Harap-harap Cemas Belanja di Funika

funika furniture

LIMA hari yang lalu saya memesan barang di funika.co.id. Rak buku empat baris. Model pasang sendiri. Warna luar dalam sesuai selera, dua warna, suka-suka. Itu yang membuat istri saya tertarik—ukuran dan harganya juga. Hari itu saya pesan, sekaligus transfer pembayaran. Saya kembali ke kantor untuk membuka web dan melaporkan pembayaran. Gagal, field tanggal error terus. Berulang kali saya coba masukkan sesuai format yang dicontohkan, masih gagal juga. Coba cara lain, mengirimkan email langsung. Tidak ada feedback. Menghubungi nomor telepon yang tertera, sama gagal juga. Nada sibuk terus, dari pagi, siang, hingga sore. Parahnya, tidak ada nomor lain yang saya tahu selain nomor yang di web itu …

***

Esoknya saya coba menghubungi nomor telepon itu lagi. Masih sama: nada sibuk. Pagi hingga sore. Namun malam harinya saya sedikti lega. Ada email dari Funika yang menyatakan bahwa order saya tidak lagi onhold, tetapi sudah dikirimkan melalui kurir. JNE, menurut email itu. No resi tidak lupa disertakan. Saya mengecek. Gagal. Nomor tidak ada katanya. Ulang lagi, periksa lagi hingga teliti, masih sama jawabanya. “Oh, mungkin tambahkan abjad ini, kita ikutin aja semuanya”, istri saya mencoba membantu. Angka dan huruf saya masukkan. Sama. Data tidak ada kata web resmi JNE itu. “Jadi, gimana?”, istri mulai kebingungan.

Lusa-nya, saya tidak mengecek. Dari pihak funika juga tidak ada kabar lebih lanjut. Padahal, berdasarkan tampilan di webnya, pengiriman hanya dua hari. Free lagi. Kemarin-nya saya mencoba mencari tahu review tentang funika. Teman-teman kantor belum ada yang pernah belanja di sana. Tapi, review online tidak ada yang buruk. Semua bagus. Tambah lagi, Funika menyebar iklan di mana-mana. Hampir di tiap Online Shop beken dia ada. “Masa iya nggak bener”, gumam saya dalam hati.

rajakirim

Hari Jum’at saya kembali mengecek. Saya coba telepon lagi. Tuuut … tuuut … tuuut … “Halo”, kata suara di ujung gagang. Nadanya tidak lagi sibuk, dan ternyata ada yang mengangkat. Saya tanya status. Operator melemparkan ke seseorang bernama Mita (atau Meta ya). Tanpa terdengar ada suara meneruskan, sepertinya mereka bersebelahan. Saya sebutkan nama, kemudian no orderan. Mita menjawab, “Oh iya Pak, pesanan itu sudah dikirimkan melalui ptprimatama.co.id”. “Ooohh pantes di JNE nggak ada datanya. Berapa no resinya?”, sergah saya. Mita lalu menyebutkan no resi yang ternyata sama dengan yang di emailkan sebelumnya.

Saya mengecek webnya. Dan saya langsung direct diarahkan ke rajakirim.co.id. Saya masukkan datanya, muncul: On Agent. Begitu statusnya berbunyi. Haah.. lega juga. Mungkin nanti sore sudah berubah. Sore-sore saya cek, dan ternyata Eror! Seperti web JNE ketika saya memasukkan no resi. Saya menghubungi Mita kembali, dan ternyata jawabanya sama. Iya, saya cek juga eror. Waduh ….

***

funika rak buku

Nilainya memang nggak seberapa. Cuma cukup beli chiki doangan. Hehe … Cuma, belanja dengan cara begini deg-deg ser juga jadinya. Kembali ke Mita. Dia lalu menyarankan saya menghubungi rajakirim langsung. Saya kontak, operator menanyakan keperluannya apa. Saya bilang tanya status. Dia lalu meneruskan. Kali ini terdengar suara telepon diteruskan. Seseorang mengangkat. Dia lalu bertanya dari program apa, saya jawab Funika. “Oh, kalau funika dengan Ibu Wati. wah tapi dia lagi online sekarang”, jawab seseorang yang saya belum sempat berkenalan dengannya. Bisa bantu nggak mba? Cek no resi ini. Saya lalu menyebutkan. “Wah pak, nggak bisa aplikasinya beda, nanti saja bapak telepon lagi. Langsung ke Ibu Wati, ektensinya 118”, dia menjawab. “Oh ok, mba”. “Mohon maaf ya pak internet kami lagi down”, begitu dia menambahkan.

Selama telepon-telepon-an dengan rajakirim, hape saya berdering. Funika yang menelpon, saya jadi hapal. Tapi, gagal terangkat. Dan Funika tidak lagi menelpon saya. Akhirnya saya yang telpon funika. Kali ini tersambung lagi. Operator suaranya masih sama. Kali ini saya langsung bilang ingin bicara dengan mita. Mita menjawab, “Ah iya pak, statusnya On Agent”. “Maksudnya?”, saya coba menegaskan. “On Agent berarti masih ada di agent, belum dikirim. Mungkin besok (sabtu), atau senin dikirimnya.” Mita menjawab diiringi tawa kecil tanda tidak enak. “Oh gitu.. minggu libur ya.” Mita menjawab iya, dan saya lalu menyudahi obrolan itu. Bilang terimakasih pasti, meski ragu masih meliputi.

Hari Sabtu datang juga. Funika sudah dipasrahkan. Dateng ya alhamdulillah .. nggak dateng ya, samperin kantornya !!! (eh itu bukan pasrah ya namanya ^^). Pagi menuju siang belum ada tanda-tanda. Saya kembali cek web rajakirim tetap sama, eror jawabnya. Sore belum ada kabar juga. Hingga akhirnya, selepas sholat Isya dari masjid persis, ruang tamu saya ada tambahan barang…

***

funika rak buku 2

Kardus sepanjang  120 cm, lebar 30 cm bersandar santai di dinding ruang tamu saya. Funika.co.id “Waaa…”, tetiba sumringah wajah saya. “Barusan datengnya neng?”. “Iya, tadi ada yang manggil-manggil, nggak taunya dari rajakirim. Buka a, buka …” kata istri tidak sabar. Saya buka, saya intip dan benar. Saya keluarkan bagian-bagiannya, sesuai pesanan. Dilengkapi dengan manual cara pasang. Bahannya bagus, sesuai dengan yang ada di gambar. Jadilah, malam minggu kemarin saya, mama fakih, dan fakih merakit rak buku itu. Fakih ternyata antusias juga, padahal sudah jauh melewati jam tidurnya. Beberapa kali dia juga sudah garuk-garuk kepala dan menguap.

Ruang tamu saya ketambahan peralatan baru lagi. Alhamdulillah, rak seharga Rp. 298.000 terpasang sudah. Maunya sih rak dari kayu beneran. Saya dan istri sudah ke tukang kayu, menyerahkan desain yang kami buat. Panjang 120 cm, lebar 30 cm, tinggi 100 cm. Itu rak yang kami inginkan, harga belum terkejar Rp. 1.200.000, sudah termasuk ongkos kirim. Bahannya jati belanda, bukan kayu press.

Tapi, setelah melihat sendiri bahan dan model rak nya, sepertinya saya akan pesan satu lagi. Buku-buku masih mengantri di kardus. Mereka sudah tidak sabar ingin kembali merasakan panasnya sinar mentari (halah apaan sih …).

***

funika rak buku 3

Belanja di Funika memang bikin harap-harap cemas. Tapi, memang begitu tantangan OlShop: Bagaimana membuat calon pembeli percaya. Saya hampir hilang kepercayaan dengan Funika. Pengiriman tidak dua hari sepertinya yang dijanjikan. Email yang dikirim juga salah informasi. Tapi, masih dalam batas wajar. Tidak sampai satu minggu, barang sudah saya terima. Sesuai lagi. Rasanya itu cukup.

Ada yang punya pengalaman belanja di Funika juga? mangga dikomen kang.

Salam,

diki septerian

0 thoughts on “Harap-harap Cemas Belanja di Funika

  1. Saya baru pesan barang dr funika cuma lewat lineshopping. Panjang sekali ceritanya.. Doakan semoga datang ya, agak sempet was was

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.