Ingin Beli Suzuki Address, Tapi ….

suzuki address touring-22

Sudah sampai tahap test ride.

SEJAK peluncuran pertamanya di bulan Oktober 2014 lalu, saya sudah menyukainya. Ia mengisi hampir semua centang dari kriteria motor yang saya cari. Matik, ergonomi yang pas, tangki dengan kapasitas besar, bagasi super lega, performa bisa diandalkan, ukuran ban normal, dan tidak pakai mahal.

Satu yang mengganjal: si EDA belum genap satu tahun umurnya!

***

Suzuki Address seperti darah segar bagi Suzuki Indonesia yang cuma mengandalkan bebek hyper-nya sebagai tulang punggung perusahaan. Desainnya relatif diterima. Tidak aneh. Tidak jelek, meski jarang juga yang menyebutnya keren. Celah pasar yang diincar pun ada: Konsumen Honda Spacy yang kini produknya seperti disuntik mati. Bahkan, ia bisa juga menarik minat calon konsumen Honda Beat, Vario 110, juga Mio Series-nya Yamaha.

Namun sayang, di akhir tahun 2014 Yamaha melakukan penyegaran Mio Seriesnya. Mio J dan Mio Soul disuntik mati, diganti dengan Mio M3 dengan desain dan mesin baru yang menjadi andalan: Bluecore. Strategi berikutnya bisa ditebak, tahun-tahun berikutnya Yamaha memperbarui jajaran produk matik-nya lagi. Soul GT diganti dengan Soul GT 125 Bluecore. Xeon RC menjadi Aerox 125 meski belum bluecore. Dan yang paling menggema: Yamaha NMAX.

Sebagai pemimpin pasar, Honda tidak tinggal diam. Beat series, yang menjadi matik paling laris se-Indonesia ikut diperbarui. Bukan cuma 1, dua varian dihadirkan. Satu dengan desain tetap, satu lagi dengan ubahan desain yang lebih nge-pop. Teknologi diperbarui dengan memasang ACG starter dan ISS yang dulu hanya bisa dinikmati oleh PCX dan Vario 125. Strategi berikutnya bisa ditebak. Semua jajaran matik Honda kini dilengkapi dengan fitur yang membuat starter motor tidak lagi terdengar. Bahkan, sebagai raja matik 125, Vario kini dapat dinikmati dengan rentang CC dari 110 hingga 150.

Suzuki?

Semenjak mengeluarkan Address di kuartal akhir tahun 2014, tidak lagi ada produk baru yang meluncur. Tidak ada pembaruan Hayate Injeksi, tidak ada Sport Batangan 150 yang dinanti-nanti. Ada sih yang baru, Satria akhirnya di injeksi-kan. Cuma ya … bandingkan saja dengan dua pabrikan di atas.

***

Meski begitu, hati saya tetap terpaut ke Address. Apalagi kini sudah beredar versi Eropa-nya. Warna milenium polosnya sulit sekali untuk ditolak. Semakin membuat detak jantung saya semakin keras ketika melihatnya.

Mio M3 yang sekarang sudah diperbarui menjadi Mio Z tidak berhasil memesona saya. Sempat saya mencobanya. Kesimpulannya: tidak. Dia bukan untuk saya. Peredam kejut depan, belakangnya terlalu kaku. Meski ditolong oleh jok yang super empuk dan nyaman. Juga pegangan kemudi yang terlalu rendah. Tidak proporsional dengan postur tubuh saya.

 

pegangan kemudi yang terlalu rendah untuk saya.
pegangan kemudi yang terlalu rendah untuk saya.

 

kaki saya menapak sempurna.
kaki saya menapak sempurna.

Tidak juga dengan Aerox 125. Tarikannya memang yahud, suspensi belakangnya juga lebih empuk dari Mio Z. Stangnya terlalu lebar. Bagasi luas, tapi ada yang menonjol di tengah, membuat kapasitas jadi berkurang. Kapasitas bensinnya juga mini, bahkan kalah dengan Mio Z.

Tidak juga dengan Soul GT 125. Meski belum pernah mencobanya, tapi lekukan kegagahannya sama sekali tidak menarik buat saya.

Satu produk Yamaha yang sempat mencuri perhatian: GT 125 Eagle Eye. Cuma sayang, kapasitas tankinya beda tipis dengan si EDA : 3.8 L. Bakalan bosan saya dibuat mengantri di pom bensin nantinya.

Bagaimana dengan matik dari Honda?

Cuma Vario 125 (dan 150) yang memiliki kapasitas tangki lebih dari 5 liter. Jadi cuma itu pilihannya. Ada sih PCX, cuma ya… harganya melangit. Eh… ada juga sebenarnya Spacy Helm-in. Cuma ya ampuuun… Makasih deh, kalaupun dikasih, pasti langsung saya cari lawannya.

Vario 125 memang yang menjadi penghalang utama saya untuk meminang Address. Tampangnya, kapasitas tangki dan bagasinya, tinggi tempat duduknya, lampu-lampu led nya, ACG starternya. Meski harganya terpaut 3 juta dari Suzuki Address tapi, pantaslah dengan yang ditawarkan.

Tapi… ini yang aneh: Ada lima orang penunggang Vario 125 eSP di divisi tempat saya bekerja. 3 orang sudah menggantinya. Satu orang beralih ke X-Ride, satu orang ke Aerox 125, dan satu lagi ke NMAX.

Alasannya?

Ingin coba yang baru, ingin punya motor dengan cakram belakang, dan beratnya Vario 125 yang menyulitkan saat diparkiran.

Itu juga yang menjadi ganjalan saya terhadap Vario 125. Tinggi dan berat. Bobot ya, bukan ketika dijalankan.

***

suzuki address elegant LG-1

Dari semua produk matik yang ada, anehnya saya melihat Address-lah yang paling pas untuk saya. Bahkan ketika Suzuki Shooter yang umurnya lebih singkat 5 bulan dari yang saya perkirakan. Saya tetap percaya pada produk berlambang S itu. Nggak ada kapoknya.

Agar lebih meyakinkan, akhirnya saya melakukan test ride Suzuki Address itu kemarin. Jarak yang ditempuh Address yang saya gunakan masih 600-an kilometer. Rute yang saya tempuh, sekitaran Danau Sunter dan kompleknya, juga jalan Landas Pacu.

Hasilnya?

Positif. Saya mengaminkan segala ulasan yang mengatakan rem depan-nya tidak pakem. Betul sekali, bahkan rem belakang yang notabene tromol lebih pakem dari pada cakram yang di depan itu. Saya juga mengaminkan peredam kejut bagian belakang yang lembut. Untuk bagian depan rasanya lebih lebih kaku. Saya juga mengaminkan akselerasinya yang spontan. Benar-benar lincah, jalanan lurus Sunter Selatan menjadi saksinya. Enteng dan anteng meski jarum speedo tanpa terasa sudah menunjukkan angka 80 km. Ditarik sampai 90 juga tidak membutuhkan usaha sama sekali.

Pemilik Address yang sedang service juga mengakuinya. Ia sudah 1 tahun menggunakan Address. Puas katanya. Padahal dia tinggi besar, tapi kaki tidak mentok di dek. Di badan tidak pegal. Saya gali, ternyata dia pernah pakai Scoopy, Spacy, Hayate, Skywave, Xeon. Incaran utamanya adalah bagasi yang besar. Spacy mentok ke bawah jika ia pakai, Scoopy bikin badannya pegal, Xeon larinya paling kencang, tapi bensinnya mengikuti. Hayate dan Skywave lebih stabil tapi ada tulang di tengah membuatnya terganggu. Dan lagi masih karburator sistem pembakarananya.

Address-lah yang dia pilih. Tapi rugi kalau beli baru, katanya. Lebih baik seken. Akhirnya ia membuka kartu kalau Address yang ia tunggangi bukan baru. Beli dari tetangganya yang menang hadiah. 10 juta saja. Kilometernya masih 6 km kalau tidak salah.

Aiiih… itu sih masih baru juga namanya!

Hal senada juga disampaikan teman saya yang meminang Address versi Moto GP. Kini kilometernya sudah 18.000. Singkatnya dia bilang: Address motor paling memuaskan.

***

Kali ini tidak banyak foto yang bisa saya bagi memang. Tapi itu yang saya alami kemarin, saat memperbaiki Suzuki Shooter a.k.a EDA yang telah berumur 40.000 km. Sekarang saya dipersimpangan jalan. Bila saja Suzuki Address didukung jaringan purna jual yang kuat seperti merk tetangga. Tidak akan ada tapi-tapi lagi untuk meminangnya.

 

salam,

diki septerian

 

One thought on “Ingin Beli Suzuki Address, Tapi ….

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.