Jangan Biarkan Dirimu Membusuk Rudi!

REPUBLIKA.CO.ID,
Oleh Nasihin Masha

Status blackberry seorang kawan asal Tasikmalaya demikian luruh: Satu per Satu Putra Terbaik Tasik Berguguran. Arahnya jelas. Ini soal Rudi Rubiandini. Siapa yang lain? Ia menyebut Gumilar Rusliwa Somantri, mantan rektor Universitas Indonesia. Tulisan ini tak hendak mengulas soal Tasik, tapi soal Rudi yang tergilas pusaran mafia migas.

Sehari setelah Rudi ditangkap KPK, seorang mantan menteri ESDM menelepon. Tak bisa memperbaiki kondisi migas sendirian. Pasti tergilas. Godaannya terlalu dahsyat. ICW mencatat perputaran uang di sektor migas mencapai 1.000 miliar dolar AS per tahun.
Karena itu ICW menilai kasus yang menjerat Rudi tergolong recehan. Terlalu kecil dibandingkan perputaran uangnya. Pasti ada kasus yang jauh lebih besar lagi.

Selama ini Rudi dipersepsi sebagai figur yang sederhana. Mudik ke kampungnya saat lebaran cukup naik Avanza ataupun kereta api. Ia meraih gelar doktor di usia 29 tahun.
Gelar profesor diraih di usia 48 tahun. Latar belakangnya sebagai dosen teladan di ITB sangat membentuk persepsinya sebagai ‘orang baik’. Tapi itulah, seperti kata orang, hal itu hanya persepsi. Sesuatu yang bisa berbeda dengan perilakunya. Prestasi sebagai dosen teladan pun empat tahun lalu. Orang bisa berubah.

Apalagi, seorang pejabat senior pun mengaku tak berdaya dalam menentukan kelanjutan perizinan blok migas yang sudah habis. Freeport (AS) sudah mendapat izin untuk mengelola kembali pertambangan di Tembagapura. British Petroleum (Inggris) juga sudah mendapat izin untuk mengelola lagi blok Tangguh. Chevron (AS) pun bakal mendapat perpanjangan lagi untuk mengelola blok Siak. Kini Total (Prancis) sedang menunggu izin untuk mengelola kembali blok Mahakam. Semuanya di masa pemerintahan SBY. Pejabat itu bercerita hanya beberapa orang saja yang bisa menentukan soal itu. Hanya “orang-orang besar” yang punya kuasa untuk itu.

KPK bahkan menyimpulkan ada kartel atau katakanlah mafia di sektor migas. Negara tak memiliki kedaulatan apapun. Rudi mestinya tak mau menjadi tumbal sendirian di pusaran kotor ini. Tanpa bermaksud mendahului proses persidangan, Rudi adalah seorang koruptor. Itulah yang sudah melekat di benak publik. Keluarganya pasti tersiksa. Kita berharap Rudi kembali ke jati dirinya saat dia masih muda dan menjadi dosen teladan. Ia harus bangkit mengembalikan marwah diri dan keluarganya. Ia harus kembali kepada tekadnya ketika pada 2010 ia ditarik ke Jakarta untuk membenahi sektor migas. Pasti sejak ia ditangkap, sejumlah sinyal dari pihak-pihak tertentu sudah mengalir ke diri dan keluarganya. Ujungnya agar ia bungkam.

Apakah Rudi memiliki cukup nyali dan idealisme untuk membongkar mafia migas? Hingga kini belum ada tanda-tandanya. Ada empat jenis koruptor yang ditangkap KPK. Pertama, koruptor yang mengakui perbuatannya dan menanggungnya sendiri. Kedua, koruptor yang membantah semua tuduhan terhadap dirinya. Ketiga, koruptor yang menuding ke lawan-lawan politiknya sambil berkolaborasi dengan pihak tertentu dengan jaminan perlindungan tertentu pula. Rekening hasil korupsinya yang triliunan pun tetap aman. Keempat, koruptor yang bekerja sama dengan KPK untuk membuka kasus korupsi yang ia ketahui. Inilah yang kemudian disebut sebagai justice collaborator. Contohnya adalah Agus Tjondro dari PDIP. Kita berharap Rudi bisa meniru Agus. Dialah pahlawan, seorang pejuang patriotik di saat di titik terendah.

Tentu untuk menjadi seorang Agus ada risikonya, salah satunya adalah pembunuhan. Kematian seorang pejabat di ESDM beberapa waktu lalu, bahkan oleh sebagian pihak dispekulasikan bukan kematian biasa. Kita berharap Rudi bisa bangkit. Bahkan nilai patriotik Rudi akan berbeda dengan Agus. Karena sektor migas demikian tertutup. Untuk contoh saja, sesuai keterangan Bambang Widjojanto, setelah pemerintah menjalankan saran KPK di sektor produksi, negara berhasil menyelamatkan potensi kerugian negara hingga Rp 153 triliun per tahun.

Rudi bisa membuka apa yang sebenarnya terjadi di balik kasus ini. Rudi juga bisa membuka praktik kotor apa saja yang biasa berlaku di sektor migas. Apalagi, jika kita mengamati, sejumlah kasus korupsi yang memiliki daya tarik besar bisa terungkap karena ada friksi di wilayah itu. Amatan ini bukan hendak mengecilkan prestasi KPK, tapi kita harus jujur melihat fakta ini. Dimensinya bisa politik, persaingan pribadi, maupun persaingan bisnis.

Kita tak ingin KPK hanya menjadi tukang garuk punggung yang gatal karena ada debu di satu lubang pori-pori. Padahal tubuh Indonesia sudah terlalu lama dilumuri lumpur di sekujur tubuhnya. Jadilah pejuang, Rudi!

Zeonis Israel Kegirangan

REPUBLIKA.CO.ID,
Oleh Ikhwanul Kiram Mashuri

Siapa yang paling diuntungkan dengan terjadinya kudeta militer di Mesir dan konflik berkepanjangan di Suriah sekarang ini? Jawabannya tentu saja Zeonis Israel. Dengan kata lain, mereka kini sedang kegirangan. Mereka girang karena tanpa perang dan mengeluarkan dana besar, lawan-lawan mereka yang paling tangguh di kawasan Timur Tengah satu per satu bertumbangan. Atau paling tidak para musuh mereka dalam kondisi yang sangat lemah sehingga tidak memungkinkan lagi mengangkat senjata untuk melancarkan perlawanan terhadap Zeonis Israel.

Mesir, misalnya. Sejak kudeta militer pada 3 Juli lalu, Ikhwanul Muslimin dan gerakan Islam politik lainnya yang berkuasa secara demokratis selama setahun tidak lagi dianggap berbahaya bagi keamanan Israel. Selama Muhammad Mursi–presiden yang berasal dari Ikhwanul Muslimin dan terpilih oleh rakyat secara demokratis–berkuasa, Israel dibuat tidak nyaman. Apalagi, ketika Mursi berhubungan erat dengan kelompok pejuang Palestina, Hamas, yang secara de facto berkuasa di Jalur Gaza.
Hamas selama ini dikenal sangat tangguh dalam perjuangan bersenjata melawan Zeonis Israel. Beberapa kali mereka berhasil memukul mundur ekspansi militer Israel di Jalur Gaza.

Atas dasar kesamaan ideologi politik, yaitu sebagai gerakan Islam politik, pemerintahan Presiden Mursi lebih dekat dengan Hamas dibanding kelompok Fatah. Yang terakhir ini dalam beberapa tahun terakhir, tepatnya sejak almarhum Yasir Arafat menjabat sebagai presiden Palestina dan kemudian digantikan oleh Mahmud Abbas, lebih memilih perjuangan diplomasi daripada perjuangan bersenjata/konfrontasi. Secara de jure Mahmud Abbas yang berasal dari kelompok Fatah memang sebagai Presiden.

Namun, secara faktual Fatah sebenarnya hanya berkuasa di Ramallah. Sedangkan, kawasan Jalur Gaza diperintah oleh Hamas. Kedekatan Ikhwanul Muslimin dengan Hamas juga dibuktikan dengan pembukaan perbatasan Mesir dengan Palestina di Rafah begitu Mursi terpilih menjadi presiden. Rafah selama ini merupakan jalur darat satu-satunya untuk menyalurkan berbagai bantuan dari luar ke Jalur Gaza, baik bantuan makanan, bahan bangunan maupun lainnya. Termasuk, konon, penyelundupan senjata. Hal inilah yang selalu dikhawatirkan oleh penguasa Israel.

Kekhawatiran itu semakin meningkat karena menurut analisis intelijen Zeonis Israel, sebagaimana ditulis Aljazirah.net, Presiden Mursi berencana membatalkan Perjanjian Camp David. Yang terakhir ini adalah perjanjian damai antara Israel dan Mesir pada 1978 yang ditandatangani Presiden Anwar Sadat dan PM Israel Menachem Begin, disaksikan oleh Presiden Jimmy Carter yang sekaligus menjadi fasilitator.

Karena itu, tidak mengherankan ketika terjadi kudeta militer untuk menggulingkan pemerintahan Presiden Mursi, salah satu pihak yang menyambut baik adalah pemerintah Zeonis Israel. Sebagaimana ditulis New York Times, seorang sumber dekat dengan PM Israel Benjamin Netanyahu menyatakan, Israel merupakan pihak yang gembira dengan tumbangnya Presiden Mursi dan kekuasaan Ikhwanul Muslimin. Ia menyebut, kudeta militer merupakan perkembangan yang sangat baik bagi Mesir dan kawasan Timur Tengah, termasuk Israel. Penggulingan Mursi juga dianggap akan memperlemah kekuatan dan pengaruh Hamas.

Bukan hanya menyambut baik, PM Netanyahu, menurut media Israel, Maariv, juga mengutus beberapa jenderal dan senior di pemerintahannya untuk melobi AS dan beberapa negara Eropa. Intinya, agar mereka–AS dan beberapa negara Eropa–tidak menghentikan bantuannya ke Mesir. Bagi Netanyahu, bantuan itu sangat diperlukan supaya pemerintahan kudeta militer tidak ambruk. ‘’Bila pemerintahan Mesir sekarang jatuh, akan sangat membahayakan bagi keamanan Israel,’’ katanya.

Israel selama ini menganggap Mesir sebagai negara yang sangat strategis dan paling berpengaruh di kawasan Timur Tengah. Oleh sebab itu, mereka sangat berkepentingan dengan rezim penguasa di negara itu. Dengan kudeta militer yang menggulingkan kekuasaan Ikhwanul Muslimin, Mesir bisa dipastikan akan mengikuti kebijakan pemerintahan sebelumnya. Minimal, akan menjamin berlangsungnya Perjanjian Camp David yang mendekatkan militer Israel, Mesir, dan AS. Dengan begitu, keamanan Israel tidak akan terancam.

Di sisi lain, perkembangan di Suriah juga secara tidak langsung telah memihak pada kepentingan Israel. Perkembangan itu adalah rencana serangan AS ke basis-basis kekuatan Presiden Bashar al-Assad. Meski ada kekhawatiran bila Suriah diserang AS maka mereka akan mengarahkan senjata kimianya ke Israel, namun kemungkinan itu sangat kecil. Yang justru akan terjadi, serangan itu akan menggulingkan kekuasaan rezim Presiden Assad, sebagaimana terjadi pada Muammar Qadafi di Libya, Saddam Husein di Irak, dan rezim Taliban di Afghanistan. Atau paling tidak, kekuatan militer Suriah akan mandul sebagaimana juga terjadi di tiga negara tersebut.

Dengan penggulingan Assad, maka aliansi kekuatan antara Suriah-Iran-Hizbullah di Lebanon Selatan diperkirakan akan berantakan. Aliansi ketiga pihak selama ini sangat ditakutkan oleh Israel. Mereka sering mengancam keamanan nasional Zeonis Israel. Hizbullah sendiri beberapa kali telah berhasil menahan dan bahkan menggempur militer Israel yang mencoba menyerang Lebanon.

Bila skenerio ini berjalan dengan baik, yakni penghancuran kekuatan militer Suriah dan pelemahan gerakan Islam politik di Mesir yang dipresentasikan oleh Ikhwanul Muslimin, maka bisa diprediksi yang akan berpengaruh di Timur Tengah adalah negara-negara yang beraliran moderat. Yang terakhir ini diwakili oleh negara-negara kaya Teluk seperti Arab Saudi, Qatar, dan Uni Emirat Arab. Negara-negara yang dianggap tidak membahayakan bagi keamanan Zeonis Israel lantaran kedekatannya dengan Barat yang pro-Zeonis Israel. Wallahu a’lam bisshawab.

Mengapa Militer Mesir Berseteru dengan Ikhwanul Muslimin?

REPUBLIKA.CO.ID,
Oleh Ikhwanul Kiram Mashuri

Drama politik di Mesir berjalan begitu cepat. Pada 30 Juni, oposisi mendemo Presiden Mursi. Tiga hari kemudian (3 Juli), militer dikomandani Jenderal Abdul Fattah Sisi membelot ke oposisi dengan mengudeta sang presiden yang terpilih secara demokratis, membekukan Konstitusi Negara, dan membubarkan Majelis Syuro.

Selanjutnya, militer menunjuk presiden boneka dan mengajukan peta jalan (khiritoh at toriq) yang harus ditempuh para politisi. Kemudian pada 22 Agustus, mantan penguasa diktator otoriter Husni Mubarak dibebaskan dari penjara. Mubarak adalah jenderal (purn) angkatan udara yang telah berkuasa lebih 30 tahun.

Antara kudeta militer hingga pembebasan Mubarak selama kurang dari dua bulan telah terjadi berbagai peristiwa pelanggaran hak asasi manusia paling mengerikan yang bahkan tidak pernah dilakukan oleh tiga mentor Sisi sebelumnya: Jamal Abdul Nasir, Anwar Sadat, dan Mubarak sendiri. Yakni, pembantaian para pendukung Presiden Mursi yang tergabung dalam Solidaritas Nasional untuk Membela Legalitas (at Tahaluf al Wathani Lida’mi al Syar’iyah) yang dimotori oleh Ikhwanul Muslimin.

Ikhwanul Muslimin menyebutkan, lebih dari 3.000 orang menjadi syahid dibantai militer, ribuan lain luka berat dan ringan, ribuan lagi hilang dan ditahan. Namun, versi militer dan pemerintahan boneka, angka yang tewas tidak lebih dari seribu.

Pada hari-hari mendatang pemerintahan sementara (boneka) dan militer tampaknya tidak akan melonggarkan tekanannya pada para pendukung Presiden Mursi. Bila keadaan darurat selama sebulan yang diumumkan pertengahan Agustus lalu belum cukup untuk menumpas gerakan aksi-aksi unjuk rasa yang menentang kudeta militer, maka bisa dipastikan akan diperpanjang lagi. Dengan keadaan darurat militer mempunyai keleluasaan untuk menghabisi pada pendemo. Tidak peduli berapa jiwa lagi yang akan menjadi korban, seperti halnya mereka dengan darah dingin telah membantai pada pendemo di Rabiah Aladawiyah, lapangan An Nahdlah, di Ramsis, maupun di berbagai daerah lain di Mesir.

Perseteruan antara militer dan gerakan Islam politik yang diwakili oleh Ikhwanul Muslimin boleh dikata sudah berjalan puluhan tahun lalu. Yaitu, ketika pada 1952 militer Mesir yang dikomandani Jamal Abdul Nasir mengudeta kekuasaan Raja Faruk. Sejak itu, hingga pada masa Anwar Sadat dan kemudian Husni Mubarak, militer berkuasa penuh atas bangsa Mesir.

Perseteruan itu berpangkal pada perbedaan ideologi antara militer dan Ikhwanul Muslimin. Militer berideologi sekuler, sedangkan Ikhwanul Mulimin sebagai gerakan Islam politik ingin menerapkan nilai-nilai dan ajaran Islam dalam berbangsa dan bernegara.

Pada tahun 1960-an, Nasir menerapkan idelologi sosialis-komunis yang tidak hanya memisahkan agama dari negara, tapi juga mengabaikan ajaran agama dalam kehidupan masyarakat, termasuk dalam militer. Lalu ketika Anwar Sadat menggantikan Abdul Nasir sebagai presiden, Sadat mengubah kiblat militer Mesir dari Uni Soviet ke Amerika Serikat, terutama setelah Perjanjian Camp David pada 1978, yaitu perjanjian damai Mesir dengan Israel yang difasilitasi oleh Amerika. Dalam perjanjian itu tercantum, AS menjamin berbagai bantuan kepada Mesir yang meliputi persenjataan, dana, latihan perang, tukar-menukar informasi, konsultasi, pendidikan perwira militer, dan lainnya.

Perjanjian Camp David yang telah mengucilkan Mesir dari dunia Arab, juga sekaligus telah mendekatkan militer Mesir dengan militer Amerika. Hubungan yang kemudian semakin memperkuat ideologi sekuler di kalangan militer Mesir. Kebijakan yang sama kemudian juga diterapkan pada zaman Presiden Husni Mubarak yang berkuasa selama 30 tahun lebih.

Dengan ideologi sekuler seperti itu, tidak aneh bila gerakan politik yang diwakili Ikhwanul Muslimin terus-menerus menjadi musuh bebuyutan rezim militer Abdul Nasir, Anwar Sadat, dan Husni Mubarak. Tokoh-tokohnya banyak yang dibunuh atau dipenjarakan. Yang lainnya banyak pula yang melarikan diri ke luar negeri.

Revolusi rakyat besar-besaran yang kemudian menggulingkan rezim Husni Mubarak tampaknya telah membuat militer Mesir terkejut dan sekaligus sakit hati. Apalagi, yang muncul sebagai pemenang dalam pemilu yang demokratis adalah Muhammad Mursi, presiden yang dicalonkan oleh Partai Kebebasan dan Keadilan, sayap politik Ikhwanul Muslimin.

Lebih menyakitkan lagi ketika Presiden Mursi kemudian mengembalikan tugas-tugas militer, sebagai konsekuensi dari negara demokratis, hanya sebatas pertahanan negara alias kembali ke barak. Militer tidak boleh terlibat dalam urusan politik.

Karena itu, rentetan peristiwa dari kudeta militer (penggulingan Mursi), pembubaran Majelis Syuro, pembekuan konstitusi, penunjukan presiden sementara (boneka), hingga pembebasan Husni Mubarak harus dibaca sebagai “hal yang direncanakan”, bukan peristiwa yang tiba-tiba. Untuk tujuan itu, mereka pun berkonspirasi dengan kelompok-kelompok liberal, sekuler, nasionalis, dan fulul (orang-orang dari rezim Mubarak). Mereka ini adalah kelompok-kelompok sakit hati karena kalah dalam pemilu. Mereka kemudian membentuk oposisi kuat terhadap Mursi dan menuduh sang presiden ingin menjadikan Mesir sebagai negara Ikhwanul Muslimin (akhunatu Misro).

Yang menyedihkan, kelompok liberal dan sekuler yang tadinya bahu-membahu dengan komponen bangsa lainnya, termasuk Ikhwanul Muslimin, untuk menjatuhkan Husni Mubarak, kini lebih suka bekerja sama dengan militer karena kesamaan ideologi. Bahkan, meskipun untuk itu harus mengorbankan sistem demokrasi, dengan menjatuhkan Presiden Mursi yang terpilih secara demokratis melalui pemilu.

Intinya, mereka sebenarnya tidak peduli dengan demokrasi. Yang penting bagi mereka–kelompok sekuler dan liberal–gerakan Islam politik yang diwakili oleh Ikhwanul Muslimin tidak berkuasa di Mesir.

Permata Bunda

Bagian tubuh mana yang paling baik untuk dipakaikan minyak wangi?
“Telinga, bukan di baju apalagi dibawah lengan!” Kata Zai Hanan, trainer yang berpengalaman memoles penampilan para bisnisman, artis, sampai politisi. Mengapa di telinga? Karena, telinga itu sejajar dengan hidung, “Insya Allah itu parfum terharum dan terlama yang menempel di badan Bapak Ibu”, ia melanjutkan sesi trainingnya.

Minyak wangi memang membuat wangi. Apalagi kalau dipakai ditelinga seperti yang diajarkan Zai Hanan itu. Tapi bagaimana jika bukan minyak wangi yang ada di telinga –maaf—“conge” atau kotoran telinga misalnya? “Wangi”nya juga tidak kalah ampun-ampunan.

Kotoran telinga itulah yang menjadi masalah salah seorang anak di sekolah ini. Ia dikenal dikalangan teman-temannya dengan wangi seperti itu. Bahkan ia juga menjadi pembicaraan guru-guru. Saya pun pernah merasakan wangi itu ketika ia main ke rumah. Bahkan wangi itu betah berlama-lama di rumah saya (eh, rumah dinas maksudnya).

“Kalau sudah siang, biasanya cairan itu keluar dari telinganya. Lalu dia lap saja dengan kerah bajunya. Ibu sudah bilang berkali-kali ke dia supaya berobat dokter, minta ke orang tuanya. Tapi tidak pernah dijalankan”, keluh wali kelasnya.

Dengan kondisi seperti itu, otomatis ia menjadi bahan ejekan teman-temannya. Tidak ada yang mau mendekat. Ia pun menjauh dengan sendirinya. Seringkali terlihat ia asik sendiri dengan buku, belajar membaca dengan keras. Semangat belajarnya tergolong besar. Tapi wangi itu yang membuatnya kurang percaya diri.

Tanpa banyak pertimbangan, akhirnya saya putuskan untuk membawanya ke dokter. “kita jalan-jalan yuk”, ajak saya. Ia pun tidak menolak dan tidak bertanya mau dibawa kemana. Ia hanya mengangguk kegirangan.

Sampai di tempat dokter saya pun mendaftarkannya.

“Alamat rumahnya dimana?”
“Kasai bu”
“kasai itu dimana ya?”
“Dekat pasar ampalu ”
“Ooohh.. jauh juga ya kalau begitu“
“Iya soalnya puskesmas di sana buka hanya sampai siang sedangkan dia sekolah, jadi saya bisa membawanya sore saja, dan ini tempat terdekat yang direkomendasikan guru yang tinggal di daerah sini”
“Oh, jadi Bapak ini gurunya?” (kali ini dokter yang berada didekat situ yang menyambar)
“Iya dok”
“Wah, perhatian sekali. Pasti anak-anak senang ya. Kalau ngajar anak SMP atau SMA pasti mereka pura-pura sakit, supaya bisa diantar juga.”
“ … … … …” (saya cuma tersenyum waktu itu, padahal bertanya-tanya dalam hati masa iya sih)

“jadi apa keluhannya?”
“ini dok, telinganya kotor.”
“Sini nak, siapa namanya?”
“Rudi… Rudi Permata Bunda”
“Rudi kelas berapa?”
“Kelas dua, tapi tinggal kelas satu tahun”
Dokter itu pun tersenyum, “wah jujur sekali ya”. Rudi pun membalasnya dengan senyum, walaupun sebenarnya ia tidak mengerti. Dokter itu pun kemudian memeriksa telinganya.

“Telinganya bersih, tidak ada kotoran”
“Ah, masa dok tapi sering keluar cairannya”
“Ooh.. ini pasti karena mandinya, Rudi kalau mandi sering jungkir balik ya?”
“……………….” (Rudi tidak menjawab, hanya membalas dengan senyum malu tanda bersalah)
“Sekarang, saya kasih obat saja dulu, khawatir ada infeksi. Ini diminum 3 x 1 hari jam 10 malam, jam 6 pagi dan jam 12 siang. Nanti kalau cairannya keluar jangan di lap pakai korek kuping apalagi kerah baju, tapi pakai tisu saja”
“baik dok. Terimakasih banyak, ayo Rudi bilang terimakasih ke bu dokter”
“………………..” (lagi-lagi Rudi hanya membalas dengan senyum)

Saya kemudian mengantar Rudi ke rumahnya. Sampai di rumahnya saya dikejutkan oleh seorang lelaki tua yang sedang duduk. Saya memberi salam, tapi ia tidak menjawab. “Matanya buta”, jawab abangnya Rudi. Lelaki tua dan buta itu ternyata Ayah mereka.

Pandangan saya pun berkeliling ke seluruh sudut rumah yang beralaskan tanah itu. Rumah itu gelap, karena hanya satu lampu yang menyala. Itu pun bukan neon, hanya bohlam yang tidak seberapa wattnya. Meski begitu, abang Rudi yang lain tetap asik mengaji. Ia menjadikan obor-oboran sebagai tambahan penerangan.

Sang Ibu akhirnya keluar. Ia terlihat “gagah”, mungkin karena pekerjaan berat di ladang yang menjadikannya seperti itu. Saya pun memberitahu apa yang tadi dijelaskan dokter—sambil menyodorkan obat dan tisu—dengan sebelumnya meminta maaf, karena mengajak Rudi ke dokter tanpa ijin terlebih dulu. Rudi pun tidak mau kalah, dengan antusias ia menjelaskan tata cara meminum obat ke Ibunya. Sang Ibu sangat senang karena ada yang mau perhatian ke permatanya itu. Setelah berbincang sebentar saya pun berpamitan.

Sepanjang perjalanan pulang saya banyak melamun: Ayahnya buta, abang-abangnya masih sekolah, praktis sang Ibu yang menjadi tumpuan keluarga. Dengan kondisi seperti itu wajarlah bila urusan ke dokter tidak pernah tersentuh. Namun, hebatnya Permata Bunda itu tidak mengeluh, ia tetap semangat ke sekolah. Tekad saya pun semakin bulat: tidak akan memberi cap buruk ke anak-anak.

Esok harinya berita itu menyebar. Beberapa siswi mendatangi saya sambil berpura-pura sakit, “Pak, saya sakit… tolong antarkan saya ke dokter !” “Saya juga Pak !” Seketika itu saya langsung tertawa. Prediksi dokter itu kurang tepat. Walaupun tidak juga salah sepenuhnya. Kenapa anak-anak jadi mantiak* begini pikir saya dalam hati. mungkinkah pengaruh TV? Entahlah, saya tidak ambil pusing. Cepat-cepat saya menolak permintaan mereka. Akhirnya hari itu saya belajar: cari calon Ibu yang soleha, biar nanti anak-anaknya ketularan soleh juga!

“Bagaimana telinga nya Rudi?” Tanya saya beberapa hari kemudian ke Rudi yang sedang asik dengan aktifitasnya. “Tinggal satu lagi Pak” jawabnya riang. Mendengar kabar baik itu saya cuma bisa bersyukur sekaligus berharap, agar anak bernama lengkap Rudi Permata Bunda itu menjadi sebenar-benar permata bagi bangsa ini …

Pendamping Sekolah SDN 25 Sungai Sarik,
Diki Septerian Syah

Memikirkan Asrama

Kemarin ade lorong mengirim pesan ke saya, “main ke asrama lagi dong kak, sebentar lagi kita di usir nih !?” Saya cuma bisa kaget dan tentu tidak bisa menjanjikan kapan ke asrama lagi. Jujur saja, akhir-akhir ini pikiran sedang tidak berada di sana (asrama). Tapi, setelah mendapat pesan tersebut, mau tidak mau dipikirkan juga.

keroyokan

Ketika masa PDSR dulu ada kejadian yang sampai sekarang masih terngiang jelas di kepala. Bagi kami waktu itu  adalah masa pelatihan, tapi bagi penghuni (angkatan 44) waktu itu merupakan masa akhir tinggal di asrama. Masa akhir di asrama tidak selalu menyenangkan. Bukan saja karena harus berpisah dengan teman-teman tetapi juga karena urusan administrasi. Nah, ketika itu beberapa SR diprotes, bahkan sampai-sampai ada yang berani mengeroyok SR nya.

Mengeroyok? Iya, mereka berbondong-bondong datang ke sekret SR mengeluhkan sanksi yang menurut mereka tidak adil, tidak transparan, bahkan sampai bawa-bawa urusan agama. “katanya IPB ini Islami, tapi kok nggak transparan dan cenderung riba sih !”, begitulah salah satu keluhan mereka ke SR yang notabene nya SR lorong mereka sendiri. Saya yang melihat kejadian tersebut tentu bingung sekaligus takut, “bagaimana kalo saya yang jadi SR nya ya ???” Karena menurut saya, SR yang mereka protes itu bukan tipikal SR yang rese (baca: banyak mengatur). Bahkan sangat baik. Saya juga yakin beliau tidak pernah “macam-macam” ke adek-adek lorong nya. Tapi mengapa bisa sampai begitu ya, pikir saya dalam hati.

tidak cukup baik

Hal tersebut ternyata terjadi juga pada saya. Bahkan sebelum masa akhir kepenghunian. Yang mengeluh memang tidak banyak, hanya tiga orang, tetapi tiga orang ini cukup membuat saya merasa bersalah sekali kepada Kepala Asrama. Karena waktu itu saya tidak dapat membendung mereka yang langsung menyampaikan keluhan ke beliau dengan cara yang sangat kasar (tapi, untungnya di sana ada mas Habib yang bisa meredam sekaligus mengarahkan mereka ^^).

Saya pernah cukup bangga dengan komentar, “kakak itu SR yang baik, nggak kayak SR yang itu rese”. Namun, setelah kejadian tersebut saya pun semakin menyadari bahwa menjadi SR itu tidak cukup hanya baik, tetapi juga harus memiliki kontrol atas ade-ade lorong. Tidak cukup sekedar baik, tetapi juga harus kuat.

menyiapkan ruang kecewa

Bahasan pokok pada majalah tarbawi tersebut memang mudah untuk di sampaikan, namun sulit untuk di terapkan. Apalagi bagi saya yang memang cenderung tidak suka dengan penolakan. Suka nya yang lurus-lurus saja. Cenderung menghindari konflik. Dan selalu mencoba memperbaiki secara diam-diam. Padahal saya juga tahu, menjadi SR adalah bukan tentang bagaimana membuat semua senang dengan kita, tetapi lebih merupakan tentang bagaimana kita melebarkan lingkaran kesolehan pibadi kita. Seharusnya memang ketika memutuskan menjadi SR saya menyiapkan ruang di hati untuk kecewa, agar tidak kehilangan arah saat menjalani tugas sebagai SR.

Loh, katanya memikirkan asrama, tapi kok malah curhat masa lalu?

Ah, iya maafkan… sebenarnya kepikiran SR baru, panitia yang menyiapkan SR baru, juga SR-SR yang dulu saya PDSR-in. Bagaimana kelanjutan cerita mereka ya?

(Tapi lagi-lagi baru sampai tingkat dipikirkan… ^^)

berani mundur

Berani Mundur

Oleh Zaim Uchrowi

Arifinto sungguh disayang Tuhan. Anggota DPR itu saya yakin seorang yang baik. Lebih baik dari rata-rata orang, lebih baik dari kebanyakan rekan legislatifnya. Tapi, sebaik-baik orang tentu punya kelemahan, tak terkecuali orang baik ini. Ia melakukan yang tak patut bagi orang sebaik dirinya, apalagi di tengah rapat Paripurna DPR—rapat yang semestinya diikuti cermat oleh semua pesertanya.

Allah SWT mengingatkannya lewat lensa kamera wartawan. Hal yang sesaat tentu memukul perasaannya juga perasaan rekan-rekan separtainya yang memosisikan diri untuk menegakkan moral. Pukulan tertelak tentu harus ditanggung keluarganya. Mereka tiba-tiba harus mendapat kerlingan aneh orang-orang di sekitarnya. Tapi, seorang Arifinto tentu seorang realistis. Ia sadar dan siap memikul konsekuensi atas perbuatannya.

Tak banyak orang yang segera di ingatkan Tuhan begitu berbuat salah. Tak sedikit orang yang berbuat salah lebih parah dari dia, namun dibiarkan Tuhan. Banyak pejabat yang gemar berzina juga rajin menilap uang rakyat dengan berbagai cara, baik yang kasar maupun yang tampak beradab, tapi Allah membiarkannya. Mereka dibiarkan hanyut dalam perbuatan kotornya dan tak dipermudah jalannya untuk kembali menjadi orang baik.

Arifinto tidak seperti itu. Ia tidak pernah benar-benar kotor seperti banyak orang lain yang tampak baik dan terhormat —padahal tidak. Nuraninya relatif terjaga. Ketika menyadari telah melakukan hal yang tak patut, segera ia menginstrospeksi diri. Ia memilih mengundurkan diri. Hal yang hampir tak akan pernah dilakukan siapa pun di DPR, bahkan oleh mereka yang memiliki kesalahan lebih besar.

Di dalam dunia politik kita, mundur belum biasa. Sangat berbeda dengan Jepang. Pejabat yang dinilai kurang patut, berdasarkan norma Jepang, akan segera mundur. Pejabat yang dituding bersalah oleh publik akan mundur. Mereka tidak akan mencoba membela diri, dan mereka tidak sibuk berdalih menutupi kesalahan atau kekurangannya. Buat mereka, jabatan adalah kepercayaan. Bila kepercayaan pada dirinya hilang, dia akan segera menyerahkan jabatan. Apalagi kalau jelas membuat kesalahan.

Arifinto mengingatkan kita pada nilai itu. Ia mundur dari jabatannya. Hal yang dulu juga dilakukan Bung Hatta. Kebetulan atau tidak, menurut pakar politik Indra J Piliang, keduanya orang Bukittinggi. Daerah yang di masa-masa awal Indonesia banyak melahirkan pemimpin besar. Mundur dari jabatan bahkan dilakukan oleh pemimpin yang dituding pengeritiknya sebagai otoriter, seperti Soeharto. Merasa rakyat tak membutuhkannya lagi, Soeharto mundur.

Tak gampang buat memutuskan mundur. Hanya orang yang sungguh paham dan sadar apa arti jabatan yang berani mundur. Seorang yang berani mundur tahu betul bahwa jabatan bukan tujuan, jabatan hanya sarana. Bukan sarana buat memupuk kejayaan diri sendiri, melainkan sarana untuk membangun keadaan lebih baik untuk masyarakat. Maka, jabatan harus dipikul dengan penuh martabat. Jabatan dijaga dengan kepatutan dan moralitas tinggi. Seorang yang mengincar jabatan buat kejayaan diri tidak akan pernah mau mundur. Mereka akan gunakan segala cara untuk mempertahankan jabatan.

Sebaliknya bagi orang bernurani yang tahu jabatan hanya sarana, mereka akan mundur saat telah melanggar kepatutan memikul jabatan. Mereka akan mundur ketika jabatan tak lagi efektif untuk menggapai tujuan membuat kebaikan di masyarakat. Itu yang dilakukan Hatta begitu Soekarno mulai membangun pemerintahan otoriter berlabel demokrasi terpimpin.

Arifinto membuat langkah penting bagi bangsa ini, membiasakan budaya mundur. Hal yang tentu tak lepas dari sikap partainya, PKS. Partai yang dalam beberapa waktu terakhir banyak dihujani cobaan, termasuk pada kasus ini. Namun, lewat mundurnya Arifinto, PKS menunjukkan beda dengan partai lainnya. PKS melakukan hal yang hampir tak mungkin dilakukan partai lain. Dengan segala kekurangannya, partai ini relatif masih paling mengusung moralitas di kancah politik nasional.