Ke Tanah Suci, atau Beli Rumah Dulu?

Cerita tentang cara lain memiliki rumah.
***

Pak Raden mengirim pesan. Mohon maaf sekaligus pinta. Tolong didoakan, karena akan berangkat ke tanah suci. Empat puluh hari. Artinya, ketika pulang, Pak Haji panggilannya nanti.

Umurnya belum genap lima puluh, meski putih sudah mendominasi rambutnya. Jalannya masih gagah, sehatnya jangan ditanya.

Saya jadi teringat orang tua. Umurnya jelas lebih tua. Kerut mulai menghiasi wajah serta jari-jemarinya. Hingga saat ini, saya belum mendaftarkan mereka untuk berangkat ke sana.

Umur berapa akan berangkat bila terus saya tunda?

Maka, tahun depan (2018) saya bertekad akan mendaftarkan mereka. Bismillah.

Istri setuju. Niatan itu lalu kami sampaikan. Jawabannya ternyata tidak terduga, “Meuli imah heula maneh” (beli rumah dulu sana).

***

Mas Putra bercerita. Ia baru saja akan mengambil rumah lagi. Untuk investasi katanya. Ternyata duitnya banyak. Padahal, dia sedang mencicil rumah juga.

“Yang sekarang sudah jalan tiga tahun. Cicilannya Tiga Juta Dua Ratus sebulan”.

Lamanya? “Lima belas tahun”.

Memang dp berapa? “Tiga puluh persen, Seratus Dua Puluh Juta”, ia melengkapi.

Harga beli cash-nya?

“Tiga Ratus Delapan Puluh Juta. Sekarang, rumah di sini harganya sudah Enam Ratus Juta-an”, buru-buru ia menimpali, sebelum saya berondong lagi dengan tanya.

15 Tahun. 3,2 juta. Padahal hanya kurang 260 juta saja. Mengapa begitu?

“Saya pilih pembiayaan Syariah. Flat selama-lamanya”, jelasnya.

***

Ibu Putri berkunjung beberapa waktu yang lalu. Ia menyampaikan ingin. Agar kontrakan yang saya tinggali dulu, keluarganya yang melanjutkan.

Kontrakannya yang lama naik 3 juta. Ia keberatan, dan memilih untuk pindah saja. Saya tidak bisa memutuskan, walaupun kunci masih saya yang pegang.

Anaknya 3. Masih sekolah semua. TK, SMP,  dan Kuliah. Pusing tentunya. Sampai-sampai ia meminta, “Bilang ke Ibu (yang punya kontrakan), saya saudaranya Mas Diki ya”.

***

Cerita Pak Harta menggugah saya. Rumah seharga 2 Miliar ia cicil selama 2 tahun saja. Tanpa melalui bank, tanpa perjanjian macam-macam dengan pemilik rumah.

Kok bisa?

Awalnya ia sewa, lalu pemilik rumah menawarkan untuk dibeli saja. Ia sempat menolak, karena tidak punya uang sebanyak yang diminta. Pemilik rumah, yang juga teman dekatnya itu memberi kemudahan. Boleh dicicil.

“Tau-tau sudah selesai saja, Alhamdulillah. Saya juga nggak menyangka bisa cepat”, kenangnya lega.

***

Memberangkatkan orang tua ke Tanah Suci adalah cita-cita saya semenjak SMA. Punya rumah yang luas merupakan harapan saya sebagai seorang Ayah.

Jadi, mana dulu yang harus didahulukan?

Untuk mendapatkan nomor antrian Haji, minimal menyetor uang 25 juta. Karena yang akan didaftarkan dua orang, kalikan dua, jadilah 50 juta.

Untuk membeli rumah, apakah cukup 50 juta?

***

Saya belum menjadi seperti Pak Raden yang punya banyak aset. Saya juga belum seperti Pak Harta, seorang pengusaha dengan omset ratusan juta perbulan.

Saya lebih dekat dengan Mas Putra. Seorang karyawan, yang juga baru membangun keluarga. Saya seorang Ayah yang juga memiliki kecemasan seperti Ibu Putri.

Apakah saya harus menempuh jalan yang sama dengan Mas Putra?

***

Saya berhitung. Uang 3 juta bila dijadikan emas, bisa dapat 5 gram (anggaplah 1gr= 600 ribu). Setahun terkumpul 60 gram. 5 tahun 300 gram, 10 tahun 600 gram.

Berapa nilai emas 10 tahun lagi?

Atau, 3 juta sebulan bila dialihkan ke modal usaha? Ke-investasi lainnya? Bukannya sekarang banyak investasi berbasis FinTech?

Intinya, ada uang “menganggur” jadikan aset.

Jangan-jangan, dengan cara itu, rumah bisa dimiliki 5 tahun lagi.

***

Pak Raden akhirnya kembali ke tanah air. Selamat, Alhamdulillah. Auranya cemerlang. Walau sehatnya terganggu dengan batuk.

“Virus tersebar di udara, karena orang banyak dari seluruh dunia. Untung saya masih sehat. Masih bisa berjalan normal, ibadah masih bisa dinikmati, banyak yang saat sholat tiba-tiba jatuh sendiri”.

***

*Pak Raden, Mas Putra, Ibu Putri dan Pak Harta adalah tokoh nyata. Hanya namanya saja yang saya samarkan.

 

Salam,

diki septerian

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.