I’tikaf di Masjid Baitul Ihsan Bank Indonesia 2018

kegiatan ramadhan masjid bi 2018

I’tikaf di Masjid Baitul Ihsan (BI), masih tetap favorit 2018?

Setiap akhir Ramadhan, artikel saya tentang I’tikaf di Masjid BI selalu ramai dikunjungi. Padahal, itu sudah tiga tahun yang lalu. Beberapa informasi sudah tidak valid lagi. Tahun 2018 ini, saya coba memperbaruinya.

___

Lokasi

peta masjid bi

Tidak ada yang berubah. Lokasinya masih berada di dalam Komplek Bank Indonesia di Jalan Budi Kemuliaan, Jakarta. Dekat sekali dengan Monas, dan Stasiun KRL Juanda. Bila ada yang ingin ke sana tapi tidak mau repot membawa kendaraan bisa turun di stasiun itu, lalu lanjutkan dengan Bajaj ataupun Ojek Online. Simpel.

Namun, bila memaksa ingin naik kendaraan, maka harus diperhatikan tempat parkirnya. Kini tidak bisa lagi di dalam komplek Bank Indonesia, sekarang “nebeng” di Rumah Sakit Budi Kemuliaan yang ada di sebelahnya. Yang kalau sudah terlalu malam penuh jadinya.

Untuk tarif parkir mobil Rp 14.000 semalaman (tarif maksimal). Sedangkan Motor berapa ya. Hehe.

___

Kegiatan

kultum masjid bi
Ustadz Yusuf Yusuf Awwad (kalau tidak salah ya, nama Yusuf-nya memang dobel)

Masih sama seperti dulu-dulu. Kultum, Taraweh 8 rakaat (2 rakaat-2 rakaat), Witir 3 rakaat, istirahat, kajian jam 21.30-23.00. Tidur (Atau terserah mau ngapain). Terus sholat lagi, Tahajud dari jam 01.00-03.30.

Kok lama? Sudah tradisi di sini untuk menyelesaikan 3 Juz Al-Qur’an selama 10 hari terakhir dalam satu Tahajud (8 rakaat+ 3 Witir). Setelah itu makan sahur, sholat shubuh, pijit-pijitan, lalu kultum lagi.

Setelah itu saya tidak tahu. Karena harus kembali “nguli”, hehe.

___

Registrasi

registrasi i'tikaf masjid bi
Tempat Registrasi I’tikaf di Plaza Masjdi

Registrasi i’tikaf sekarang bisa dilakukan melalui 2 jalur: Langsung dan Online. Langsung, yang daftar mengisi formulir, sedangkan online yang mengisi formulir juga tapi secara online. Praktiknya sama saja. Karena dua-duanya harus daftar ulang lagi untuk memastikan mengambil kupon makan sahur.

Harganya? Rp 20.000. Menunya nasi, lauk, sayur, pisang. Seringnya saya dapat ayam dan sambel goreng ati, plus tumis kol. Seperti masakan padang, tapi kadang bukan. Kadang dapat nasi kotak juga.

Ada juga yang baru: kartu tanda pengenal. Sejak masuk gerbang, kita disambut oleh Satpam dengan alat detektornya. Kita harus membuka tas yang kita bawa. Buat jaga-jaga saja kang. Karena itu, peran kartu pengenal tadi menjadi penting. Dengan itu kita jadi lebih mudah keluar masuk.

Eh ini mau itikaf apa mejeng, kok jalan-jalan sih.

___

Trik

Bila bosan dengan makanan yang itu-itu saja. Kedai di luar Masjid BI menyediakan berbagai aneka masakan. Bila ingin yang gratisan? Bisa, tunggu saja jam 04.05, biasanya panitia i’tikaf akan mengumumkan, “Bagi peserta yang belum menukarkan kupon segera tukarkan, bagi yang tidak punya kupon dipersilahkan juga.”

Gratis, tis, tis … menariknya saya menemukan beberapa orang memang menantikan momen itu. Deg-deg-an juga sih. Bagaimana bila ternyata stok nasi bungkusnya habis?

Ya, nasib. Hehe.

___

Tidur, mandi, buang air.

Bantal i'tikaf
Bantal pun ikut mengejar Lailatul Qadr

Tahun ini dicoba peraturan baru: Ruang utama Masjid tidak boleh untuk tidur. Hanya diperbolehkan di Plaza dan di Balkon atas. Juga hanya diperkenankan membawa anak yang umurnya di atas 13 tahun.

Kenyataannya? Belum bisa berjalan sepenuhnya. Yang tidur di ruang utama masih juga banyak, yang bawa anak di bawah 13 tahun juga ada.

Bagaimana dengan kamar mandinya?

Masih seperti dulu, di sejajar tempat wudhu atau di sebelah bawah. Bilik-bilik, yang kadang showernya sudah tidak berfungsi lagi.

Air panas?

Ada, disediakan galon beserta dispensernya. Cuma, ini harus dipantengin, karena peminatnya banyak.

Perempuan, ibu-ibu, akhwat dan sebagainya

Gerbang Masjid BI

Tempat ibadahnya sama di bagian ruang utama masjid. Tempat tidurnya ada di Balkon atas dan Basement. Entah seperti apa kondisi basemen itu. Sekilas saya lihat ada ruangan yang berkarpet juga. Lebih tertutup, lebih privasi.

Detilnya? Mau lebih jelas lagi? kudu pake kerudung dong saya. hehe. Silahkan bantu cerita buat yang pengalaman ya.

___

Apa lagi?

Foto bersama Ustadz Yusuf Yusuf dari Palestina

Hmmm, silahkan buat Akang Teteh sekalian yang ingin berbagi pengalaman i’tikafnya. Boleh juga di Masjid lain, biar tambah referensi dan teman kan.

 

Salam,

diki septerian

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.