Earphone Rp 200 ribuan di 2019 …

xiaomi mi in ear

Codonguri Shizuku saya rusak. Tepat di ulang tahunnya yang ke-2. Tepat disaat adiknya lahir: Codonguri Brass.

In-ear Monitor (iem) yang saya beli Rp 695 ribu itu tiba-tiba suara vokalnya terjepit. Bass-nya lenyap. Yang ada hanya denting piano, atau gonjreng gitar, atau suara latar.

Dugaan saya, penyebabnya ada di kabel. Yang saya gulung terlalu ketat sehabis pakai. Buktinya, bila saya utak-atik kabel itu, perlahan suara lainnya muncul.

Masalahnya, saya belum menemukan posisi yang pas. Tidak pernah bahkan. Kadang dipelintir berhasil, kadang ditekuk bisa. Kadang sekadar ditekan mau.

Sungguh menyebalkan.

Codonguri seakan memberi sinyal: buruan ganti. Tapi, ganti melibatkan uang yang tidak sedikit, bukan? Rp 800 ribuan untuk si Brass tadi.

Jadi … sementara saya kere hore dulu: menggunakan Xiaomi In-Ear, yang dulu harganya Rp 219 ribu saja.

earphone rp 200 ribuan
Model kabel Setrikaan, meski kasar, tapi masih bertahan

Kondisi

Kondisi fisiknya … Menyedihkan. Kabel kembarnya mulai mengelupas. Cat abu-abu metalik nya mulai memudar. Untung warnanya gelap. Bila putih … saya enggan untuk membayangkan!

Tapi, semua fungsi berjalan normal. Lubang kanan-kiri-nya masih menyala. Tombol volume masih hidup. Mic juga. Xiaomi Mi In-Ear bagusnya di sini.

review xiaomi mi in ear
Kulit Kabel nya mulai mengelupas
review earphone xiaomi
kulit tercabik-cabik

Keluaran suara

Dulu, pernah saya mengulas. Xiaomi Mi In-Ear keluaran suaranya bening. Memuaskan untuk rentang harga Rp 200 ribuan.

Sekarang? Tidak terlalu. Xiaomi Mi In-Ear cenderung All Rounder. Buat segala jenis musik. Tingkat clarity, kejernihan suaranya berbeda dengan Codonguri Shizuku. Juga dengan dBE HF18 yang harganya serupa.

Saya tidak (lagi) merasakan kegembiraan berlebih ketika mendengarkannya. Vokal-nya santai sekali. Terlalu jauh, tidak intim. Suara yang dihasilkan juga tidak luas. Soundstage biasa saja.

Namun, yang paling terasa setelah lama bersama Shizuku adalah: Xiaomi Mi In-Ear tidak dinamis. Saya tidak merasakan “wow”-nya lagi.

review headphone xiaomi
Dibalik karet tips nya

Set-up

Oh iya, seperti biasa. Set-up saya biasa-biasa saja: menggunakan Asus Zenfone 3 dengan player Spotify. Kadang kualitas lagunya saya buat extrem. Musik-musik yang saya dengarkan kebanyakan bergenre Pop. Saya tidak mencoba di Smartphone Xiaomi yang memang memiliki equalizer khusus.

Kelebihannya

Tentu ada di harganya yang murah. Juga daya tahan. Meski kualitas pengerjaan-nya tidak begitu rapi. Kelebihan lainnya ada di mic input dan tombol volume. Jadi, In-Ear ini bisa digunakan saat menerima atau melakukan panggilan telepon.

Cuma bisa bilang …

Terima kasih. Itu saja. Ia mampu menjadi back-up earphone utama saya. Menjadi pemain pengganti yang ternyata sangat membantu. Meski begitu, bila di minta melirik earphone di rentang harga Rp 200 ribu, saya lebih memilih dBE HF18 yang lebih bright dan dinamis.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.