Musholla di Tengah Puing

Dasarnya memang salah. Saya datang ke tempat orang persis jam 12.00. Waktu di mana kebanyakan orang istirahat, sholat, atau sekadar menyelonjorkan kaki. Jadilah saya menunggu.

“Musholla di mana, Pak?” Tanya saya ke salah seorang satpam. “Di lantai 11, mas.” Jawabnya. “Oh, kalau di luar ada?” Tanya saya lagi. “Di luar ada musholla, di sebelah kali. Tapi saya tidak tahu sudah di gusur atau belum sama satpol PP.” Setelah satpam itu menunjukkan arahnya, saya berpamitan sambil berterima kasih.

Saya pilih musholla yang di luar. Rasanya enak jalan berpanas-panasan, sambil melemaskan kaki. Bukan belagu, tapi dari pagi kena AC melulu. Di kantor kena AC, selama perjalanan juga. Jalan-lah saya ke sana. Sendiri.

Keluar dari kantor pemasaran salah satu developer terkenal di Bekasi. Jalan kaki menuju mushola yang dituju. Kanan kiri rumah bagus, jalan juga bagus. Mendekat ke pusat perbelanjaan, ruko-ruko berdiri berjajar, rapi, enak dipandang mata. Jalan sedikit lagi, sampailah saya di pinggir kali. Di sana terlihat banyak puing-puing. Seperti bekas bangunan yang dibongkar. Kontras sekali dengan ruko-ruko yang jaraknya tidak jauh tadi.

Di tengah-tengah puing, ada mushola. Ternyata tidak ikut digusur. Saya berjalan di sisa-sisa pembongkaran. Jeprat-jpret. Jongkok-berdiri. Gesar-geser. Mencoba mencari komposisi yang pas, sambil terus mendekat ke musholla itu.

 

Musholla nya bersih. Meski sebelahnya kali dan sebelahnya lagi jalan berdebu juga berkubang. Terlihat tempat wudhu cukup untuk 3 orang. Ada 2 kamar mandi.Yang menarik ini: Tempelan tulisan “Toilet Ini Butuh Dana Perawatan. Tidak Gratis. Harap Bayar !”

musholla di tengah puing 3

 

“Kenapa mas Foto-foto?” kata seorang bapak mengagetkan saya. “Oh mau numpang sholat pak. Musholla ini nggak ikut di gusur ya, Pak?” Jawab saya, yang malah balik bertanya ke Bapak itu. Sang bapak tidak bisa menjawab. “Di gusur sejak 9 juni kemarin, sebelum puasa”. Bapak itu pun melanjutkan ceritanya. Tidak tahu akan dibangun apa. Para pedagang juga tidak tahu pindahnya kemana. Cuma ya… ini mas, karena tidak ada yang jualan, jadi jarang yang sholat lagi. “Oh iya, silahkan lanjut sholat mas”, bapak itu menutup ceritanya.

 

Saya tidak bertanya nama bapak itu. Juga apa yang ia kerjakan sebenarnya. Prediksi saya, ia yang menjaga dan merawat musholla itu. Saya pun masuk. Lagi-lagi bersih. Nyaman untuk meletakkan dahi, bersujud. Saya juga tidak tahu alasan penggusuran tempat itu. Dari penglihatan saya, mungkin murni untuk penghijauan. Lihat saja level air di kali sebelah. Sama tinggi dengan jalan. Benar-benar berpotensi membuat masalah nanti.

Apapun itu. Rasanya musholla di tengah puing itu layak dipertahankan. Bapak penjaga (atau siapapun itu) telah terbukti dapat diandalkan, meski “pemasukan” untuk biaya perawatan tidak lagi sebanyak dulu. Rasanya para musafir juga masih mengandalkan musholla itu untuk sekadar tunduk, bersujud, sembari melepas lelah di teriknya siang Kota Bekasi.

musholla puing

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.