saya juga. Tidak apa-apa, saya sudah menyiapkan hati untuk ini. Uhuk-uhuk.. lebay.

Sholat Maghrib, mandi, kemudian menunggu Isya. Selesai sholat, pantia berdiri, memberikan pengumuman seperti biasa. Namun menyelipkan kejutan: sholat witir akan dipimpin oleh ustad Tifatul Sembiring. Ouw… mantap. Berarti malam ini i’tikaf bareng dengan mantan menteri itu. Pikir saya.

 

Beberapa hari

Sholat Isya berjalan dengan syahdu. Nikmat. Setelah itu kultum. Ustadnya membawa tema “Ayyammam ma’dudats”. Tentang beberapa hari yang terhitung. Disampaikan dengan sangat baik, disertai selingan humor yang pas. Sang ustad memulai dengan pernyataan, “bila melihat jamaah seperti ini,rasanya ingin ramadhan ditambah menjadi 2 bulan. Setuju?” Jamaah mengiyakan. Lalu, ustadnya menolak. Lah? Ia lalu menjelaskan, Allah itu menurunkan syariatnya sudah terhitung. Pas, tidak berlebihan tidak kekurangan. Jadi, biarlah ramdhan tetap satu bulan. Kitalah yang harus meningkatkan amalan. “Ayyammam ma’dudats” sebagai motivasi, ketika sedang tilawah, sedang qiyam mengantuk, ingat beberapa hari lagi. Ingat batas, mengapa orang pergi ke mekkah itu padat jadwal, mau ke sini ke sana. Karena mereka terbatas, tidak selamanya berada di sana.

Ustad itu menutup ceramahnya. Dilanjutkan dengang sholat taraweh. Sholat juga berjalan santai, syahdu. Nikmat. Selesai di rakaat ke delapan. Saya keluar. Tidak melanjutkan witir. Iya dong, kan nanti witirnya sama ustad Tifatul. Saya berjalan menemui tukang soto. Makan selesai, tetapi yang witir belum selesai. Kok ada Qunut Nazilahnya juga. Kepo. Saya bergegas kembali ke dalam masjid. Ternyata eh ternyata …

 

Sholat witir telah selesai. “bacaannya bagus ya”,kata seorang bapak berbicara dengan temanya. Di ruang utama, saya lihat orang-orang sedang berbaris, menyalami sang imam. Ada juga yang minta foto bersama. Ternyata … witir yang dimaksud pantia adalah witir setelah taraweh. Imamnya tadi adalah ya ustad Tifatul sendiri. Hahaha Rasain tuh soto! So sad, but no big deal. I’tikaf must go on. (tapi, rada nyesek juga sih. Kenapa saya berimajinasi witirnya nanti pas tahajud. Duh..)

 

Merangkum kajian Fiqh Prioritas

Tema kajian i’tikaf di masjid BI tahun ini adalah Fiqh Prioritas. Dibawakan oleh ustad-ustad yang berbeda, namun tetap berdasar pada kitab yang sama. Berikut hal-hal yang bisa saya catat dari malam ke-21, hingga malam ke-27.

  • Syariat itu islam keseluruhan. Fiqh itu pemahaman.
  • Mengetahui hal-hal syariat adalah prioritas.
  • Mengetahui perbandingan antara yang baik dengan yang baik, serta yang buruk dengan yang buruk adalah prioritas.
  • Sunnah tidak boleh diutamakan dibandingkan dengan yang wajib.
  • Sedekah ditampakkan itu baik. Disembunyikan jauh lebih baik.
  • Ucapan yang baik dan memaafkan itu lebih baik daripada sedekah dengan mengungkit-ungkitnya.
  • Mengikhlaskan harta lebih utama daripada memberi waktu tunggu hingga mampu.
  • Sibuk dengan ilmu lebih baik daripada mengerjakan hal-hal sunnah.
  • Ahli ibadah itu seperti bintang, sedangkan ahli ilmu seperti bulan.
  • Sedekah dikala sehat lebih utama daripada saat sakit.
  • Jaman terbalik, seni hiburan lebih diutamakan daripada ta’lim

Day -2

  • Prioritaskan kualitas di atas kuantitas.
  • Kuantitas itu perlu, penting, tapi lebih penting kualitas.
  • Ada kalanya kuantitas itu lebih utama. Seperti memilih calon istri, pilih yang penyayang lagi subur, di atas yang cantik, berkedudukan, tapi mandul.
  • Kuantitas bisa tercela bila tanpa akal, ilmu, iman, dan syukur.
  • Kualitas itu, kekuatan aqidah; kekuatan persatuan; kekuatan persenjataan fisik.

Day-3

  • Prioritas ilmu atas amal.
  • Surat mujadalah tentang ilmu.
  • Kisah majelis thaus bin yahya.
  • Kisah imam malik yang berhenti saat mengajar.
  • Allah, malaikat, semut yang ada dilubangnya, hewan-hewan di laut bersholawat kepada orang-orang yang mengajar ilmu kebaikan
  • Imam syafi’i: Ilmu agama paling utama karena dengannya selamat akhirat. Setelah ilmu agama adalah ilmu kedokteran, dengannya selamat dunia.
  • Barangsiapa meniti jalan menuntut ilmu, maka akan dimudahkan baginya jalan menuju surga.
  • Aktifitas menuntut ilmu adalah sebab dari lepasnya zona laknat dunia.
  • Ilmu juga yang dengannya kita diperbolehkan hasad kepada orang yang berilmu lalu mengajarkannya.
  • Keberkahan ilmu itu ada di sikap hormat kepada guru.
  • Iman tanpa ilmuà sholeh tanpa daya guna
  • Ilmu tanpa imanà tanpa setir
  • Ilmu tanpa amalà pohon tapi tidak berbuah
  • Orang yang beramal tanpa ilmu itu lebih berbahaya daripada orang yang berilmu tapi tidak mengamalkan.
  • Orang beramal tanpa ilmu daya rusakanya lebih besar. Orang lain juga bisa kena. Dan amalnya tertolak
  • Orang yang berilmu tapi tidak beramal, rusak diri sendiri.
  • Ilmu yang perlu dipelajari, ma’rifatullah; ma’rifaturrasul, ma’rifatu islam, ibadah-ibadah yang tidak bisa diwakilkan, setelah itu ilmu-ilmu lainnya.

Day-6

  • Fiqh prioritas tentan reformasi
  • Prioritas membangun individu sebelum sistem
    • Membangun iman à katakanlah aku beriman, lalu istiqomahlah
    • Membangun akal à melalui pendidikan
    • Membangun ruh à perbanyak ibadah, zikir, tilawah, sholat, dll
    • Membangun fisik à berenang (olahraga), berkuda (berkendara), memanah (beladiri)
    • Membangun akhla
  • Prioritas pembinaan sebelum jihad
    • Agar dapat menggenggam tanggung jawab risalah à Al-Muzzammil 1-5
    • Agar tidak kikir terhadap harta
    • Agar tidak takut mati
  • Pembinaan sebelum perang
  • Perjuangan pemikiran

Catatan-catatan itu hanya coret-coretan di buku saya. Masih ada malam-malam berikutnya. Ada malam yang di-skip, karena saya tidak i’tikaf di masjid BI saat itu. Maafkan bila kurang lengkap. Sesi tanya jawab malam 27 tidak kalah menarik. Banyak yang bertanya, ini yang menurut saya paling menarik:

T: Baca qur’an saat kajian? Kejar target?

J: Baca qur’an lebih utama. Karena kita diperintahkan mendengarkan saat ayat al-qur’an dibacakan. Tapi.. kasian orang sebelah kita yang ingin mendengarkan kajian. Kewajiban terhadap al-qur’an tidak hanya membaca. Ada memahami, menghafalkan, mengamalkan, mengajarkan. Jadi bukan berarti setelah selesai membaca, kita abai terhadap kewajiban yang lain.

Koreksi bacaaan imam

Ada yang menarik dari imam tahajud malam tadi. Selain bacaanya yang santai, enak di dengar. Ia mengingatkan jamaah sebelum sholat, begini: “Jika bacaan saya ada yang salah, cukup barisan depan saja yang mengkoreksi. Barisan belakang jangan ikut-ikutan.” Terus bagaimana pelaksanaanya? Masih juga yang berbicara mengoreksi imam dari barisan belakang. Entahlah … mungkin tidak sempat mendengarkan peringatan imam tadi.

Malam tadi dua hal yang mengganjal saya telah tersampaikan dengan gamblang. Pertama, mengaji saat kajian. Dan kedua mengkoreksi bacaan imam oleh barisan-barisan belakang. Entah malam ke berapa, pernah begini: saat kultum shubuh, saya kembali ke atas, saya dengarkan kajian. Tapi, ternyata di belakang saya membaca qur’an dengan suara agak keras. Saya tidak pindah tempat duduk. Hingga akhirnya kultum pun selesai, orang dibelakang saya juga selesai. Dipas-pasin dengan kultum. Apaaa … saya lalu menghadap kebelakang. Menatap dengan serius wajahnya lalu berpaling. Dia menatap heran, kemudian selonjoran, rebahan.

Sudah segitu dulu. Malam ke-27 tidak henti memberi kejutan. Kultum shubuh tadi ternyata lebih menghebohkan dari kultum shubuh tentang sehat lahir bathin kemarin. Terlalu panjang kalau diceritakan di halaman ini juga.

Semoga bermanfaat.

Salam,

diki septerian

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.