Berwudhu Seperti Cara Rasulullah

berwudhu cara rasulullah

Cara Ustadz Hilman Rosyad mengajari Wudhu

BIASANYA ketika adzan maghrib berkumandang saya sudah tiba di Masjid BIN Kalibata. Jum’at bulan kemarin tidak. Saya masih di OTISTA. Tidak terlalu buruk juga sih, saya masih bisa berjamaah di salah satu masjid dekat situ. Masjid Miftahul Jannah di Jalan Cipinang-Cempedak sebelah timur dari Otista. Sampai di sana adzan sudah berakhir. Orang-orang sedang sholat sunnah. Ketika saya mengambil wudhu terdengar seorang bocah berteriak, “Wudhu? Gampang!” Dia bergegas ke tempat wudhu, kemudian berwudhu tepat di sebelah saya.

***

Seorang Kakek mendatangi masjid untuk melaksanakan sholat. Kemudian dia menuju tempat wudhu. Selesai, tapi tertahan. Dua anak muda memintanya untuk menjadi juri lomba. Kakek itu setuju. Kedua anak muda itu pun mulai berwudhu. Dia memperhatikan dengan seksama. Selesai. “Siapa yang paling bagus wudhunya, kek?” Dua anak itu berebut jawaban. Sang kakek tersenyum, “Wudhu kalian istimewa”, kemudian dia mengulangi wudhunya.

Wudhunya tidak sempurna. Kemudian dikoreksi dengan cara yang melegenda. Kedua pihak senang.

Kejadian itu terjadi di Madinah berabad tahun silam. Tidak disebutkan siapa Kakek (atau bahkan Bapak) dalam kisah itu. Dua anak muda yang disebut adalah Hasan dan Husein. Cucu kesayangan Rasulullah. Versinya banyak—ada yang bilang mereka berdebat wudhu siapa yang benar. Meski berbeda, intinya sama: Kisah itu berpesan tentang cara menasehati yang baik. Pesan yang begitu melekat, hingga cerita itu seringkali di ulang-ulang.

Sayangnya, berhenti sampai di situ. Jarang dilanjutkan dengan pertanyaan, “sebenarnya bagaimana wudhu-nya Hasan dan Husein itu?”.

***

ustad hilman rosyad
Ust. Hilman Rosyad saat memeragakan wudhu

Untuk mengetahui tata cara wudhu yang baik dan benar, saya kembali ke masa lalu, 7 tahun silam. Tepatnya Sabtu, 13 September 2008. Saat itu Ustadz Hilman Rosyad sedang membahas Hadits Arba’in ke 23. Hadits yang bercerita tentang thoharoh. Setelah setengah jam pembukaan, dan membahas hadas besar, hadis kecil, ia bercerita tentang wudhu,

Wudhu itu enam rukunnya.

Pertama, niat. Kedua, membasuh muka. Membasuh, ingat ya Pak. Al-Ghaslu. Ini yang saya ingin terangkan. Al-Ghaslu itu membasuh. Definisi fikih-nya mengalirkan air dengan tangan. Itu yang namanya membasuh. Jadi ibu jangan ambil shower terus … sssuusss… nggak boleh. Karena tidak ada gerakan tangan mengalirkan air.

Kemudian setelah itu (ketiga), mencuci tangan. Kiri dan kanan. Boleh kiri dulu? Makruh yah. Disunnahkan kanan dulu, disunnahkan tiga kali, disunnahkan sampai dengan sikut. Tentu saja melampaui sikut. jangan persis sikut. Nanti ibu pakai kapur, dipas-pasin, nggak … Wajibnya sekali juga boleh yang penting dua tangan.

Yang keempat adalah mengusap kepala. Bukan mencuci. Nah kepala itu mana? Ini? Ini? Ini?—sambil menunjuk bagian depan, belakang, kanan kiri kepala. Jadi apa yang di usap? apa saja… yang penting kepala. Itu yang wajibnya.

Yang kelima membasuh kaki. Sekali lagi membasuh kaki. Jadi bagaimana membasuh kaki itu? Mengalirkan air dengan tangan… jadi membasuh kaki itu begini—sambil memperagakan membasuh kaki dengan tangan kanan. Bukan keran di gini-giniin aja—mencontohkan kaki yang hanya dikenai air langsung dari keran.

Terakhir (Keenam) tertib. Artinya tidak boleh saling mendahului. Ah, saya mau kaki dulu baru wajah. Tidak bisa. Makanya, untuk wudhu niat menjadi penting. Karena ada dimensi waktunya. 

Kalau plus sunnah-sunnahnya banyak. Seperti ini.

Pertama niat. Kemudian membaca basmallah. Terus habis itu apa? mencuci kedua tangan. Tangan itu mana? Ini sampai pergelangan—menunjukkan telapak dan punggung tangan. Kemudian ini apa? Hasta. Kalau sampai sini? Lengan.

Kemudian setelah itu apa? Hah.. mulut dan hidung? (bertanya ke jamaah)Berkumur …  dan instinsyak. Dimasukkin dengan tangan kanan dikeluarin dengan tangan kiri, Boleh digabung—sambil mencontohkan berkumur sekaligus memasukkan air ke hidung lalu membuangnya.

Habis itu membasuh wajah. Begini boleh, begini juga boleh—membasuh wajah dengan dua tangan, semua sisi wajah terkena. Kemudian ada plusnya, membasuh jenggot. Begini—sambil merapatkan telapak tangan ke jenggot—sampai terasa air membasahi semua jenggot.

Kemudian mencuci tangan. Begini—memperagakan tangan kanan mengalirkan air sampai sikut, kemudian balik lagi ke tangan—sampai yakin semua kulit terkena air. Tiga kali, kemudian yang kiri tiga kali.

Selanjutnya apa? Mengusap kepala. Cukup sekali saja. Seperti ini … menggunakan dua tangan untuk mengalirkan air dari depan ke belakang kepala , kemudian jempol digunakan untuk mengusap telinga bagian belakang. Kalau saya rebing, jadi gampang.

Kemudian apa? Membasuh kaki tiga kali (kanan). Kemudian kiri tiga kali. Selesai itu menghadap kiblat, mengangkat kedua tangan, lalu membaca dua kalimat syahadat dan berdoa.

Itulah yang disunnahkan, berdasarkan Hadist Salim, pembantunya Usman bin Affan. Salim memeragakan persis seperti apa yang saya peragakan tadi, dan kemudian berkomentarlah Usman bin Affan, “Seperti itulah yang aku lihat Rasulullah ketika berwudhu”.

***

Kembali ke Otista. Bocah itu memulai wudhunya. Cepat sekali. Kecipak-kecipuk. Cuci tangan, cuci muka, cuci kepala, cuci kaki, tiga kali-tiga kali. Airnya kemana-mana. Saya ikut terciprat. Dia selesai. Saya belum. Ketika hendak mematikan keran air, saya colek telinganya. Dia menoleh keheranan. “Yang bener dong”. Dia makin heran lalu menjawab tidak mau kalah, “Ini juga bener kok”. Dia berlari keluar, menuju temannya yang tadi bertanya—lu udah udhu belom—di  ruang sholat. Bersemangat sekali.

 

Salam,

diki septerian

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.