Gagal Tidur Gegara Kultum Shubuh

 

MALAM ke 24. Saya melanjutkan i’tikaf di Masjid BI. Pulang dari kantor, langsung ke TKP. Ternyata macet luar biasa. Jl Abdul Muis padat merayap. Padahal langit sudah gelap. Tidak lagi saya berharap akan dapat nasi kotak gratis. Buka di masjid saja sudah cukup.

Sampai di wilayah BI. Saya parkir, kemudian jalan menuju masjid. Masya Allah … Plaza Masjid BI benar-benar penuh. Jangankan nasi kotak, tempat buat duduk saja susah. Belum 5 menit, adzan berkumandang. Alhamdulillah … sempat juga saya buka. Tetap bersyukur walau tidak dapat nasi kotak, air, dan kurma. Lah … jadi buka pake apaan?

Continue reading “Gagal Tidur Gegara Kultum Shubuh”

I’tikaf Di Masjid BI … Menyenangkan kah ?

Masjid BI

Update: I’tikaf di Masjid BI 2018

“Ramadhan memasuki babak final”, begitu seorang ustadz memulai kultum siangnya. Ia lalu melanjutkan dengan dalil-dalil tentang i’tikaf. Bagaimana menjalani sepuluh hari terakhir Ramadhan. Sekaligus memotivasi agar “memenangkan” babak final ini.

I’tikaf. Otak saya langsung me-recall satu tempat dengan cepat: Masjid BI. Tempat i’tikaf favorit saya sejak SMA dulu. AC-nya, karpet empuknya, sajian berbuka-nya, gratis-nya …nyam.. nyam. Emang dah manusia, mau nya gratisan mulu! Hehe … bacaan imam-nya, kajian-kajiannya juga ingat kok. Mantap deh pokoknya.

Karena itu, tahun ini saya putuskan untuk i’tikaf lagi di sana. Masih kah seperti dulu ? (eh… nggak dulu-dulu banget sih, 2 tahun lalu juga i’tikaf di sana). Ini pengalaman i’tikaf saya selama 2 malam, di masjid BI itu.

Continue reading “I’tikaf Di Masjid BI … Menyenangkan kah ?”

Musholla di Tengah Puing

Dasarnya memang salah. Saya datang ke tempat orang persis jam 12.00. Waktu di mana kebanyakan orang istirahat, sholat, atau sekadar menyelonjorkan kaki. Jadilah saya menunggu.

Continue reading “Musholla di Tengah Puing”

Tompel Biru Anti Nyamuk Buat Si Kecil

source: nyunyu.com
source: nyunyu.com

Nyam-nyam … Alias nyamuk emang kadang ngeselin ya kangmas. Suka iseng sama kita yang lagi mau bobo. Suara ngung sayapnya, gigitannya yang buat bentol dan gatel, sama jumlahnya yang nggak habis-habis ! Di semprot, muncul lagi. Di tepok, ada lagi. Pake lotion, panas dan kulit jadi rusak. Pake kipas, malah masuk angin. Pasang AC… mau sih, tapi teu gaduh acis! Pasrah, malah badan jadi bentol-bentol ! Continue reading “Tompel Biru Anti Nyamuk Buat Si Kecil”

Bagaimana Kamu Menjaga Tubuh Tetap Sehat ? …. Share Pengalaman Konsumsi Habbatussauda.

Bulan Maret yang lalu saya ngedrop. Badan panas, lemes, tulang-tulang berasa ngilu. Perut nggak enak, mual, makan juga jadi nggak enak. Ditambah batuk-batuk pula. Saya ke klinik dekat rumah, analisanya : kecapekan dan telat makan ! Saya ingat-ingat, betul juga. Waktu itu saya habis pp kemayoran-tanggerang-depok. Pake Motor. Sendirian. Kesenengan ngereyen motor baru, sampe lupa makan ! Dokter ngasih saya istirahat dua hari. Setelah masa istirahat habis, ternyata badan saya masih juga nggak enak. Akhirnya saya pindah ke dokter langganan semasa SMA dulu. Disarankan cek darah. Yang ditakutkan pun menjadi kenyataan Continue reading “Bagaimana Kamu Menjaga Tubuh Tetap Sehat ? …. Share Pengalaman Konsumsi Habbatussauda.”

Marketing ala Tukang Ojeg

ojeg

Ada-ada saja gaya Bang Erwin, tukang ojeg dekat kantor saya. Siang tadi, ada calon customer yang menghampirinya. “Bang, tau jalan benyamin sueb nggak?” Tanya seorang wanita muda yang berpenampilan ala kantoran ke Erwin. “Tau…” jawabnya santai. “Berapa kalo ke sana?” “15 aja”. “Deket nggak sih, bang?” “Jauh mbak kalo jalan kaki, kalo naik motor ya deket.” Balas Erwin dengan senyum simpul. Mbak-mbak itu pun tersenyum dan langsung memberi aba-aba supaya diantar ke tempat tujuan. Erwin pun berdiri, bersiap mengantar customernya itu.

Deal. Closing. Tanpa babibu. Semua Senang. Termasuk saya dan teman yang mendengar gaya bang Erwin ketika prospek customer.

Bang Erwin mungkin enggak pernah dapet ilmu marketing dari training-training, dari seminar-seminar, atau dari buku-buku. Seperti kebanyakan orang yang bekerja di dunia marketing, seperti saya ^^. Tapi, dia mampu membuat need. Dia mungkin nggak tau kalo marketing itu harus memperhatikan 4P. Product, Price, Place, People. Tapi, dia berhasil membuat calon customer merasa butuh.

Aaah, Bang Erwin emang ada-ada aja dah!

 

 

 

 

Menerjang Banjir … Menjemput Impian

Fiiiuuuh …. Alhamdulillah, sampai juga saya di kantor. Pagi ini jalanan benar-benar dahsyat. Hujan deras, macet, banjir pula ! Cuaca begitu emang bikin nyali jadi ciut. Cuma, karena inget lagu lawas ” … Demi Kau dan si buah Hati …” semangat jadi membara lagi. (deuuilee…^^)

Continue reading “Menerjang Banjir … Menjemput Impian”

Mulai Menulis Lagi …

Brader … rasanya sudah lama nggak bersua lewat tulisan. Entry tulisan ini juga lawas banget, September 2013 ! Sudah lawas, bukan tulisan sendiri pula !.

Kemane aje nih yang punya warung ….

Hehe, maafkan brader, ds (baca: dikisepterian) punya rutinitas baru. Berangkat kantor pagi-pagi gelap, pulang kantor abis gelap juga. Malem juga harus momong jagoan kecil dulu sampe dia bubu. Liburan biasanya bantuin Nyonyah ngurus rumah sama maen-maen sama si kecil. Jadinya laptop dianggurin terus.

Padahal banyak banget loh yang mau ds bagi. Utamanya sih tentang hobi, kerjaan sama urusan kebapak-an.

So… mudah-mudahan laler, kecoa, laba-laba di warung ini mulai pada minggat sekarang. Hehe …

Permata Bunda

Bagian tubuh mana yang paling baik untuk dipakaikan minyak wangi?
“Telinga, bukan di baju apalagi dibawah lengan!” Kata Zai Hanan, trainer yang berpengalaman memoles penampilan para bisnisman, artis, sampai politisi. Mengapa di telinga? Karena, telinga itu sejajar dengan hidung, “Insya Allah itu parfum terharum dan terlama yang menempel di badan Bapak Ibu”, ia melanjutkan sesi trainingnya.

Minyak wangi memang membuat wangi. Apalagi kalau dipakai ditelinga seperti yang diajarkan Zai Hanan itu. Tapi bagaimana jika bukan minyak wangi yang ada di telinga –maaf—“conge” atau kotoran telinga misalnya? “Wangi”nya juga tidak kalah ampun-ampunan.

Kotoran telinga itulah yang menjadi masalah salah seorang anak di sekolah ini. Ia dikenal dikalangan teman-temannya dengan wangi seperti itu. Bahkan ia juga menjadi pembicaraan guru-guru. Saya pun pernah merasakan wangi itu ketika ia main ke rumah. Bahkan wangi itu betah berlama-lama di rumah saya (eh, rumah dinas maksudnya).

“Kalau sudah siang, biasanya cairan itu keluar dari telinganya. Lalu dia lap saja dengan kerah bajunya. Ibu sudah bilang berkali-kali ke dia supaya berobat dokter, minta ke orang tuanya. Tapi tidak pernah dijalankan”, keluh wali kelasnya.

Dengan kondisi seperti itu, otomatis ia menjadi bahan ejekan teman-temannya. Tidak ada yang mau mendekat. Ia pun menjauh dengan sendirinya. Seringkali terlihat ia asik sendiri dengan buku, belajar membaca dengan keras. Semangat belajarnya tergolong besar. Tapi wangi itu yang membuatnya kurang percaya diri.

Tanpa banyak pertimbangan, akhirnya saya putuskan untuk membawanya ke dokter. “kita jalan-jalan yuk”, ajak saya. Ia pun tidak menolak dan tidak bertanya mau dibawa kemana. Ia hanya mengangguk kegirangan.

Sampai di tempat dokter saya pun mendaftarkannya.

“Alamat rumahnya dimana?”
“Kasai bu”
“kasai itu dimana ya?”
“Dekat pasar ampalu ”
“Ooohh.. jauh juga ya kalau begitu“
“Iya soalnya puskesmas di sana buka hanya sampai siang sedangkan dia sekolah, jadi saya bisa membawanya sore saja, dan ini tempat terdekat yang direkomendasikan guru yang tinggal di daerah sini”
“Oh, jadi Bapak ini gurunya?” (kali ini dokter yang berada didekat situ yang menyambar)
“Iya dok”
“Wah, perhatian sekali. Pasti anak-anak senang ya. Kalau ngajar anak SMP atau SMA pasti mereka pura-pura sakit, supaya bisa diantar juga.”
“ … … … …” (saya cuma tersenyum waktu itu, padahal bertanya-tanya dalam hati masa iya sih)

“jadi apa keluhannya?”
“ini dok, telinganya kotor.”
“Sini nak, siapa namanya?”
“Rudi… Rudi Permata Bunda”
“Rudi kelas berapa?”
“Kelas dua, tapi tinggal kelas satu tahun”
Dokter itu pun tersenyum, “wah jujur sekali ya”. Rudi pun membalasnya dengan senyum, walaupun sebenarnya ia tidak mengerti. Dokter itu pun kemudian memeriksa telinganya.

“Telinganya bersih, tidak ada kotoran”
“Ah, masa dok tapi sering keluar cairannya”
“Ooh.. ini pasti karena mandinya, Rudi kalau mandi sering jungkir balik ya?”
“……………….” (Rudi tidak menjawab, hanya membalas dengan senyum malu tanda bersalah)
“Sekarang, saya kasih obat saja dulu, khawatir ada infeksi. Ini diminum 3 x 1 hari jam 10 malam, jam 6 pagi dan jam 12 siang. Nanti kalau cairannya keluar jangan di lap pakai korek kuping apalagi kerah baju, tapi pakai tisu saja”
“baik dok. Terimakasih banyak, ayo Rudi bilang terimakasih ke bu dokter”
“………………..” (lagi-lagi Rudi hanya membalas dengan senyum)

Saya kemudian mengantar Rudi ke rumahnya. Sampai di rumahnya saya dikejutkan oleh seorang lelaki tua yang sedang duduk. Saya memberi salam, tapi ia tidak menjawab. “Matanya buta”, jawab abangnya Rudi. Lelaki tua dan buta itu ternyata Ayah mereka.

Pandangan saya pun berkeliling ke seluruh sudut rumah yang beralaskan tanah itu. Rumah itu gelap, karena hanya satu lampu yang menyala. Itu pun bukan neon, hanya bohlam yang tidak seberapa wattnya. Meski begitu, abang Rudi yang lain tetap asik mengaji. Ia menjadikan obor-oboran sebagai tambahan penerangan.

Sang Ibu akhirnya keluar. Ia terlihat “gagah”, mungkin karena pekerjaan berat di ladang yang menjadikannya seperti itu. Saya pun memberitahu apa yang tadi dijelaskan dokter—sambil menyodorkan obat dan tisu—dengan sebelumnya meminta maaf, karena mengajak Rudi ke dokter tanpa ijin terlebih dulu. Rudi pun tidak mau kalah, dengan antusias ia menjelaskan tata cara meminum obat ke Ibunya. Sang Ibu sangat senang karena ada yang mau perhatian ke permatanya itu. Setelah berbincang sebentar saya pun berpamitan.

Sepanjang perjalanan pulang saya banyak melamun: Ayahnya buta, abang-abangnya masih sekolah, praktis sang Ibu yang menjadi tumpuan keluarga. Dengan kondisi seperti itu wajarlah bila urusan ke dokter tidak pernah tersentuh. Namun, hebatnya Permata Bunda itu tidak mengeluh, ia tetap semangat ke sekolah. Tekad saya pun semakin bulat: tidak akan memberi cap buruk ke anak-anak.

Esok harinya berita itu menyebar. Beberapa siswi mendatangi saya sambil berpura-pura sakit, “Pak, saya sakit… tolong antarkan saya ke dokter !” “Saya juga Pak !” Seketika itu saya langsung tertawa. Prediksi dokter itu kurang tepat. Walaupun tidak juga salah sepenuhnya. Kenapa anak-anak jadi mantiak* begini pikir saya dalam hati. mungkinkah pengaruh TV? Entahlah, saya tidak ambil pusing. Cepat-cepat saya menolak permintaan mereka. Akhirnya hari itu saya belajar: cari calon Ibu yang soleha, biar nanti anak-anaknya ketularan soleh juga!

“Bagaimana telinga nya Rudi?” Tanya saya beberapa hari kemudian ke Rudi yang sedang asik dengan aktifitasnya. “Tinggal satu lagi Pak” jawabnya riang. Mendengar kabar baik itu saya cuma bisa bersyukur sekaligus berharap, agar anak bernama lengkap Rudi Permata Bunda itu menjadi sebenar-benar permata bagi bangsa ini …

Pendamping Sekolah SDN 25 Sungai Sarik,
Diki Septerian Syah

Memikirkan Asrama

Kemarin ade lorong mengirim pesan ke saya, “main ke asrama lagi dong kak, sebentar lagi kita di usir nih !?” Saya cuma bisa kaget dan tentu tidak bisa menjanjikan kapan ke asrama lagi. Jujur saja, akhir-akhir ini pikiran sedang tidak berada di sana (asrama). Tapi, setelah mendapat pesan tersebut, mau tidak mau dipikirkan juga.

keroyokan

Ketika masa PDSR dulu ada kejadian yang sampai sekarang masih terngiang jelas di kepala. Bagi kami waktu itu  adalah masa pelatihan, tapi bagi penghuni (angkatan 44) waktu itu merupakan masa akhir tinggal di asrama. Masa akhir di asrama tidak selalu menyenangkan. Bukan saja karena harus berpisah dengan teman-teman tetapi juga karena urusan administrasi. Nah, ketika itu beberapa SR diprotes, bahkan sampai-sampai ada yang berani mengeroyok SR nya.

Mengeroyok? Iya, mereka berbondong-bondong datang ke sekret SR mengeluhkan sanksi yang menurut mereka tidak adil, tidak transparan, bahkan sampai bawa-bawa urusan agama. “katanya IPB ini Islami, tapi kok nggak transparan dan cenderung riba sih !”, begitulah salah satu keluhan mereka ke SR yang notabene nya SR lorong mereka sendiri. Saya yang melihat kejadian tersebut tentu bingung sekaligus takut, “bagaimana kalo saya yang jadi SR nya ya ???” Karena menurut saya, SR yang mereka protes itu bukan tipikal SR yang rese (baca: banyak mengatur). Bahkan sangat baik. Saya juga yakin beliau tidak pernah “macam-macam” ke adek-adek lorong nya. Tapi mengapa bisa sampai begitu ya, pikir saya dalam hati.

tidak cukup baik

Hal tersebut ternyata terjadi juga pada saya. Bahkan sebelum masa akhir kepenghunian. Yang mengeluh memang tidak banyak, hanya tiga orang, tetapi tiga orang ini cukup membuat saya merasa bersalah sekali kepada Kepala Asrama. Karena waktu itu saya tidak dapat membendung mereka yang langsung menyampaikan keluhan ke beliau dengan cara yang sangat kasar (tapi, untungnya di sana ada mas Habib yang bisa meredam sekaligus mengarahkan mereka ^^).

Saya pernah cukup bangga dengan komentar, “kakak itu SR yang baik, nggak kayak SR yang itu rese”. Namun, setelah kejadian tersebut saya pun semakin menyadari bahwa menjadi SR itu tidak cukup hanya baik, tetapi juga harus memiliki kontrol atas ade-ade lorong. Tidak cukup sekedar baik, tetapi juga harus kuat.

menyiapkan ruang kecewa

Bahasan pokok pada majalah tarbawi tersebut memang mudah untuk di sampaikan, namun sulit untuk di terapkan. Apalagi bagi saya yang memang cenderung tidak suka dengan penolakan. Suka nya yang lurus-lurus saja. Cenderung menghindari konflik. Dan selalu mencoba memperbaiki secara diam-diam. Padahal saya juga tahu, menjadi SR adalah bukan tentang bagaimana membuat semua senang dengan kita, tetapi lebih merupakan tentang bagaimana kita melebarkan lingkaran kesolehan pibadi kita. Seharusnya memang ketika memutuskan menjadi SR saya menyiapkan ruang di hati untuk kecewa, agar tidak kehilangan arah saat menjalani tugas sebagai SR.

Loh, katanya memikirkan asrama, tapi kok malah curhat masa lalu?

Ah, iya maafkan… sebenarnya kepikiran SR baru, panitia yang menyiapkan SR baru, juga SR-SR yang dulu saya PDSR-in. Bagaimana kelanjutan cerita mereka ya?

(Tapi lagi-lagi baru sampai tingkat dipikirkan… ^^)