Penyakit Kronis: Selalu Ingin Barang Baru

Ketika G.A.S Melanda.

***

LELAKI, kalau lagi ngopi-ngopi, apa yang diomongin? Barang. Wanita kalau lagi ngerumpi, apa yang diomongin? Orang. Bila ada kumpulan lelaki terus ngomongin orang, maka otaknya mengalami gangguan. Sebaliknya, bila rumpian ibu-ibu tidak lagi ngomongin orang, maka otak mereka normal.

Lah kok? Iya, karena wanita ingin dimengerti. Tidak pernah salah kang! Wkwkwkwkw …

***

Sebagai lelaki sejati, saya ngomongin barang. Maka, blog ini isinya barang melulu. Ponsel, Motor, Laptop, dan segala yang berkaitan dengan itu. Utamanya karena ingin membeli barang yang saya tuju, saya jadi lebih intensif mencari informasi. Tapi, belakangan, rasanya ada virus berbahaya yang mulai menjangkiti: Selalu ingin barang baru!

Melihat ponsel baru, pengin. Melihat kamera baru, nafsu. Melihat motor baru, menggebu. Melihat laptop baru, silau! Padahal yang lama masih berfungsi sebagai mana adanya.

Iya, tapi-kan …. Nah, mulai tuh!

Mantra “iya, tapi-kan…” rasanya selalu manjur membuat segalanya menjadi rasional. Coba saja lihat ini:

Barang 1: Ponsel

Vivo Y21 hanya 1 bulan menemani keseharian saya. Selebihnya saya berikan ke yang lebih membutuhkan :). Sekarang Oneplus X yang menemani, baru jalan 5 bulan, tapi lagi-lagi ingin mengganti yang baru, Alasannya? Supaya ada bahan review baru. Wkwkwkw …

Ponsel paling lama yang menemani saya adalah Nokia Lumia 520. Saya menggantinya ketika kondisi cukup parah: baterai tidak lagi bersahabat, speaker tidak berfungsi, kamera tidak lagi bisa diandalkan, proximity sensor mati, dan kondisi fisik mengenaskan. Daripada ia mati mendadak ketika saya belum siap-siap, lebih baik saya migrasi. Jalan saya buntu bila menatap WP. Akhirnya saya beralih ke platform berbeda: Android. Yang mengantarkan saya ke gerbang kehidupan yang tiada bertepi!

Tiap bulan ada saja yang baru. Paling sering keluaran brand ginseng dan naga terbang. Padahal, apa sih yang ditawarkan? Tidak ada yang benar-benar baru. Yang membuat mata berbinar-binar, dan jijingkrakkan kegirangan lagi. Belum ada kan, ponsel pintar yang daya-nya tahan hingga 1 minggu pemakaian normal, tanpa minta diisi? Tapi, kan … kameranya bagus, layarnya melengkung, anti air loh … Tuh, mulai lagi!

Barang 2: Kamera

Gara-gara Lumia 520, saya menginginkan kamera “beneran”. Ponsel keluaran Nokia itu menawarkan kontrol layaknya pada kamera DSLR. Saya tidak ingin DSLR, saya ingin belajar. Karena itu kamera yang nantinya saya beli haruslah nyaman buat saya bawa kemana-mana. Namun, dengan kualitas gambar yang bisa diterima, dan lensa sapu jagat yang mampu memenuhi segala kondisi. Juga kontrol layaknya DSLR, sekaligus bisa menghasilkan foto mentah tentunya.

Keputusannya?

Canon G7X my gear

Canon G7X. Memenuhi hampir semua daftar centang tentang kamera yang saya inginkan. Rada sinting juga saat saya memutuskan untuk membelinya, karena harganya mendekati si ASUS K401LB yang baru saya upgrade.

Rasanya? Setelah 2 bulan pemakaian, mendadak saya menjadi terkenal. Unggahan foto saya tentang perampokan di Cilincing berhasil membuat berbagai pihak bergerak. Dan (mungkin) beberapa merana. Saya semakin menyadari kekuatan gambar dan kata untuk membuat perbedaan.

Tahun pun berlalu, hampir semua foto yang ada di blog ini juga hasil dari kamera itu. Sekarang, saya mulai merasakan batasannya. Nafsu melihat 80D yang baru itu. Kemudian tersadar, “emang mau di bawa itu barang sehari-hari?” Kemudian mata bergeser ke X-T1. Seksi benar itu barang… aiiiih. Cuma ya, kok harganya saingan sama si Address! Lalu, kemudian melirik ke M3 yang harga dan bentuknya mirip dengan si G7X, sekaligus pegang-pegang. Keren ini barang, enak di genggam. Lalu kemudian tersentak, “ngapain ganti kalau pakai itu sih!”

Barang 3: Motor

Punya motor di rumah, meski satu sudah membuat tenang. Paling tidak ada. Walaupun jarang-jarang pakai. Ada yang berpikiran seperti itu. Buat saya, keharusan. Motor menjadi aset yang dengannya uang masuk ke kantong saya. Tidak ada motor? Akan semakin boros jadinya. Untuk urusan ini saya tidak terlalu ambil pusing, 3 tahun adalah masa keemasan motor-motor konsumer. Bagi saya begitu. Eeh, ternyata meleset, si EDA belum genap 3 tahun sudah minta di operasi. Jadi-lah saya sibuk mencari penggantinya. Meski, (sepertinya) saya akan memberinya kesempatan lagi hingga 50 ribu kilometer.

Barang 4: Laptop

Laptop tidak terlalu membuat saya pusing. Asus K401LB menjadi laptop pertama yang saya beli dengan uang sendiri. Sebelumnya? Byon Queva S8631 yang telah membantu meluluskan saya menjadi sarjana sains…ehm..ehm. 5 Tahun lamanya dia menemani. Sekarang? Masih ada, semua masih berfungsi dengan baik, kecuali baterainya yang sudah tidak bisa lagi diselamatkan.

Berapa lama Asus K401LB akan bertahan? Tergantung. Bila saya ingin ganti, ya, ganti saja … wkwkwkw. Dia saya “turunkan”, lalu saya menggunakan yang lebih kece. Pro series, Xps series gitu? Ngimpi :D.

Barang 5,6,7, dst …

Daftar mainan lelaki bervariasi. Ada yang ponselnya itu itu saja, tapi mobilnya setiap tahun ganti. Ada yang sama sekali tidak memiliki kamera, tapi joran-nya lengkap untuk menangkap ikan jenis apapun. Ada yang motor tidak punya, tapi memiliki koleksi head-set yang super duper lengkap. Begitu seterusnya. Untungnya, tidak semua mainan saya suka. Dan untungnya lagi saya tidak punya kartu kredit!

Kebutuhan, Keinginan

Seringnya batas antara keinginan dan kebutuhan menjadi kabur ketika diburu nafsu. Pernah kebelet banget membeli sesuatu, terus ketika membeli rasanya bukan senang, tapi biasa saja? Tandanya itu keinginan. Kebutuhan bila tidak dipenuhi maka akan ada konsekuensi penting yang terjadi.

Misal begini, bila saya tidak segera mengganti kamera dengan yang lebih baru, apa konsekuensinya? Apakah pemasukan saya terganggu karenanya? Menjadi berkurang atau tidak ada sama sekali? Jawabannya jelas tidak. Saya akan baik-baik saja meski tidak ada X-T1 di sisi.

Alternatif yang lain: Buku, Rumah, ONH, traveling, workshop

Memiliki barang baru bukan jaminan kebahagiaan. Malah bisa jadi sumber kesengsaraan. Setelah membeli, ternyata tetangga memiliki tipe yang lebih baru, setelah membeli ternyata hasil yang didapat sama saja. Itu yang saya sadari. Lalu, bukankah sebaiknya saya membelikan sesuatu yang lebih berharga, yang lebih bisa membuat perbedaan?

Dalam kasus fotografi, untuk meningkatkan kemampuan, seringnya bukan dengan cara upgrade gear yang kita punya. Tapi, pengetahuan, juga jalan-jalan. Jadi, daripada menghabiskan uang untuk membeli barang-barang terbaru, lebih baik uang itu dijadikan buku, untuk mengikuti pelatihan, atau jalan-jalan sekalian. Setuju?

Tuh dengerin tuh!

Atau bahkan, tabung saja untuk ongkos naik haji. Ingin berangkat kapan bila tidak daftar dari sekarang?

Lalu?

Saya harus dengan barang yang itu-itu saja, begitu? Ya, tidak juga. Ponsel misalnya, dua tahun rasanya batas yang wajar untuk mengganti. Saya? 6 bulan.. hahaha.

Kadang logika saya lumpuh bila berhadapan dengan emosi. Di sinilah saya butuh keeper. Penjaga gawang yang siap meneriaki saya, bila saya tidak bekerja dengan baik. Lagi juga, sebenarnya untuk apa semua barang-barang itu? Mendukung kerja, kan? Mendukung tercipta-nya karya nyata yang dapat bermanfaat buat sesama, kan. Jadi, fokus saja di sana (berkarya nyata), lalu syukur-syukur nanti akan ada yang melemparkan X-T1 beserta 16mm, 35mm, 56mm nya itu.

Sebentar lagi juga saya mampir, mau meminang si V3 … XD.

***

Selamat sore kang, salam

diki septerian

 

 

 

 

 

One thought on “Penyakit Kronis: Selalu Ingin Barang Baru

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.