Bila Lampu Rumah Mati

saklar lampu lama

“INI sih kurang puter!” Dengan sigap Pak Udin memutar lampu neon yang katanya hidup segan mati tak mau dengan yakin. Taraaa … seketika lampu Neon bermerk itu langsung menyala terang. Saya langsung jadi bahan candaan, Pak Udin—Pak RT yang juga jago teknik, serta Istri saya: “Aah Ayahnya Fakih payah nih… muternya terlalu pake perasaan.” Sebelumnya lampu itu sudah saya elus-elus, saya copot-pasang, tapi memang tidak menyala. Saya sudah membeli saklar lampu yang baru, sekring baru. Ternyata solusinya hanya diputar dengan yakin?

***

Pada tahun 1976 Pembangunan Perumahan Nasional dimulai. Wilayah Beji di Depok yang pertama. Sukses. Pembangunan berlanjut ke arah Depok Tengah dan Timur di tahun berikutnya. Setahun kemudian perumnas itu mulai diisi. Sejak itu Sukmajaya, salah satu desa di wilayah Depok II Tengah mulai ramai. Bahkan, di tahun 1982 Sukmajaya berubah status menjadi Kecamatan.

Perumnas di Kecamatan Sukmajaya berjajar rapi. Dirajut dengan jalan-jalan yang diberi nama sesuai tema. Majapahit, Kediri, Singosari, Pajajaran, Taruma Negara, Sriwijaya adalah contoh tema kerajaan yang kemudian disatukan menjadi 2 wilayah Rukun Warga. Ada juga tema Tarian: Maengket, Cakalele, Pakarena, Giring-giring, Serimpi, Janger, Legong. Tema-tema lainya tentu ada, terlalu banyak bila disebut satu persatu.

Masa kecil saya habis di jalan Maengket. Ketika remaja menjadi bagian dari “kerajaan Majapahit”. Sejak dua tahun lalu meminjam rumah di wilayah Giring-giring: Rumah yang telah berumur lebih dari 3 dasawarsa. Rumah seluas 90 meter persegi itu memang terlihat tua. Cat putih yang sudah pucat, eternit di langit-langitnya yang sudah tidak lengkap, dinding-dindingnya yang mulai mengelupas, juga saklar-saklar lampu yang tidak lagi kencang. Itulah mengapa saya berinisiatif membeli saklar lampu yang baru. Saklar yang lama sudah tidak “ctak-ctek” lagi. Ditambah, rumah orang tua di Jalan Majapahit juga mengalami hal yang sama, lampu mati. Solusinya: ganti saklar.

***

saklar lampu panasonic

Sejak dua minggu yang lalu istri saya mengeluhkan lampu dapur yang angin-anginan. Sore mati, besok siangnya hidup lagi. Besoknya begitu lagi. Kadang cuma di on-off saja sudah menyala. Tapi, kali ini susah sekali. Tersangka utamanya adalah saklar. Saya tidak mungkin menuduh lampunya. Karena lampu merk Philips memang terkenal dengan keawetannya. Belum ada 1 tahun masa sudah rusak, pikir saya waktu itu. Tersangka berikutnya adalah sekring. Karena sekring tidak ada tanda-tanda menyala ketika saklar di-on kan.

Sekring beli, saklar juga beli. Lagi-lagi saya belinya yang bermerk. Saklar merk Panasonic, sekring Philips sesuai lampunya. Saya ingin saklar yang bagus, yang awet biar ctak-ctek nya enak. Sekring relatif mudah dipasang, harganya juga murah. Saklar yang sulit. Sekring sudah diganti, lampu masih mati. Berarti memang saklarnya. Tapi, disitu juga kendalanya. Saklar lampu yang tertanam ternyata berbeda tipe dengan yang saya beli. Beda bagian belakangnya. Saklar yang lama tidak ada penutupnya, sedangkan saklar yang baru ada penutupnya. Bingung luar biasa. Daripada kenapa-napa, akhirnya saya menyerah, meminta Pak Udin untuk memasangkannya.

Dengan teliti Pak Udin memeriksa lampu neon yang baru itu. Ctak-ctek tidak menyala. Dia buka saklar lalu menempelkan obengnya sehingga aliran listrik tersambung, tapi tidak menyala juga. “Mmm… berarti bukan saklarnya”, Pak Udin bergumam. Dia langsung melihat lampu, meminta saya mengambilkan kursi agar bisa memegannya. Lalu memutarnya. Menyala. Setelah bercandain kalau saya terlalu berperasaan, Pak Udin beranjak pulang sambil berkata, “Ini sih kebagusan, sayang kalau buat rumah ini”, Dia menunjukkan saklar yang telah saya beli. Saya benar-benar malu jadinya …

***

sekring lampu

Pak Udin ternyata juga salah. Lampu itu mati lagi setelah 3 hari kemudian. “Jadi gimana dong?” Keluh istri di malam hari. Sore sebelumnya ia sudah ‘laporan’ ke Pak Udin kalau lampu mati lagi. Pak Udin suruh mencoba putar lagi. Malam itu saya coba otak-atik. Tapi, tidak berhasil. Tunggu saja besok pagi. istri menagih janji. Akhirnya sebelum berangkat kerja saya lihat lagi lampu itu. Saya bongkar, saya buka rumahnya. Oooo …. ini toh penyebabnya. Ada kabel yang terlepas dari gencatan baut. Saya coba menempelkan kabel kecil yang terlepas itu, dan …. Berhasil ! Penyebab sudah ditemukan, sekarang tinggal bagaimana cara memasangkannya.

Saya mengingat-ingat, engkoh tempat saya membeli lampu dan rumahnya tidak membelitkan kabel kecil ke baut nya. Pantas saja terlepas, dia hanya menggencetnya. Saya tidak mungkin membelitkannya. Terlalu repot. Saya harus melepas rumah dari kabel utama, lalu menyambungkan kabel kecil dan pendek itu. Menggencetnya juga ternyata sulit, dan berpotensi akan terlepas lagi. Setelah badan berkeringat akhirnya saya menemukan ide. Saya tempelkan saja kabel itu ke luar baut, saya tekan. Simpel, potensi lepasnya juga lebih sedikit, karena kabel itu tersangkut. Masalah selesai.

***

Hari itu akhirnya saya terlambat. 6 menit. Ini kali kedua semenjak Bulan Februari lalu. Hingga saat ini lampu itu masih menyala. Bila mati lagi, memang saatnya untuk memasangnya dengan lebih baik.

Bila lampu mati? Jawabnya pasti ada aliran listrik yang tidak mengalir. Pertanyaannya, dibagian mana-nya? Sebelum membeli saklar, sekring, atau sebelum malu-maluin. Ada baiknya cek kabel-kabel, barangkali ada yang terlepas. Semoga bermanfaat.

Salam,

Diki Septerian

2 thoughts on “Bila Lampu Rumah Mati

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.