Review Motorola Moto G5s Plus

Motorola Moto G5s Plus Belakang

RAM 4GB, Snapdragon 625, Kamera Ganda, dan Fast Charging di Harga 3 juta … Kurang Apalagi Coba?

***

Satu lemah yang paling menonjol dari Xiaomi Mi A1: belum mendukung Qualcomm QuickCharge. Serius, kalau sudah pernah memiliki handphone dengan kemampuan mengisi daya cepat itu susah untuk kembali. Makanya, saya begitu merindukan VOOC charging OPPO F1 Plus. Sayang-nya Helio P10 yang menjadi otaknya kurang mumpuni.

Telah lama saya menantikan handphone dengan chipset Snapdragon 625 yang mampu mengisi daya cepat, tapi harga tidak lebih dari 3 juta.

Ternyata Motorola Moto G5s Plus yang menjawabnya.

Screenshot_20171109-080228

Motorola, perusahaan asal Amerika yang kini menjadi bagian dari Lenovo bukanlah pemain baru di dunia per-ponsel-an. Ia sempat tenggelam, lalu muncul kembali mencuri perhatian lewat Moto G series di tahun 2013.

Seri G dirancang untuk menguasai pasar kelas menengah bawah. Sayangnya Motorola Indonesia belum siap untuk membawanya ke sini. Membiarkan Redmi Series dari Xiaomi mengambil titel juara kelas menengah bawah itu.

Tahun ini berbeda, Motorola Indonesia menghadirkan produk-produk yang lebih beragam. Mereka membawa juga seri E dan C yang lebih mengedepankan daya tahan baterai lebih dari apapun. Lebih dari itu, mereka berani membawa seri Z yang merupakan ponsel modular.

Meski begitu, seri G tetap yang paling menarik, karena ia menawarkan keseimbangan antara performa, fitur dan harga.

Bila memegang Motorola Moto G5s Plus kita akan tahu itu: ini handphone bukan sembarang handphone. Ini handphone kelas menengah yang kualitas pengerjaan, performa, dan fitur-nya tidak malu dibandingkan dengan ponsel di kelas atasnya.

motorola moto g5s plus tampak samping

Motorla Moto G5s Plus telah menjadi HP utama saya sekitar 21 hari. Awal menggunakannya butuh adaptasi. Ini disebabkan oleh absen-nya tombol navigasi kembali (back) dan daftar aplikasi (recent apps). Semua digantikan oleh satu tombol home yang tidak bisa di-klik.

Untungnya kemampuan otak untuk beradaptasi itu mengagumkan. Dengan cepat saya mampu menguasai gerakan-gerakan baru. Sapu jempol ke-kiri untuk back, sapu kanan untuk daftar aplikasi yang sedang berjalan. Sentuh sekali untuk kembali ke halaman utama. Sentuh hingga bergetar untuk memadamkan layar. Dan sentuh lama untuk memanggil google assistant.

Tidak ada ketuk dua kali untuk mematikan dan menghidupkan layar. Semua diambil alih oleh tombol serbaguna tadi. Ia juga berfungsi sebagai pemindai sidik jari. Dan dengan yakin saya mengabarkan: pemindai sidik jari berbentuk oval itu sangat cepat dan akurat.

Tapi… “bagaimana bila otak saya tidak juga move-on dari sang mantan?”

Tenang … Motorola G5s Plus menyediakan pilihan tombol navigasi on-screen. Dengan tombol back di sebelah kiri, dan recent apps di sebelah kanan.

Cerdas? Harus begitu.

motorola moto g5s plus ds samping

Motorola membangga-banggakan bodi logam pada Moto G5s Plus. Katanya ia indah dan kuat. Saya meng-amini-nya. Logamnya terasa logam. Indahnya karena pengerjaan yang rapi. Apalagi logam itu halus dan tidak meninggalkan sidik jari ketika disentuh.

Layar besar dengan resolusi Full HD juga menjadi bahan jualan Motorola. Saya meng-iya-kannya. Layar 5,5 inchi berteknologi IPS itu tajam, cerah, dan sudut pandangnya luas. Warna memang cenderung lebih pucat, tidak menonjol seperti pada layar-layar berteknologi OLED (AMOLED Samsung terutama).

Layar itu bisa juga disesuaikan. Ada pilihan standard dan vibrant. Dari amatan saya, kedua mode itu tidak terlalu mencolok perbedaannya.

Tingkat kecerahan juga bisa diatur manual ataupun otomatis. Slider tersedia di pengaturan cepat. Sayangnya tombol otomatis tidak tersedia di sana. Kita harus masuk ke pengaturan display.

Layarnya sedikit melengkung (2.5D), Gorila Glass 3 dari Corning yang menjadi pelindungnya.

mototola moto g5s plus ketebalan

Dibalik bodi berdimensi 153 x 76 x 8 mm itu tersimpan Chipset Snapdragon 625, Ram 4GB, dengan memori internal 32GB.

Artinya? Performa (harusnya) bukanlah masalah. Nyatanya memang begitu. Motorola G5s Plus gegas. Membuka puluhan aplikasi sekaligus tidak menurunkan kegesitannya. Digunakan untuk memainkan game 3D seperti Asphalt 8: Airborne juga lancar. Ram-nya bekerja baik untuk membekukannya aplikasi itu ketika sedang tidak dimainkan.

Selama digunakan, Motorola G5s Plus tidak pernah mengeluarkan panas berlebih. Tetap adem sentosa.

Semua kekuatan itu didukung oleh baterai berkapasitas 3000mAh. Baterai itu akan habis setelah saya gunakan selama lebih dari 20 jam. Entah berapa lama screen on time-nya. Penggunaan saya termasuk yang normal: browsing, streaming musik dan video, medsos, ms office, jeprat-jpret sana sini dan sesekali main game. Semua tetap dalam keadaan GPS aktif, tanpa pernah saya matikan.

Jadi, bila habis mengisi daya pagi hari (jam 6), maka Motorola G5s Plus akan diisi lagi ketika saya pulang dari kantor (jam 10 malam). Tapi, siklus itu saya rubah, saya mengisi di kantor sekitar jam 9 pagi, dan baru akan diisi jam yang sama keesokan harinya.

Lama pengisian-nya? 30 menit bisa bertambah 40%-an. Satu jam hampir penuh 100%. Turbo Power pada Motorola G5s Plus bekerja sampai batas 78% setelah itu kecepatan normal.

Hal ini membuka tabir, bahwa Turbo Power yang ditenagai oleh charger berdaya 15W itu adalah Qualcomm QuickCharge 2.0. Ia tidak secepat dan se-adem VOOC charger OPPO F1 Plus yang memang memiliki teknologi tersendiri.

Masih kurang memuaskan?

daya tahan baterai motorola moto g5s plus

motorola moto g5s plus daya charger

Build quality ok, performa ok, baterai ok, apakah kamera-nya juga ok? Motorola menjanjikan kamera yang mampu membebaskan kreatifitas penggunanya.

Spesifikasinya menggiurkan memang: Dual kamera beresolusi 13MP yang memiliki software penyunting kedalaman. Pengatur BOKEH bahasa kekiniannya. Sensor itu ditemani oleh lensa f/2.0 dan lampu kilat ganda.

Dibagian depan juga tidak kalah menarik, ada 8MP kamera dengan lensa yang juga berbukaan f/2.0. Yang membuatnya tambah keren adalah ada led yang dapat digunakan sebagai senter ataupun lampu kilat saat ber-selfie ria.

Untuk mengakses kamera bisa kita lakukan dengan 2 cara: klik aplikasi atau putar 2 kali pergelangan tangan.

Setelah terbuka, maka kita akan disajikan oleh tampilan kamera yang simpel. Ada 3 menu utama: sapu kanan untuk pengaturan gambar, klik tombol titik tiga untuk berbagai mode (profesional, depth, panorama), dan klik ikon-ikon di atas untuk mode cepat (HDR, low light, flash, dan hitung mundur).

Sejak saya unboxing, sudah ada dua kali pembaruan software pada kamera ini. Pertama untuk mode depth yang kini bisa mengatur kadar bokeh sebelum mengambil gambar, dan kedua untuk perbaikan secara umumnya.

Motorola masih kesulitan mendapatkan sweetspot terkait kamera pada ponsel-ponselnya.

Pada motorola seri G, tidak pernah juga ia menjadi kekuatan utama. Saya menggunakan kamera dengan dasar dugaan itu. Setelah dua kali update, Ia melebihi ekspektasi saya. Waktu penyimpanan gambar kini lebih cepat. Fokus juga semakin cepat. Cuma, keluaran warna pada mode auto masih agak tricky. Maksudnya, perubahan sudut pengambilan gambar (yang ikut merubah arah cahaya yang mengenai objek) berpengaruh pada hasil akhir.

Lihat saja gambar berikut. Dua-duanya saya ambil dengan mode auto, tetapi berbeda sudut tembak.

Untuk BOKEH-nya sedari awal tidak menjadi daya tarik buat saya. Hasilnya hit and miss. Kadang terlihat alami, kadang terlihat sekali buatannya. Tapi, untungnya ia bisa kita gunakan untuk foto benda juga. Asal sabar hasilnya ternyata bisa memuaskan.

Untuk seru-seruan, mode depth tadi juga bisa digunakan untuk memilih hitam-putih pada gambar, memilih fokus setelah pengambilan gambar dan mengganti-ganti latar dalam sekejap.

Bagaimana dengan kamera depannya?

Ada mode beauty juga ternyata. Cuma memang sederhana, hanya auto, manual atau off saja pilihannya. Yang menarik adalah lampu yang sudah saya singgung di atas. Selain itu kamera depan ini mampu auto fokus. Jadi tidak perlu repot mengira-ngira jarak yang tepat untuk mendapatkan hasil yang diinginkan.

Ganteng ya ganteng, cantik ya cantik, jelek ya jelek. Kira-kira begitu. Eh…

hasil kamera selfie motorola mot g5s plus

Semua fitur tadi berjalan pada Android Nougat 7.1.1. Sampai tulisan ini dibuat belum ada lagi pembaruan (sayang sekali, versi security patch-nya masih bulan Juni 2017). Padahal, Motorola menjanjikan Moto G5s Plus ini akan kebagian Oreo. Bandingkan dengan Xiaomi Mi A1, yang telah mendapatkan dua kali update sejak saya gunakan.

Jangan PHP plisss …

Untungnya Nougat tetap berasa Android. Motorola hanya menambahkan sedikit aplikasi bawaan. Dengan Moto Experience sebagai signature-nya. Dan itulah yang membuatnya meninggalkan Xiaomi Mi A1 yang rasanya Google sekali.

Aplikasi bergambar wajik itu menyediakan 2 pengalaman utama: gesture dan display.

Gesture yang hanya dimiliki oleh motorola adalah twist dan chop. One button navigation telah saya bahas sebelumnya. Selain itu, operasi satu tangan bisa diaktifkan dengan menyapu jari dari tengah ke pojok kiri/ kanan bawah secara diagonal.

Sedangkan untuk Moto Display ada dua hal yang menjadi sajiannya: Night display yang meniadakan cahaya biru dan Moto display yang bekerja seperti Glance Screen atau Always on Display pada handphone mahal Samsung.

Moto Display saja cukup untuk merebut hati saya. Wkwkw

Serius, Xiaomi Mi A1 memiliki itu. Tapi tidak bisa ditampilkan sekendak hati. vivo V3 memilikinya. Ia bisa diaktifkan dengan tanpa menyentuh handphone. Ini penting karena saya sering sekadar melihat jam atau notif yang ada. Repot sekali kalau harus menghidupkan handphone.

Motorola G5s Plus membuatnya naik setingkat lebih baik. Kita bisa berinteraksi dengan notifikasi itu. Ingin balas? Ingin berbagi? Bisa, tanpa harus membuka handphone.

Memang sih sensor yang digunakan berbeda dengan vivo. Bila vivo menggunakan sensor fotometrik dan proximity-nya. Motorola menggunakan sensor gravitasi: Ia harus kita sentuh agar aktif.

motorola moto g5s plus moto display

Kualitas pengerjaan OK, Layar OK, Performa OK, Baterai OK, Software OK, Kamera Setengah OK, bagaimana dengan Audio?

Motorola tidak menjadikan ini sebagai bahan jualan. Speaker (pengeras suara) terdengar nyaring dan jelas. Namun, untuk memutar musik, keluaran suaranya tergolong Boxy, meski tidak pecah. Untuk keluaran suara dari earphone bawaan-nya sangat buruk. Saya menyarankan gunakan saja ia sebagai handsfree (untuk telepon).

Namun, bila dipasangkan dengan earphone yang lebih baik, ia tidak mengecewakan juga. Saya sudah membandingkannya dengan berbagai earphone: Co-Donguri, Carbo Mezzo, dan Red Wire-nya JVX, penilaiannya?

Cenderung netral. Entah DAC apa yang digunakan (kemungkinan sih bawaan Snapdragon 625), ia akan mengeluarkan bunyi sesuai karakter dari masing-masing earphone tadi. Bila bersih ya bersih, soundstage luas ya luas, separasi instrumen terpisah dan detil… ya begitu.

Cuma, rasanya ada pengurangan di kuantiti Bass. Co-Donguri yang memang berkaratker nge-cring, jadi tambah kering dibuatnya. Bass semakin tipis. Begitu juga dengan Red Wire, Mid-nya jadi terdengar distorsi, metalik, atau apasih sebutannya itu. hehe.

Untuk teleponan OK, ia menggunakan dua mic satu untuk input suara, satu untuk noise canceling.

hasil kamera motorola mot g5s plus-04

Menjawab pertanyaan di awal, KURANG APALAGI COBA?

Selot SimCard yang hybrid salah satunya. Belum adanya LED Notifikasi berikutnya*. Absennya kompas magnetik juga. Tidak adanya infra RED/ IR Blaster? Bisa jadi.

Dan … pembaruan software yang terhenti di bulan Juni menjadi pertanda. Benarkah Motorola akan menepati janji akan terus memperbarui software-nya bahkan hingga mendapatkan OREO?

Tapi, buat saya ini: dimensi yang “normal” untuk ukuran 5,5 inchi. Andai ia menganut aliran Full View akan lain ceritanya. Atau, paling tidak bezel tepinya ditipisin sedikit lagi.

motorola moto g5s plus sisi bawah

Dirasa-rasa … Moto G5s Plus lebih enak digunakan  daripada Xiaomi Mi A5.

Dan saya akan menggunakan Motorola Moto G5s Plus ini hingga ada ganti yang lebih menarik. Asus Zenfone 4 tentu incaran utama. Meizu 7 Pro berikutnya. vivo V7 tanpa plus juga sepertinya menarik.

Mengapa?

Karena mereka memiliki janji yang tidak dimiliki oleh Motorola G5s Plus dan Xiaomi Mi A1: Audio yang lebih baik.

motorola moto g5s plus ds sisi atas

Catatan lain

  1. NFC bisa di On-Off. Posisi ada di belakang, di atas kamera dekat dengan lubang mic. Fungsinya untuk menyambungkan perangkat yang punya NFC juga. Saya mencobanya dengan BNI Tap Cash. Tempelkan lalu ia langsung membuka aplikasi Tap Cash yang sudah terpasang. Saldo pun dapat terlihat.
  2. Dua selot kartunya bisa 4G, tapi bila salah satu sudah digunakan, maka hanya satu yang bisa 4G.
  3. Tema bisa diganti-ganti, setelah aplikasi Wallpapers diperbarui semakin banyak pilihan gambarnya
  4. Cara screenshot tekan tombol power dan volume bawah secara bersamaan hingga, tahan sebentar hingga gambar tersimpan.

cara menggunakan NFC motorola moto g5s plus

selot kartu motorola moto g5s plus

Beberapa kondisi untuk melihat hasil kamera:

hasil kamera motorola mot g5s plus Indoor cahaya redup

Spesifikasi lengkap Motorola Moto G5s Plus, harga hingga tulisan ini diterbitkan: Rp 2.999.000

_______

Catatan pembaruan 27 November 2017

Saya sudah menemukan penggantinya! Ternyata selama ini dia berada dekat. Tersimpan rapi dilaci rumah. Ketika menyentuhnya lagi, rasanya … duh! Sudah seminggu si Hitam Manis kembali menemani.

Karena itu, saya akan melepas Moto G5s Plus ini. Yang berminat silahkan mampir ke “toko” saya “etalase diki septerian” di Tokopedia nanti ya.

_____

Pembaruan artikel 22 Desember 2017,

*Motorola Moto G5s Plus memiliki lampu LED Notifikasi. Letaknya ada di sebelah kanan kamera depan. Ia tidak bisa digunakan untuk pemberitahuan, hanya menyala saat mematikan atau menghidupkan handphone. Putih warnanya!

Sudah ada Pembaruan Software ke NPSS26. 116-26-4. Daftar perubahannya hanya Menaikan Security Patch Level dari Juni ke Oktober 2017.

update android motorola moto g5s plus

 

 

11 thoughts on “Review Motorola Moto G5s Plus

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.