Mencoba Minuman Baru… Pertalite !

pertalite_2

SAYA benar-benar lupa. Seharusnya mampir ke Pom Bensin Shell yang ada di Jl. Raya Pasar Minggu. Tersadar ketika sampai di daerah Perdatam, “loh, kok masih digaris E ini indikator”. Perjalanan kira-kira 15 km lagi. Di geber sampe kantor sebenarnya masih bisa. Tapi, itu berarti saya harus keluar kantor, kemudian mengisi bensin siang-siang. Saya selalu menghindarinya, sebisa mungkin mengisi bensin pagi atau malam, ketika suhu udara lebih adem. “Ah… nampaknya hari ini kamu harus minum pertamax da …”

***

Sepanjang jalan dari Perdatam sampai Kemayoran ada 2 Pom Bensin yang bisa di akses. Pertama, yang di jalan Prof. Saharjo. Kedua yang di Jalan Kramat Raya, persis sebelum fly over Atrium Senen. Saya pilih yang di Jalan Prof. Saharjo, karena lebih dekat dan lebih sepi. Niatnya isi pertamax, ternyata ketika sampai sana berubah. Pertalite tersedia !

“Pertalite dua puluh lima ribu”, sahut saya ke mbak-mbak pom. Mbak-nya langsung mengisi, “Glek… glek… glek…”, dahaga si Eda (Shooter) terlepaskan. Perut dia penuh sekarang. Saya berangkat. Eda saya gas … Ngacir juga dia! Tidak terasa berbeda dengan Shell Super. Ah, mungkin memang ini masih Shell Super yang dipakai. Saya lanjutkan perjalanan.

pertalite_1

Jadi, bagaimana rasanya minuman baru? Sementara saya tidak bisa membedakan. Tarikan sama entengnya dengan Shell Super. Mencapai 60 km/jam dengan gigi 3 tidak terasa berat dan bergetar. Gigi 4 baru mendapat 70 km/jam. Sulit untuk lebih cepat lagi. Bukan karena tarikannya berat, tapi jalanan yang memang padat.

Kok rasanya bisa sama dengan Shell Super? Ada dua dugaan saya: 1. Masih ada sisa sekitar setengah liter Shell Super. 2. Karena memang nilai oktan Pertalite dan Shell Super sama-sama 90. Hah? tunggu… tunggu … Nilai Oktan Shell Super itu kan 92 sama kayak pertamax! Siapa yang bilang? Kenyataan ini memang agak kontroversial. Ketika mendengarnya pertama kali saya juga tidak percaya. Sama dengan Bos saya yang diberitahu oleh salah seorang quality control dari shell. “Bagaimana rasanya Shell? orang QC—yang juga teman Bos saya bertanya di suatu kesempatan santai. Sebelum Bos saya menjawab, dia langsung menimpali, “Pasti lebih lambat ya. Nilai Oktannya kan 90, lebih rendah”.

***

pertalite_3

Benar tidaknya dugaan saya memang harus dibuktikan. Saya juga belum bisa memastikan kebenaran cerita Bos saya itu (tapi Bos saya sangat yakin akan kebenarannya). Mungkin akang-akang di sini bisa ikut membantu menjawabnya. Pertalite? Sepertinya akan menjadi alternatif minuman yang sangat menarik buat si Eda. Sekian dulu. Selamat Pagi. Semoga bermanfaat.

Salam,

diki septerian

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.