Mengingat-ingat Khotbah Jum’at di JCC

IMG_6008

Hari terakhir Indonesia Infrastucture Week 2015 bertepatan dengan hari Jum’at. Jum’at selalu istimewa. Salah satu yang membuatnya istimewa adalah sholat dzuhurnya. Orang-orang pasti berusaha menunggu adzannya. Tidak berbeda dengan di JCC tadi. Para peserta pameran sudah memenuhi Plenary Hall yang disulap menjadi “masjid besar” jauh sebelum adzan dikumandangkan.

***

“Kaum muslimin, alangkah baiknya sebelum kita memulai sholat, agar mengisi shaf yang masih kosong di depannya. Agar bahu-bahu kita tidak dilangkahi oleh saudara-saudara kita yang baru datang.” Kalimat pembuka dari pembawa acara sholat jum’at begitu berbeda. Tidak biasa buat telinga saya. Ada kalimat yang mengena sekali, agar bahu tidak terlangkahi. Karena, seingat saya melangkahi bahu itu akan mengurangi pahala sholat. Maksud dari tidak boleh melangkahi agar : 1. Yang sudah datang mengambil shaf terdepan. 2. Yang datang belakangan mendapatkan tempat, tanpa bersusah payah. Hal simpel tapi masih banyak yang belum mengerti.

Pembawa acara lalu melanjutkan. Ia menyebutkan adab-adab sholat jum’at. Dimulai dari HP yang harus di off/ silent-kan. Tidak boleh selonjor, tidak boleh duduk sambil menekuk kaki, kemudian merangkulnya dengan tangan. Harus menahan kantuk. Harus mendengarkan khotbah dengan seksama. Lagi-lagi sesuatu yang telinga saya jarang dengar. Biasanya-kan cuma dihimbau supaya tidak berbicara, ataupun menegur orang yang berbicara.

Sampai di sini saya terkesan dengan penyiapan petugas terhadap jamaah. Ditambah lagi ketika dibilang khotibnya adalah Ustadz Bakrun Syafii, MA. Saya langsung mengingat ingat. Hmm… kayaknya nggak asing nih ustadz. Benar-benar nggak sembarangan nih Jum’atan dimari.

Khotbah Jum’at selalu sangat mudah untuk dilupakan. Godaan ngantuknya luar biasa. Sampai-sampai ada candaan: Kalo susah tidur dateng aja sholat jumat, dijamin pules dah! Makanya, itu tantangan bagi para khatib. Aturan main sebenarnya sudah dipermudah: pendengar tidak boleh ngobrol, bahkan yang menegur ngobrol aja nggak boleh! Jadi peluang jamaah untuk mendengarkan ceramah meningkat. Namun, di situ juga letak tantangannya: kita tidak boleh membuat pendengar berbicara, apalagi tertawa! Bila datar-datar saja, pendengar tidur! Ruwet kan …

Nah… makanya sebelum saya benar-benar melupakan isi ceramah 11 jam yang lalu itu. Saya coba menuliskannya kembali.

“Saya kira apa yang kita inginkan dalam hidup adalah sama. Kita ingin tenang, tentram, bahagia dalam hidup. Kita ingin pekerjaan yang menentramkan, kita ingin pasangan hidup yang mampu membuat kita bahagia, kita menginginkan anak-anak yang juga begitu.” Ustadz Bakrun memulai ceramahnya.

Ustadz itu melanjutkan, “Bagaimana caranya agar mendapatkan hidup yang bahagia itu? Allah memberi kita petunjuk di surat An-Nahl ayat 97.

Barang siapa mengerjakan kebajikan, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka pasti akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan akan Kami beri balasan dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.

“Dari ayat itu kita Allah menjajikan dua hal. Bila kita belajar bahasa arab, kata ini dan ini (nah.. saya lupa^^) itu menunjukkan kata pasti, pasti (2 kali). Bila kita mengerjakan amal sholih disertai keimanan, kita yakin akan janji Allah, kita yakin akan balasannya, kita yakin akan hari akhir. Allah akan memberikan dua hal, pasti pasti. Yang pertama: Hayah thoyibbah. Kehidupan yang baik.”

“Orang, kalau tidak tenang, tidak bahagia pasti ada yang salah. Pasti dia lepas dari amal sholih. Kerjaan berat, pasangan berulah, anak tidak membawa ketenangan. Suami, yang istrinya tidak menutup aurat bagaimana mungkin akan bahagia. Begitu juga istri, yang suami jarang beribadah, jarang sholat berjamaah, kerjanya mabuk-mabukan, main judi, bagaimana mungkin akan bahagia.” (nah.. bagian ini nggak tepat seperti ini, tapi intinya itu ^^).

“Makanya ada 3 hal yang harus kita lakukan agar tetap dalam kebajikan. Pertama, tujuan harus jelas. Allah Ghoyatuna. Allah tujuan kita. Jadi karyawan tujuannya Allah, jadi pejabat tujuannya Allah, jadi pengusaha tujuannya Allah. Orang banyak mengincar jabatan, setelah dapat bingung. Orang banyak menumpuk harta, setelah banyak bingung. Itu karena tujuan hidupnya tidak jelas.”

“Kedua, setelah tujuan ditetapkan, orientasi di luruskan. Orientasi kita haruslah akhirat. Barang siapa Akhirat orientasinya maka akan dihimpunkan segala yang berserakan. Dan dunia akan mendatanginya dengan hina dina (dunia tidak menarik). Sebaliknya barangsiapa dunia tujuannya, akan dicerai beraikan segala urusannya.”

“Ketiga, belajar, belajar, dan terus belajar untuk mencintai amal-amal sholih. Amal-amal yang dicintai Allah.”

Ustad Bakrun lalu menyebutkan secara singkat hal ke dua yang dijanjikan Allah: Pahala yang lebih baik. Tanpa penjelasan lebih lanjut. Khotbah pertama selesai. Lanjut ke khotbah kedua, ustadz Bakrun memimpin doa. Kali ini dengan bahasa indonesia yang begitu menyentuh. Memohon agar diberi hidayah, agar ditetapkan dalam hidayah, memohon kebaikan dan keselamatan bagi seluruh kaum muslimin.

***

Tentu isi ceramah tidak sesingkat itu. Tapi, garis besarnya seperti yang tertulis di atas. Bahagia, An Nahl ayat 97, amal sholih dan Janji Allah. Sayangnya saya tidak merekam dengan alat apapun (kecuali telinga dan otak tentunya). Juga tidak jeprat-jepret “masjid dadakan” jcc itu.

Sekian dulu, selamat beristirahat, semoga bermanfaat.

 

salam,

diki septerian

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.