Hati-hati dengan Xiaomi Mi In-Ear Headphones

xiaomi mi in-ear piston 3 (1)

Saya bukan musisi. Bukan juga seorang Audiophile. Hanya seseorang yang ingin menikmati sajian dari para maestro dengan lebih baik. Maka, tulisan kali ini bukanlah ulasan, review atau apapun sebutannya itu. Sekadar berbagi kesan tentang penggunaan Headphone Mi In-Ear yang telah menemani saya sebulan terakhir ini.

***

Mi In-Ear saya beli dari Erafone secara online. Harganya Rp 219.000 tambah ongkos kirim 8 ribu rupiah. Mahal atau murah? Tentu relatif jawabnya. Bila bandingannya dengan headphone yang dijual di bus Depok-Sukabumi yang harganya 10 ribu rupiah saja, tentu mahal jawabnya. Namun, bila bandingannya dengan brand yang telah lebih dulu ajeg, maka bisa murah jawabnya.

Lalu apa yang membuat saya meminang Headphone keluaran dari Perusahaan Beras Menir itu?

Karena kotaknya. Suara belakangan. Haha …

xiaomi mi in-ear piston 3 (8)

Ini serius loh. Saya tidak pernah menyukai headphone yang berkabel karena riweuh. Seringkali saya sulit menggunakan kembali headphone bawaan HP yang telah bergulung-gulung tidak jelas. Mi In-Ear hadir dengan kotak penyimpanan yang mungil sederhana namun tidak tampak murahan. Kabelnya juga anti kusut, kevlar apa gitu sebutannya.

xiaomi mi in-ear piston 3 (5)
Bila dilihat lebih dekat, maka terlihat bahan luar kabel yang berbeda.

Terus keluaran suaranya bagaimana?

Jernih kang! Saya bisa mendengar suara-suara yang selama ini saya kira tidak ada. Saya baru tahu kalau Bayangkanlah-nya PADI ada suara latar berbisiknya! Begitu juga dengan dentingan gitar, desahan nafas, tarikan suara, dari lagu yang lain jelas terdengar. Sengaja saya mencobanya tidak dengan file kompresan macam .mp3. Lagu-lagu langsung saya unduh dengan pilihan kualitas paling tinggi dari JOOX.

Eh emang joox nggak kompresan file-nya?

Bagaimana keluaran suara bisa seperti itu? Salah satu jawabannya adalah karena karet peredam suaranya. Ketika kita memasukkan ujung headphone ke telinga, maka seketika itu suara-suara diluar menjadi sayup-sayup terdengar. Ketika fokus kita “dipaksa” beralih untuk mendegarkan suara dari headphone, barulah magic-nya bekerja. Bila headphone tidak kita mampatkan ke telinga, maka keluaran suara menjadi kecil sekali.

Di sinilah bahayanya. Di sinilah saya harus lebih berhati-hati. Beberapa kali saya menggunakan Mi In-Ear di kantor, dan melewatkan panggilan bos. Untung bos saya masih sabar, sekadar menyindir saja, kalau kedapatan lagi seperti itu, bisa gawat urusan!

Bagaimana dengan Bass-nya?

Keluaran suara rendahnya (Bass) tidak menendang-nendang. Bukan berarti jelek. Pas untuk ukuran saya. Untuk memastikannya saya coba dengarkan musik-musik dari Laruku. Ready Steady Go, Fourth Avenue Cafe, terdengar biasa saja bass-nya.

Suara tinggi dan tengah nya?

Aiihh.. jujur saya tidak tahu bagaimana mengukurnya kang. Daripada bicarain itu, lebih baik berlanjut ke hal-hal yang mudah: Tombol-tombol yang ada pada mic.

Ada tiga tombol pada batangan di headphone sebelah kanan. Fungsinya bisa berbagai macam. Saat ada telepon masuk, maka tombol tengah berfungsi untuk mengangkat atau mematikan telepon. Saat memainkan music maka tombol tengah berfungsi untuk pause bila ditekan sekali. Tekan dua kali akan memajukan trek dari daftar main. Tekan tiga kali akan mundur ke trek sebelumnya. Tapi, tekan tiga kali tombol tengah tidak berfungsi pada joox. Hanya tekan dua kali saja yang bisa.

Tombol atas dan bawah untuk menaik dan turunkan volume. Tidak ada perbedaan saat menerima telepon ataupun saat memainkan musik. Fungsi pada tombol ini bisa atur lebih jauh bila menggunakan handphone Xiaomi atau Iphone. Setidaknya itu yang tertera pada kardus pembungkus Mi In-Ear itu.

xiaomi mi in-ear piston 3 (2)

Di dalam kotak mungil nan mewah itu tersedia berbagai ukuran karet peredam kebisingan. Total ada 4 ukuran. XS, S, L, dan M. Jadi, kita tidak perlu khawatir bila ukuran tidak pas. Kenyataannya? Saya masih suka mengganti-ganti antara ukuran S dan M. Kadang pas-nya S kadang M. Entah kenapa, sepertinya lubang telinga saya berubah-ubah sesuai kondisi cuaca.

***

Menggunakan In-Ear untuk mendengarkan musik (atau apapun) tidak selalu menyenangkan. Utamanya karena keluaran suara yang terbatas dan lingkar headphone yang tidak pas. Xiaomi Mi In Ear ingin coba menjembatani itu.

***

Salam

diki septerian

 

5 thoughts on “Hati-hati dengan Xiaomi Mi In-Ear Headphones

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.