I’tikaf Di Masjid BI … Menyenangkan kah ?

Masjid BI

Update: I’tikaf di Masjid BI 2018

“Ramadhan memasuki babak final”, begitu seorang ustadz memulai kultum siangnya. Ia lalu melanjutkan dengan dalil-dalil tentang i’tikaf. Bagaimana menjalani sepuluh hari terakhir Ramadhan. Sekaligus memotivasi agar “memenangkan” babak final ini.

I’tikaf. Otak saya langsung me-recall satu tempat dengan cepat: Masjid BI. Tempat i’tikaf favorit saya sejak SMA dulu. AC-nya, karpet empuknya, sajian berbuka-nya, gratis-nya …nyam.. nyam. Emang dah manusia, mau nya gratisan mulu! Hehe … bacaan imam-nya, kajian-kajiannya juga ingat kok. Mantap deh pokoknya.

Karena itu, tahun ini saya putuskan untuk i’tikaf lagi di sana. Masih kah seperti dulu ? (eh… nggak dulu-dulu banget sih, 2 tahun lalu juga i’tikaf di sana). Ini pengalaman i’tikaf saya selama 2 malam, di masjid BI itu.

 

Lokasi

Sebelum masuk ke masjid, kita bicarain dulu bagaimana sampai ke sana. Masjid Baitul Ihsan Bank Indonesia ini—kita singkat saja Masjid BI, dekat sekali dengan Monas. Kalau dari arah selatan (Bogor, Depok, dll) berarti sebelum monas. Dari arah timur (bekasi) berarti setelahnya. di Dekat bundaran air yang ada kuda-kudanya. Jadi, yang mau ke sini dengan transportasi publik, bayangkan saja kalau mau ke monas. Belum pernah ke monas? Wadaw 

Buat yang naik motor bisa masuk dari jalan Abdul Muis. Bila dari arah utara, setelah perempatan lampu merah yang ada indomaretnya, jalan sedikit, lalu masuk ke parkiran di sebelah kiri. Ada yang baru di sini: tiketing otomatis. Gratis lagi. Mantap!

Suasana

Saya masuk ke masjid menjelang berbuka. Benar-benar menjelang berbuka. Ternyata plaza masjid telah penuh. Orang-orang berjajar rapi ditemani kotak nasi. “Ini mas”, seorang bapak menunjukkan tempat air minum ke saya. Saya mendekat, mengambil air mineral botolan di kardus yang ditunjuk bapak itu. Celingak-celinguk, tengak-tengok kanan kiri depan belakang. “Mana nasi kotaknya”, perut bertanya-tanya. Sudah habiskah? Ah masa … lagi-lagi perut bertanya, kali ini dengan nada gelisah.

Makanan berbuka ternyata memang tidak ada lagi. Habis terbagi-bagi. Itu kesimpulan saya setelah mengelilingi selasar utara dan selatan plaza ba’da maghriban. Akhirnya saya putuskan untuk keluar. Persis di depan gerbang masjid, di pinggir jalan banyak yang berdagang. Alhamdulillah. Mau sate? Ada. Nasi Goreng? Ada. Soto? Juga ada. Sayapun makan di sana, di trotoar yang ber-plang “dilarang berjualan di area ini”.

Setelah memenuhi keinginan perut, saya kembali ke dalam. Mandi. Baju-baju saya letakkan di lantai 2. Saya mandi di kamar mandi yang di bawah. Sekarang semua sudah dilengkapi dengan tempat buang air. Ada delapan pintu kamar mandi. Lumayan, tambahan dari 3 pintu saja yang ada di dekat tempat wudhu. Untuk laki-laki saja. Untuk perempuan ada persis di sebelah kamar mandi delapan pintu itu. Dipisah, tidak bisa saling menatap. Lah iyalah! Kamar mandi untuk perempuan mungkin ada juga di baseman.

 

Kegiatan

Taraweh dimulai setelah kultum. Delapan ditambah tiga rakaat witir. Selesai jam 20.30. Setelah itu acara “bebas”. Kajian dimulai jam 21.30. Tema i’tikaf tahun ini adalah Fikh Prioritas. “Digeber” sampai jam 23.00. Setelah itu tidur. “Nanti jam 01.00 akan kami bangunkan, seperti biasa, kita akan tahajud dengan bacaan 3 juz”, sampai dengan jam 03.00. Begitu panitia memberi informasi. “3 Juz? Bukannya 1 juz ya? Otak mencari-cari pembenaran. “Bangun jam 1, sholat 2 jam, terus sahur. Nggak mungkin dah… goyang lu bakalan”, lagi-lagi otak menggoda. Tanpa saya perdulikan, saya rebahan. Saya pilih tidur di lantai 2 karena, di ruang utama AC nya gak nahan, di plaza luar terlalu ramai lalu lalang. Di lantai 2 juga ada bonus: naik turun tangga. Lumayan, hehe …

“Kepada para jamaah agar bangun, sebentar lagi kita akan mulai sholat tahajud”, suara panitia membangunkan saya. Nggak kerasa … sudah jam 1 saja. Sholat nggak, sholat nggak … “ngapain shubuh masih jauh” … “tahan bentar, masa lu cuma pindah tidur doangan”. Begitulah pertentangan otak dan hati saya. Akhirnya…. saya turun juga.

Jam 1 persis tahajud dimulai. “Alif lam mim”, imam memulai dengan juz 1. Bacaan santai, tartil, merdu. Saya mencoba bertahan, walau kadang goyang. “assalammu’alaikum …” Imam menyelesaikan rakaat keduanya. Jam 01:48, itu yang saya lihat di depan. Lumayan juga!

Rakaat demi rakaat terlalui. Ternyata prediksi panitia salah. Sholat tahajud selesai jam 03.30. Tanpa witir. Siap-siap untuk sahur. Saya ke plaza, untuk menukarkan kupon. Setelah makanan saya dapat, sahur, sholat shubuh, lalu kultum sampai dengan jam 05.30. Kira-kira begitu kegiatan selama i’tikaf. Saya tidak tahu apakah ada kajian dhuha, dzuhur, ataupun ashar. Karena saya harus kembali ke kantor. Kerja. Hari gini masih kerja !?

Eh, sebentar.. tadi ngomong kupon? Ada yang di-skip ya?

 

Registrasi I’tikaf

Ya… ini yang sedikit baru. Sampai dua tahun lalu, seingat saya memang ada registrasi untuk i’tikaf. Maksudnya, supaya panitia bisa menyediakan makan sahur. Biayanya kala itu Rp. 10.000. Kalau tidak salah ya … Untuk tahun ini, sistem registrasi tetap dijalankan. Panitia berjaga di plaza setelah taraweh. Kita menulis data, lalu membayar. Setelah itu dapat kupon. Biaya-nya? Rp. 30.000, 1 malam.

Kok mahal? Tergantung cara pandangnya. Kalau tiga puluh ribu itu dilihat hanya untuk makan sahur saja, ya mahal. Tapi kalau dilihat, Rp. 30.000 itu untuk AC gratis, lapak rebahan gratis, ilmu-ilmu gratis, bacaan-bacaan sholat gratis, ya murah dong. Apalagi, ternyata Rp. 30.000 itu subsidi silang. Di saat santap sahur panitia menyediakan lebih, dan membolehkan mereka yang tidak punya kupon untuk mengambil makanan juga.

Hari ke 2

Lagi-lagi saya gagal dapat nasi kotak untuk berbuka. Doa tukang soto, tukang nasi goreng, tukang sate kenceng juga yak! Hehe … hari ke 2, saya tidak telat-telat banget sebenarnya. Saya duduk rapi di barisan agak belakang. Menunggu gesar-geser nasi kotak itu, tapi ternyata tidak kunjung datang. Kegiatan pun berjalan seperti hari pertama. Hanya pengisinya saja yang berbeda. Tarif registrasi I’tikaf nya juga masih sama. Eh.. jumlah peserta juga beda. Hari ke 2 lebih sedikit dari hari pertama.

Meski tidak mendapatkan kotak nasi untuk berbuka 2 hari ini, i’tikaf di masjid BI tetap menyenangkan. AC-nya, karpet empuknya, imamnya, kajian-kajiannya …

Ada yang punya pengalaman i’tikaf di tempat lain? Mangga di share kang :). Semoga bermanfaat.

masjid BI

Salam,

diki septerian

 

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.