Permata Bunda

Bagian tubuh mana yang paling baik untuk dipakaikan minyak wangi?
“Telinga, bukan di baju apalagi dibawah lengan!” Kata Zai Hanan, trainer yang berpengalaman memoles penampilan para bisnisman, artis, sampai politisi. Mengapa di telinga? Karena, telinga itu sejajar dengan hidung, “Insya Allah itu parfum terharum dan terlama yang menempel di badan Bapak Ibu”, ia melanjutkan sesi trainingnya.

Minyak wangi memang membuat wangi. Apalagi kalau dipakai ditelinga seperti yang diajarkan Zai Hanan itu. Tapi bagaimana jika bukan minyak wangi yang ada di telinga –maaf—“conge” atau kotoran telinga misalnya? “Wangi”nya juga tidak kalah ampun-ampunan.

Kotoran telinga itulah yang menjadi masalah salah seorang anak di sekolah ini. Ia dikenal dikalangan teman-temannya dengan wangi seperti itu. Bahkan ia juga menjadi pembicaraan guru-guru. Saya pun pernah merasakan wangi itu ketika ia main ke rumah. Bahkan wangi itu betah berlama-lama di rumah saya (eh, rumah dinas maksudnya).

“Kalau sudah siang, biasanya cairan itu keluar dari telinganya. Lalu dia lap saja dengan kerah bajunya. Ibu sudah bilang berkali-kali ke dia supaya berobat dokter, minta ke orang tuanya. Tapi tidak pernah dijalankan”, keluh wali kelasnya.

Dengan kondisi seperti itu, otomatis ia menjadi bahan ejekan teman-temannya. Tidak ada yang mau mendekat. Ia pun menjauh dengan sendirinya. Seringkali terlihat ia asik sendiri dengan buku, belajar membaca dengan keras. Semangat belajarnya tergolong besar. Tapi wangi itu yang membuatnya kurang percaya diri.

Tanpa banyak pertimbangan, akhirnya saya putuskan untuk membawanya ke dokter. “kita jalan-jalan yuk”, ajak saya. Ia pun tidak menolak dan tidak bertanya mau dibawa kemana. Ia hanya mengangguk kegirangan.

Sampai di tempat dokter saya pun mendaftarkannya.

“Alamat rumahnya dimana?”
“Kasai bu”
“kasai itu dimana ya?”
“Dekat pasar ampalu ”
“Ooohh.. jauh juga ya kalau begitu“
“Iya soalnya puskesmas di sana buka hanya sampai siang sedangkan dia sekolah, jadi saya bisa membawanya sore saja, dan ini tempat terdekat yang direkomendasikan guru yang tinggal di daerah sini”
“Oh, jadi Bapak ini gurunya?” (kali ini dokter yang berada didekat situ yang menyambar)
“Iya dok”
“Wah, perhatian sekali. Pasti anak-anak senang ya. Kalau ngajar anak SMP atau SMA pasti mereka pura-pura sakit, supaya bisa diantar juga.”
“ … … … …” (saya cuma tersenyum waktu itu, padahal bertanya-tanya dalam hati masa iya sih)

“jadi apa keluhannya?”
“ini dok, telinganya kotor.”
“Sini nak, siapa namanya?”
“Rudi… Rudi Permata Bunda”
“Rudi kelas berapa?”
“Kelas dua, tapi tinggal kelas satu tahun”
Dokter itu pun tersenyum, “wah jujur sekali ya”. Rudi pun membalasnya dengan senyum, walaupun sebenarnya ia tidak mengerti. Dokter itu pun kemudian memeriksa telinganya.

“Telinganya bersih, tidak ada kotoran”
“Ah, masa dok tapi sering keluar cairannya”
“Ooh.. ini pasti karena mandinya, Rudi kalau mandi sering jungkir balik ya?”
“……………….” (Rudi tidak menjawab, hanya membalas dengan senyum malu tanda bersalah)
“Sekarang, saya kasih obat saja dulu, khawatir ada infeksi. Ini diminum 3 x 1 hari jam 10 malam, jam 6 pagi dan jam 12 siang. Nanti kalau cairannya keluar jangan di lap pakai korek kuping apalagi kerah baju, tapi pakai tisu saja”
“baik dok. Terimakasih banyak, ayo Rudi bilang terimakasih ke bu dokter”
“………………..” (lagi-lagi Rudi hanya membalas dengan senyum)

Saya kemudian mengantar Rudi ke rumahnya. Sampai di rumahnya saya dikejutkan oleh seorang lelaki tua yang sedang duduk. Saya memberi salam, tapi ia tidak menjawab. “Matanya buta”, jawab abangnya Rudi. Lelaki tua dan buta itu ternyata Ayah mereka.

Pandangan saya pun berkeliling ke seluruh sudut rumah yang beralaskan tanah itu. Rumah itu gelap, karena hanya satu lampu yang menyala. Itu pun bukan neon, hanya bohlam yang tidak seberapa wattnya. Meski begitu, abang Rudi yang lain tetap asik mengaji. Ia menjadikan obor-oboran sebagai tambahan penerangan.

Sang Ibu akhirnya keluar. Ia terlihat “gagah”, mungkin karena pekerjaan berat di ladang yang menjadikannya seperti itu. Saya pun memberitahu apa yang tadi dijelaskan dokter—sambil menyodorkan obat dan tisu—dengan sebelumnya meminta maaf, karena mengajak Rudi ke dokter tanpa ijin terlebih dulu. Rudi pun tidak mau kalah, dengan antusias ia menjelaskan tata cara meminum obat ke Ibunya. Sang Ibu sangat senang karena ada yang mau perhatian ke permatanya itu. Setelah berbincang sebentar saya pun berpamitan.

Sepanjang perjalanan pulang saya banyak melamun: Ayahnya buta, abang-abangnya masih sekolah, praktis sang Ibu yang menjadi tumpuan keluarga. Dengan kondisi seperti itu wajarlah bila urusan ke dokter tidak pernah tersentuh. Namun, hebatnya Permata Bunda itu tidak mengeluh, ia tetap semangat ke sekolah. Tekad saya pun semakin bulat: tidak akan memberi cap buruk ke anak-anak.

Esok harinya berita itu menyebar. Beberapa siswi mendatangi saya sambil berpura-pura sakit, “Pak, saya sakit… tolong antarkan saya ke dokter !” “Saya juga Pak !” Seketika itu saya langsung tertawa. Prediksi dokter itu kurang tepat. Walaupun tidak juga salah sepenuhnya. Kenapa anak-anak jadi mantiak* begini pikir saya dalam hati. mungkinkah pengaruh TV? Entahlah, saya tidak ambil pusing. Cepat-cepat saya menolak permintaan mereka. Akhirnya hari itu saya belajar: cari calon Ibu yang soleha, biar nanti anak-anaknya ketularan soleh juga!

“Bagaimana telinga nya Rudi?” Tanya saya beberapa hari kemudian ke Rudi yang sedang asik dengan aktifitasnya. “Tinggal satu lagi Pak” jawabnya riang. Mendengar kabar baik itu saya cuma bisa bersyukur sekaligus berharap, agar anak bernama lengkap Rudi Permata Bunda itu menjadi sebenar-benar permata bagi bangsa ini …

Pendamping Sekolah SDN 25 Sungai Sarik,
Diki Septerian Syah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.