Jejak jejak Amal (Plus gratis download materi-materi i’tikaf masjid BI—termasuk materi Ust. Haikal Husein)

BERAKHIR sudah. Masa-masa latihan selesai sudah. Malam-malam penuh keseriusan—i’tikaf, kini berakhir sudah. Malam terakhir tidak begitu menyenangkan sebenarnya. Setelah Menteri Agama mengumumkan tanggal 1 Syawal, malam itu juga langit bergemuruh. DAR DER DOR. Petasan mengudara, mengalahkan laju suara takbir. Barisan Sholat Isya pun kini kembali sepi … Inikah hasil latihan itu?

 

Lebaran memang menyenangkan. Tapi banyak juga yang kelewatan. Sholat shubuh berjamaah kelewatan, tilawah kelewatan, Dzuhur, Ashar, Maghrib, Isya juga begitu. Godaan nya berat. Rasanya bekas-bekas Ramadhan tidak lagi terlihat. Laman ini juga kelewatan. Sehari, dua hari, tiga hari hingga hari ke tujuh tidak ada tulisan baru yang terpublish. Pantas saja tema kultum shubuh terakhir kala itu begitu menggugah. Tema yang seharusnya berwujud dalam keseharian: Mari BERAMAL Nyata.

Mereka yang senantiasa berbuat

“Berdakwah di depan antum, demi Allah mudah. Tapi, coba keluarlah !” Ustad Herry Nurdi berulang kali menyatakan hal itu. Ustad dengan perawakan sedang, janggut tebal, dan kalem itu benar-benar berbeda dengan pemberi kultum malam sebelumnya. Bahasanya lembut, tanpa humor berlebihan, namun pintu hati serasa diketuk. Ustad itu menceritakan orang-orang yang melakukan amal sholeh. Siapapun, apapun, bagaimanapun kondisinya. Mereka beramal nyata untuk sekitarnya. Berikut beberapa cuplikannya:

#1. Pesantren Jawahirus As- Sa’adah. Pesantren yang depannya Lokalisasi. Kirinya kampung begal, belakangnya komplek santet. Berada di tengah-tengah rawa. Saya kaget ketika melihat Ustad yang sehari-hari mengurus pesantren di sana: Rambut gondrong panjang sepinggang. Pakai sabuk ala jawara betawi. 15 tahun ia bersabar di sana. Apa jawabnya ketika ditanya kenapa masih mau mengurus pesantren itu? “Agar orang-orang yang bermaksiat malu melihat pesantren ini”.

#2. Sedekah halte. Ada pasangan pensiunan yang saya kenal, kerjaannya nabung. Setelah uang terkumpul mereka membangun halte. Ketika ditanya, kenapa melakukan ini: “Agar orang-orang yang menunggu tidak kepanasan dan kehujanan”.

#3. Sedekah periwitan. Ada juga yang sedekah aneh: periwitan. Ketika ditanya kenapa begitu? Karena ada orang-orang yang sulit berekspresi. Ketika terjadi bencana alam atau apapun, mereka sulit berkata-kata. “Jadinya saya beri pluit agar lebih mudah digunakan. Saya juga beri arahan bagaimana dan kapan memakainya.”

 

#4. Ustad Abdul Wahab. Dakwah di tengah hutan dengan kaos kaki kuning. Kenapa begitu? “Agar ketika saya mati, mereka mengenali saya.” Ketika ada yang menyebrang sembarangan hujan-hujan, sang ustad bukannya memaki, malah segera turun membawa payung. Saya malah hanya duduk terdiam sambil mengeluh. Itulah reflek karena sering berbuat. Karena hati sudah lapang.

#5. Kisah seorang guru di pertambangan pasir. Yang penghasilannya hanya Rp. 450.000/bulan. Uangnya habis untuk “merayu” murid agar mau sekolah. Sampai-sampai menjemput ke rumah-rumah.

#6. Ceu Euis. Seorang buta, karena waktu kecil matanya tertusuk tusukan sate. Domisili di Cililitan. Ia mengajar, punya murid sampai di Cileungsi. Semangat sekali mengajarnya. Pernah ia bertanya, apakah saat dibangkitkan kelak, kami-kami ini tetap dalam keadaan seperti ini? Saya tidak bisa menjawab, tapi malahan saya teringat dengan ayat yang menyatakan bahwa kita yang dapat melihat malah dibangkitkan dalam keadaan buta.

Ustad itu menutup ceramahnya. Belum jam 6, tapi seperti biasa mereka yang tertarik untuk melanjutkan ikut berkumpul. Kali ini kebanyakan yang muda-muda. Ustad Herry melanjutkan ceritanya:

 

#7. Klub Vespa. Setiap turing, selalu mampir di masjid-masjid yang dilewati untuk membersihkan kamar mandi dan tempat wudhu. Pernah sekali turing, 5 masjid yang kebagian dibersihkan.

#8. Pantai Indah Kapuk. Datang ke sana, lihat pengelolaan sampah. Setiap hari selama Ramadhan tambah 60 ton. Teman-teman dari DAI TV yang sudah mendahului.

#9. Tanjung Kail. Anak-anak pulang bawa hapalan ayat dan hadis. Ada satu anak mendendangkan, “La tahgdob walaka Jannah”. Bapaknya pusing, apaan sih artinya? Si anak nggak ngerti. Sang Bapak lalu menanyakan ke guru ngajinya. Ternyata artinya Jangan Marah, Insya Allah Surga. Akhirnya bapaknya berubah.

Ustad Herry mengingatkan kepada yang mendengarkan. Lakukan apa saja yang kita bisa. Punya buku-buku di rumah? Keluarin. Ajak bapak-bapak pensiunan, sediain kopi teh. Punya waktu luang? Keluar. Bisa bantu-bantu ngajar. Sekarang ada di Cikoneng, ngajar 35 anak baru mau masuk smp. Ada juga di kampung sarjana, bantunya sederhana aja. Sebulan sekali nurunin anak-anak di kampus-kampus. Ceritain, semangatin mereka. Biarkan mereka bercita-cita.

Kita harus beramal konkrit. Yang ini tuh nggak konkrit (sambil mengangkat-angkat hape-nya). Ngetwit tuh nggak konkrit, yang konkrit tuh benerin sendal. Dari tahun tahun ke tahun sendal berantakan terus (menunjuk sandal di depan masjid).

Kalau melakukan kebaikan pasti ada yang nggak seneng. Pasti. Woles aja. Ade saya kalau sholat shubuh, berangkat lebih awal. Bangunin satu-satu rumah ke rumah. Ada yang nggak seneng. Sabar aja. Sampai alam ikut berubah. Seperti dinginnya api kepada Nabi Ibrahim. Nanti antum ketika melihat orang akan senang saja.

Oleh-oleh dari Masjid BI

I’tikaf di Masjid BI benar benar berkesan. Imam-imamnya, kultum-kultumnya, kajian-kajiannya, nuansanya. Kini tak lagi ada. Tapi, seperti yang Ustad Herry katakan, mental ramadhan harus dibawa. Amal-amal itu harus berjejak di keseharian.

 

Saya pulang. Berharap bertemu lagi ramadhan tahun depan. Sebagai oleh-oleh, saya bawakan materi-materi kultum dan kajian. Tidak semua memang, karena tidak semua ustad ceramah dengan menggunakan power point. Tapi, semoga ini bermanfaat.

Download materi i’tikaf masjid BI 2015.*

Salam,

diki septerian

 

*bila link tidak berfungsi, infokan ke saya ya 🙂

2 thoughts on “Jejak jejak Amal (Plus gratis download materi-materi i’tikaf masjid BI—termasuk materi Ust. Haikal Husein)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.