Malam Minggu di Kampung Sendiri: I’tikaf Aje Dah !

 

AKHIRNYA sampai lagi saya di rumah. Setelah 4 hari ‘mondok’ di ibu kota. Rumah orang tua yang saya tuju. Mamah sedang masak, wajahnya berseri menyambut saya. Alhamdulillah … cukuplah rindu ini terobati. Namun tidak bisa berlama-lama, saya harus segera pulang. Rumah dan pekerjaan di dalamnya menanti. Saya berpamitan.

Ini malam ganjil. Malam ke-25. Sangat sayang bila melewatinya hanya dengan tidur. I’tikaf lagi saja, hati memutuskan. Tapi ke mana? BI terlalu jauh. Masjid dekat rumah? Kurang greget. Masjid Balaikota saja? Saya teringat, pernah membaca spanduk yang menyatakan Masjid Balaikota akan menyelenggarakan i’tikaf di 10 hari terakhir ramadhan. Bersiap-siaplah saya.

Elu, nggak bosen apa i’tikaf melulu? Masjid lagi, ngaji lagi, sholat lagi, nasi bungkus lagi. Datar amat hidup lu sih.

Berisik ah … emang lu mau gue ngapain? Nge-game sampe pagi? Jalan-jalan sampe pegel? Ato sekedar tidur-tiduran, sendirian? Ogah dah … sekali-kali lu dukung gue ngapa. Mumpung ati lagi kenceng ini.

 

Sekitar jam 8 malam saya tiba di Masjid Balaikota. Sepi. Hanya bersisa 2 baris yang sedang melaksanakan tawareh. Itu rombongan 23 ternyata. Rombongan 8 sedang asyik masyuk tilawah, baca buku, atau sekadar meratakan punggung.

Terasa gelap di ruang utama. Ternyata memang lampu besar di tengah-tengah tidak dinyalakan. Diganti lampu sorot yang sorotanya terhalang bangunan di atas. Saya diam sejenak, mencoba mendegarkan dengan seksama bacaan imam. Kenapa dobel ya? Kenapa suaranya bergema? Echo berlebihan? Entahlah … saya lanjutkan dengan taraweh.

Kegiatan

Hampir sama dengan di Masjid BI, di sini pun sama. Setelah taraweh, kajian, tidur, bangun tahajud 3 juz, sahur, shubuhan, kultum lagi. Jadwal hari ini adalah Ustad Suparyono. Benarkah ustad yang itu? yang waktu dulu pernah mengisi di masjid dekat rumah. Kalau iya, wah menarik nih.

Sebelum kajian dimulai, saya registrasi dulu. Rp. 10.000 yang panitia minta dari kita, boleh lebih. Sistemnya juga sama dengan masjid BI, pakai kupon. Saya kembali ke dalam, bersiap mendengarkan kajian. Jam 9 kurang kajian sudah dimulai. Ternyata Ustad Suparyono yang dulu. Sip deh, bakalan mantep ini.

Lailatul Qadr, Umur, Anak

Sang ustad memulai dengan Malaikat yang turun di malam Lailatul Qadr. Sebanyak pasir yang ada di bumi. Mau ngapain? Mau nonton lomba. Perlombaan ibadah yang manusia—kita lakukan. Ia lalu mensimulasikan pahala Lailatul Qadr. Hingga mengkalkulasikan “investasi” yang harus kita keluarkan untuk menyiapkan rumah di surga nanti.

Berkah tidak hanya di harta, tapi juga di umur kita. Ustad melanjutkan. Angka harapan hidup orang depok itu 73 tahun. Tapi yang efektif berapa? Paling 15-20 tahun. 15 tahun belum akil baligh. 15 tahun tidur. 5 tahun diperjalanan. 5 tahun nonton tv. Jadi, pikirkanlah cara meningkatkan value umur kita. Bukan bagaimana supaya umur panjang. Nah, Lailatul Qadar adalah cara cerdas untuk menambah rekening kebaikan kita. Orang yang mendapat Lailatul Qadr dan yang tidak itu tidak ada bedanya. Yang membedakan hanyalah isi rekeningnya, tabungannya.

Karena itu Pak, Bu .. kalau doa jangan melulu minta receh. Berdoalah yang maruk, yang besar sekalian. Seperti doanya Nabi Sulaiman, “Ya, Allah berikanlah aku kerajaan, yang tidak akan pernah ada lagi kerajaan seperti itu setelahku”.

Berdoalah agar anak kita menjadi presiden negeri ini. Atau kalau tidak menjadi orang terkaya di negeri ini. Atau kalau tidak menjadi orang terpintar di negeri ini. Atau menjadi profesional-profesional yang di segani. Lihat potensi anak, lalu dukung dan doakanlah. Negeri ini benar-benar butuh pemimpin sholeh, konglomerat sholeh, ilmuwan sholeh, juga profesional-profesional sholeh. Kalau kita tidak menyiapkannya, siapa yang akan melakukannya nanti?

Surga dan kenikmatan tertinggi

Para sahabat bila beribadah yang diharapkan bukan lagi surga, tapi pertemuan dengan Tuhannya. Karena itu adalah puncak kenikmatan tertinggi. Surga itu jannah, kebun. Ada bangunan-bangunan di sana, bahan bangunannya terbuat dari emas dan perak. Semennya dari misk, minyak wangi yang wanginya dapat tercium dari jarak 40 tahun perjalanan dengan kaki. “Itu dari Aceh ke Papua cukup sepertinya Bu”.

“Apa makanannya? Buah-buah yang berlimpah ruah. Daging burung yang besarnya sebesar unta. Dan masing-masing kita di layani oleh 80.000 wildan. Pelayan seumuran anak SD. Minumannya? Air bening yang berasal dari sungai yang dasarnya intan berlian; susu; madu; khmar yang tidak memabukkan.” Untuk laki-laki juga akan diberikan 72 bidadari yang masih gadis dan akan tetap gadis. Diciptakan langsung jadi, tidak melalui proses anak-anak terlebih dahulu. Oh iya, tambah satu bidadari : istri kita akan menjadi muda kembali.”

Sang ustad lalu menutup kultumnya dengan cerita orang terakhir yang masuk surga—semoga bukan kita. Setelah payah disiksa di neraka, diangkat oleh Allah, diperlihatkan surga, terbengong-bengong hingga 70 tahun lamanya. Itu baru surga, bagaimana dengan wajah pencipta kita? Memang bisa begitu nikmat? Contoh saja perempuan-perempuan yang menatap wajah Nabi Yusuf hingga memotong tangannya sendiri. Itu baru Nabi Yusuf, apalagi dengan yang menciptakannya? Kira-kira begitu bapak ibu gambaranya.

Catatan lainnya

Kajian selesai menjelang jam 11 malam. Setelah itu tidur. Bangun lagi untuk tahajud. Ternyata dimulai bukan jam 1, sebelum itu. Selesai jam 03.45 dengan witir. Setelah itu mengantri untuk sahur. Benar-benar ngantri, karena ada keterlambatan pengantaran makanan. Hingga 3 kali gelombang. Panitia meminta maaf karena itu. Malam itu ada sekitar 700 orang yang mengikuti i’tikaf. Lebih banyak dari hari kemarin, jelas panitia.

Kamar mandi di masjid tidak banyak, hanya 4 dan 3 yang bisa di pakai. Tapi, kamar mandi tersedia banyak di gedung serba guna dan juga di gedung parkir dekat masjid.

Sebelum sholat shubuh dimulai, saya ingin melakukan eksperimen: Mematika kipas angin. Ada dua kipas angin yang berdekatan dengan sound sistem, pikir saya jangan-jangan ini yang membuat suara menjadi dobel. Pernah “berbicara” ke kipas angin? Bagaimana suaranya? Kira-kira begitulah yang saya dengar. Sangat tidak nyaman. Kipas sebelah selatan saya matikan, kemudian ketika sudah berbaris untuk sholat, kipas sebelah utara saya matikan. Hasilnya? Sama! Tidak ada perubahan suaranya masih cempreng dan dobel dobel. Gagal pikir saya.

Kepo. Saya kembali ke sisi selatan setelah sholat. Saat doa dan kultum shubuh saya dengarkan suaranya: Bersih, jernih. Dan tidak lagi kedengaran cempreng dari mana-mana. Berarti kesimpulannya: sound sebelah utara harus diperbaiki.

Nanti malam adalah malam ke-26. Masjid Balaikota Depok tetap mengadakan i’tikaf dengan segala kegiatannya. Ada yang mau ke sana? Satu lagi saran saya, bawa sarung atau lotion anti nyamuk. Karena nyamuk di sana lumayan besar-besar dan banyak. Kecuali memang ingin bersedekah, itu lain cerita, hehe.

Cukup dulu kang. Silahkan lanjut aktivitasnya. Terima kasih sudah mau mampir. Semoga bermanfaat.

Salam,

diki septerian

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.