Jalan Alternatif Menuju Jakarta 2

Inilah jalan alternatif yang selama ini luput dari pandangan mata saya.

MENEMUKAN hal baru selalu menyenangkan. Apalagi hal itu sebenarnya sudah ada dari dulu. Hanya karena deraan rutinitas, mata tak lagi jernih memandang. Melewati jalan yang sama setiap hari contohnya. Maka, ketika berhasil menemukan jalan baru, senangnya bukan main.

Tujuan perjalanan tetap sama. Gunung Sahari, Jakarta. Berangkat juga tetap sama dari Sentosa Depok. Jalan alternatif menuju Jakarta sebelumnya pernah saya tulis di sini. Pada tulisan itu, saya memulai jalan alternatif ketika sampai di Jalan Raya Lenteng Agung. Kali ini mundur jauh, mulai dari Margonda.

Akses UI

jalan alternatif menuju jakarta_margonda-ui-lenteng

Margonda hari-hari ini begitu padatnya. Jalan layang selalu penuh. Mobil-motor berebut jalan yang mengerucut menjadi dua lajur saja. Apalagi bila ada lubang antar sambungan beton setelah jalan layang tadi. Buntut macetnya bisa sampai Kober, bahkan Detos !

Saya berbelok ke arah Pondok Cina. Masuk Ke UI. Berputar, kemudian lurus menyusuri lengangnya jalanan sambil ditemani rimbunan pohon. Keluar di pintu masuk UI di Jalan Raya Lenteng Agung. Itu loh, yang ada gapura besar di kiri jalan.

Jalan ini tidak melulu enak. Karena pertama, akan terhambat saat akan melintasi rel kereta. Motor hanya diperbolehkan lewat satu-satu. Kedua, terlalu jauh berputarnya. Akses UI di pagi hari tidak bisa langung keluar melwati jaur biasa. Bukan di dekat stasiun UI, tapi berputar setelah melewati fakultas teknik.

Tapi, menyusuri UI di pagi hari tetap menyenangkan. Menyegarkan. Dibanding bila harus berimpit-impitan di jalan layang yang ujungnya menyempit itu.

 

Tepian Taman Makam Pahlawan

jalan alternatif menuju jakarta_pasar minggu-kalibata timur-taman makam pahlawan

Untuk mengakali macetnya lampu merah Kalibata-Pancoran, saya pernah menulis untuk berbelok melewati Kalibata Timur Raya. Lalu menyusuri rel kereta. Kali ini tidak perlu sampai ke sana.

Belok kiri saja diperempatan jalan yang ada pangkalan ojeg-nya. Kemudian ikuti jalan, lalu masuk ke jalan setapak yang hanya bisa dilalui oleh motor. Jalan inilah yang membuat saya ragu. Di peta hanya terlihat garis hitam kecil, bukan tanda jalan. Tapi, sebenarnya ini jalan yang bisa dilalui. Persis di sebelah Taman Makam Pahlawan.

Jalan ini juga tidak terlalu enak. Karena rusak, dan kecil sekali. Tapi jauh lebih cepat lewat sini daripada harus menyusuri rel kereta.

 

Kali Ciliwung

jalan alternatif menuju jakarta_prokalmasi-rscm-kali ciliwung-kramat

Bila telah melewati Pancoran, jalanan relatif lengang sebenarnya. Maka saya tidak pernah berpikir untuk mencari-cari jalan alternatif lagi. Tapi, Jalan Pangeran Diponegoro yang RSCM tepat berada di sana kini menyempit. Diambil oleh trotoar yang lebarnya bisa untuk memarkirkan 2 mobil. Saya selalu terkena lampu merah di sana, tidak bisa lagi langsung belok kiri.

“Lewat kali aja, keluar-keluar di pom bensin Kramat”, teman saya menyarankan. Saya ikuti sarannya. Saya telusuri jalan yang ada tepat di sebelah RSCM. Dan luar biasa! Saya terhindar dari 3 lampu merah yang membosankan. Juga kemacetan yang dibuat oleh mobil-mobil yang parkir sembarangan.

Menyusuri kali di pagi hari tentu menyenangkan. Sayangnya jalanan itu penuh dengan polisi tidur. Tinggi-tinggi pula. Apalagi bila ada mobil yang ikut-ikutan ingin menikmati kali, pelan-pelan tidak lagi terelakkan.

***

salam,

diki septerian

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.