Buka Kotak vivo V7: Smartphone 5,7 inchi yang Nyaman Digenggam

Dia datang sendiri, tanpa diundang 🙂

***

vivo berani sekali. Mengeluarkan duo smartphone dengan harga “tinggi”. vivo V7+ Rp 4.699.000 dan vivo V7 Rp 3.599.000. Bila tidak ada kamera selfie-nya yang 24MP, maka calon pembeli mesti setuju.

“Layar cuma HD+, chipset 450, dijual segitu?”

Tapi, tunggu dulu … Datanglah ke gerai-gerai, cobalah. Lalu simpulkan.

Adakah perbedaan?

Saya ada: positif.

***

Isi di dalam kotak

  • vivo V7 yang sudah dibalut pelindung layar model plastik empuk.
  • earphone model earpod, mirip bawaan iphone.
  • Adaptor 5V; 2A, kabel micro USB (bukan tipe C).
  • Bumper, alias jely case bening.
  • Sim Ejector. 
  • Buku panduan, kartu garansi
  • Kartu Perdana Telkomsel, isi dulu pulsa Rp 45.000, lalu dapat 10GB paket data.

vivo memang selalu royal dalam memberikan bonus. Pembeli tidak lagi dipusingkan untuk mencari casing, screenprotector, ataupun paket data.

Saya suka itu. Apalagi earphone-nya kini tidak biasa. Kualitasnya lebih baik dari bawaan vivo V3 dan Motorola Moto G5s Plus. Namun, jangan dibandingkan dengan Co-Donguri ya.

Mari kita mulai dengan desain, ergonomi, dan display. vivo V7 berdimensi 149,3 x 72,8 x 7,9mm. Sedangkan layarnya 5,7 inchi. Teknologinya IPS, resolusinya HD+ (720 x 1440) dengan bentang layar FullView 18:9.

Dengan spesifikasi seperti itu, mengenggam V7 menjadi menyenangkan. Ditambah lagi, bodi belakangnya melengkung mengikuti kontur tangan. Ketika dipasangkan case bawaan juga tetap nyaman.

Kerapatan pikselnya memang sebatas 720p. Saya yang terbiasa dengan Full HD Amoled tentu menyadari perbedaannya: warna kurang kereng dan tekstur tidak tajam.

Apakah buruk? Ya dan tidak.

Agaknya saya mengerti pilihan engineer vivo: lebih mementingkan performa dan stamina daripada resolusi.

Bisa saja resolusi dipaksakan menjadi Full HD, tapi chipset juga harus yang lebih powerfull, Snapdragon 625 (atau 630) misalnya. Agar tidak lemot bin lelet.

Untungnya sudut pandang tetap luas, sentuhan mulus, serta tingkat kecerahan baik.

Sekarang kita tengok platformnya. vivo V7 menggunakan Snapdragon 450 (14nm, 8x Cortex-A53 1.8GHz, GPU Adreno 506). Berjalan di OS Android 7.1.2 Nougat. Launcher atau UI-nya Funtouch OS versi 3.2. 

Didukung oleh RAM 4GB (sekitar 2.03 GB free) dan memori internal 32GB (sekitar 21.85 GB free). vivo V7 berjalan lancar jaya.

Memang saya belum bisa mengabarkan performa hari-harinya, apakah tetap gegas meski dihajar puluhan aplikasi. Apakah tetap adem, tidak panas saat memainkan game berat.

vivo V7 masih mempertahankan tampilan antarmuka Iphone. Sapu ke bawah untuk notifikasi, sapu ke atas untuk pengaturan umum (kecerahan layar, volume, akses cepat).

Namun, tidak melupakan fitur andalan Nougat: split screen yang kini bisa diatur secara otomatis dan manual. Hebatnya ukuran dua aplikasi bisa diatur.

Fitur smart wake, glance screen yang menjadi favorit saya juga tetap dipertahankan. Bahkan ditambahkan dengan Raise to Wake. Angkat handpone, lalu layar otomatis aktif. Canggih dan memudahkan, kang!

Yang lebih konvensional double tap (ketuk dua kali) to on/off juga masih ada.

Bodi vivo V7 berbahan plastik. Mungkin polikarbonat. Aksennya metalik. Seperti logam, tapi bukan. Bisa dirasakan bedanya.

Apakah mengecewakan?

Sama sekali tidak. Pengerjaannya rapi, rasanya solid, pejal, kukuh (kokoh?), ringan tapi tidak terasa murahan. Plastik tapi berkelas. Kira-kira begitu.

Peletakkan tombol-tombolnya juga pas. Tombol Volume+Power ada di sisi kiri handphone, selot kartu ada di kanan. Rasanya juga enak, membalnya pas, tidak menimbulkan suara cempreng saat ditekan.

Posisi sensor sidik jari juga pas. Tidak susah untuk meraih-nya.

vivo V7 menjadi V-Series pertama yang tidak dibekali dengan audio kelas atas: AK4376. Buktinya tidak ada tulisan Hi-Fi saat kita mencolokkan earphone. Tingkat pengaturan volume medianya juga hanya 15. Sama seperti handphone android kebanyakan. Bukan 30 seperti tradisi seri V tadi.

Kecewa?

Jelas. Bagi saya, audio adalah pembeda vivo dari handphone lainnya. Tapi, bagaimana kedengarannya?

Belum bisa mengabari banyak. Saya hanya mencoba demo musik yang ada di player i Music. Akustik jenisnya. Jelas Co-Donguri saya bersinar.

Kapasitas memori internal vivo V7 memang hanya 32GB, tapi jangan khawatir. Selot kartunya tipe Limosin: 3 pilih 3. Bukan hybrid yang 3 pilih 2. Jadi, tetap bisa menambah micro SD saat menggunakan 2 kartu SIM (Jaringan mendukung 4G LTE).

Ada lampu LED berwarna hijau sebagai bantuan notifikasi. 

Bagaimana dengan baterai dan daya tahan? Dilihat dari spek sih biasa saja, 3000mAh Lithium Polimer. Saya belum bisa mengabarkan berapa lama ia mampu bertahan.

Tapi, untuk waktu pengisian daya dari charger yang berdaya 10W (5V; 2A) kira-kira begini: 30 menit bertambah 30%. 60 menit bertambah 60%. Saat menyentuh 90% akan melambat. Sisa 10% (hingga 100%) tadi terpenuhi selama 21 menit lebih.

Jadi, tips dari saya, jika punya waktu 1 jam untuk melakukan pengisian, lakukan saat handphone di kisaran 30-40%.

Namun, bila tetap memaksa ingin menunggu hingga baterai hampir habis, maka waktu yang di butuhkan sekitar 2 jam lebih.

Apakah itu Fast Charging/ Qualcomm QuickCharge? Bukan sama sekali. Tapi lumayan, daripada mendapat charger keluaran 5W (5V;1A) saja

ehm, Xiaomi Redmi Note 5A, saya langsung ingat kamu loh.

Uuuhh… Andai saja ia seperti vivo V5 plus.

Kita masuk ke menu utama: Perfect Selfie 24MP. Jujur, saya tidak peduli sama ini sebenarnya. Lebih baik vivo menambahkan OIS (Optical Image Stabilization) pada lensa belakangnya.

Tapi, kalau begitu bakalan hilang ciri khas dan ketinggalan kereta dong.

Mungkin. Bila dilihat tren sih ada benarnya. Samsung saja sampai-sampai mengikutinya (cek seri A 2017).

Punten bila tidak ada contoh gambarnya. Saya malu. Hehe.

Fiturnya benar melimpah. vivo membagi fitur Face Beauty 7.0 ke-tiga bagian utama: Kilap/mulus, skin tone (warna kulit), dan seberapa putih.

Selain itu, ada juga Grup Selfie. Lebih tepatnya Panorama Selfie kali ya, karena ia menggabungkan beberapa gambar menjadi satu yang luas.

Softlight, atau LED Flash juga tersedia. Ia bekerja layaknya senter, memberikan cahaya lembut kepada wajah. Bahkan ada fitur Fill Light, teknik yang sering digunakan fotografer bila latar belakang lebih terang dari subjek itu sendiri.

Fitur andalan lainnya (dan killer) adalah Mode Portrait. Alias bokeh. Meski hanya satu kamera, Snapdragon 450 mampu menghitung jarak untuk mengaburkan latar belakang.

Sayangnya, tingkat background blur tadi tidak bisa diatur seperti pada vivo V5 Plus yang memiliki Kamera Selfie Ganda.

Kabar baiknya?

Mode Portrait bisa juga dilakukan oleh kamera belakang!

Saya terkejut. Serius.

Hihi.

Kamera belakangnya sendiri tidak jelek. 16MP dengan f/2.0. Fiturnya banyak, Live Photo, Ultra HD, PPT, Profesional, Slow Motion, dan Time Lapse.

Tidak saya coba semua. Perhatian saya tetap ke Mode Profesional. Dengan mode ini, kita bisa mengatur ISO dari 100 hingga 3200, shutter speed dari tercepat, 1/5000, hingga terlama, 16 detik. Fokus manual, White balance, dan kompensasi eksposure juga bisa diatur dengan mudah.

Sampai sekarang model kamera Profesional begini tetap favorit saya. 

Ini unboxing atau review sih, kok panjang banget?

Maafkan kang, anggap saja ini Buka Kotak rasa uji pakai. Hehe.

Meski artikel ini terasa panjang, belum semua hal saya gali. Fitur game mode, app clone, berbagai gesture dan aplikasi bawaan, juga skor benchmarking (Antutu, SD Bench, Geekbench, dll).

Hasil foto, kecepatan sensor sidik jari, face unlock, juga belum ada kan.

Jadi, adakah yang menanti ulasan sebenarnya?

***

Selagi menulis review ini ada yang bertanya, worth it nggak?

Tanpa ragu saya menjawab,

.

.

“Banget. Kalo harganya 3 juta.”
***

Spesifikasi vivo V7 silahkan lihat di web resmi ya. Harga saat tulisan ini dibuat Rp 3.699.000, ada juga promo pre-order untuk versi Mobile Legend, warna hitam berkelir emas seharga Rp 3.799.000.

.

Salam,

diki septerian

One thought on “Buka Kotak vivo V7: Smartphone 5,7 inchi yang Nyaman Digenggam

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.