Review Singkat Alcatel Flash Plus 2

alcatel flash plus 2 indonesia-13

Mencoba merusak pasaran?

***

RELAKAH akang melepas dua juta untuk meminang Smartphone dengan spesifikasi seperti ini: Layar Full HD dengan kerapatan hingga 401 ppi, memori internal 2GB RAM dan 16GB eMMc, chipset Mediatek Helio P10 (MT6755M, 4×1.8 GHz Cortex A53 + 4×1.0Ghz Cortex A53), GPU ARM Mali T860 MP2 550MHz, Kamera 13MP f/2.0 dual tone led flash + 5MP f/2.4 single flash, jaringan 4G LTE dual sim, baterai 3000mAh dengan flash charging, finger print, plus bonus Hi-Fi dengan DAC AKM4735+NXP9890 amplifier, dan satu lagi … Android 6.0 !

Eh… bodinya logam pula !

Banyak yang rela… Buktinya barang itu ludes saat flash sale minggu lalu. Saya tidak kebagian, barang itu kemudian banyak dijual di tokopedia dengan selisih harga 100 ribu. Saya beli dari sana. Errrmm… bukan saya sih, tapi seorang akang yang ikut rela meminang meski harganya selisih 100 ribu.

Memegang Smartphone seharga 2 juta dengan segudang fitur dan spesifikasi seperti itu, tidak ada yang lain dalam pikiran: Bagian mana yang dipangkas oleh produsen?

Apakah kualitas pengerjaan? Tidak, saya tidak mendapati sesuatu yang mengganggu. Bodi belakang yang terbuat dari alumunium sangat kokoh. Meski ada plastik di balik covernya (untuk menerima sinyal), tapi itu tidak membuatnya terasa murah.

Apakah touch screennya? Tidak juga. Selama saya gunakan, touchscreen terasa halus dan responsif. Apakah layar full HD-nya? Mungkin.

Layar 5.5 inchi Flash plus 2 dilengkapi dengan teknologi One Glass Solution (OGS) dan MiraVision 2.0. yang menurut laman resminya mampu membuat layar semakin jelas dan berwarna. Benarkah begitu? Rasanya tidak. Bandingannya adalah AMOLED milik Oneplus X yang saya pegang sehari-hari. Tampilan layar dari HP berdimensi 152.6×76.4×8.2mm itu tidak begitu menawan. Juga kurang terang. Oneplus X yang saya set kecerahannya di tengah-tengah, masih bisa mengalahkan kecerahan full dari Flash Plus 2 itu.

Untung ada Mira Vision. Itu adalah software untuk mengatur segala hal yang berkaitan dengan tampilan.

Setelah layar, saya beralih ke telepon. Iya telepon: kualitas dari suara yang akan saya dengar bila ada yang menelpon, juga suara saya di ujung penelpon. Rasanya? Suara orang yang ditelpon jernih, tidak terdengar gangguan karena memang ada dua mic dengan peredam kebisingan yang ditanam. Cuma, saya merasakan keluaran suara dari orang yang menelpon itu terasa kurang keras. Saya naikkan volume hingga paling keras, masih juga terasa kurang keras. Rasanya ini akan menganggu saat berada di kondisi yang sangat bising. Tapi, orang yang saya telepon tidak terganggu denga keluaran suara saya, jelas katanya.

Ini memang subjektif. Dan tidak ilmiah, banyak variable lain yang memungkinkan hasil, seperti handset orang yang menelepon. Saya kemudian memintanya menelpon dari telepon kabel. Hasilnya? Lebih jelas dan keras dari saat menggunakan telepon genggam.

Kemudian sisi Audio: Speaker dan earphone. Tidak ada earphone di dalam kotak smartphone yang dilengkapi DAC yang sama dengan duet Vivo V3 dan V3 Max ini. Keluaran suara dari speaker yang terletak di bagian belakang (bukan sisi bawah atau depan) rasanya kuat dan jernih. Saya belum mencobanya dengan berbagai variasi suara dan tingkat volume penuh sih, tapi, ya rasanya jika sekadar untuk menerima telepon saja sih kita tidak akan melewatkannya. Kita pasti bisa mendengarnya meski kondisi bising.

alcatel flash plus 2 indonesia-06

Sisi lain dari audio adalah ini : DAC khusus AKM4375 Chipset+NXP9890 Audio Amplifier. Saya terkaget-kaget membaca spesifikasi ini. Vivo saja menjual V3 yang memiliki DAC sama ini seharga 3.5 juta. Memang sih spek saja tidak bisa menentukan keluaran suara tetap baik atau tidak. Aplikasi (atau teknik pemasangannya) juga penting. Saya kemudian memasang earphone milik samsung, entah tipe apa, dan saya mendengarkan musik, rasanya: mantap! Bass, mid, dan treble nya tidak saling mengalahkan. Perlu lebih intensif untuk mengujinya memang (berganti jenis musik dan tipe file, berganti tipe earphone, juga menggunakan alat khusus tentunya). Tapi, untuk sekadar mendengarkan musik dengan format kompresan seperti mp3 akan membuatnya lebih enak didengar.

Jika audio bukan merupakan kelemahan dari handphone yang disupervsi oleh TCL ini, lalu bagaimana dengan sektor visualnya? Alias kamera. Di atas kertas, spesifikasinya sangat menjanjikan: 13MP lensa f/2.0 belakang dengan dual tone led flash dan depan 5MP f/2.4 dengan single led flash.

Kenyataannya?

Alcatel Flash Plus 2 Hasil Foto (1)
Hasil jepretan kamera belakang Alcatel Flash Plus 2, dalam ruangan. ISO 243, f/2.2, 1/35.

 

Alcatel Flash Plus 2 Hasil Foto (4)
Masih kamera belakang. ISO 198, f/2.2, 1/35.

 

Kamera depan. ISO 250, f/2.2, 1/25.
Kamera depan. ISO 250, f/2.2, 1/25.

Dari bacaan informasi pada gambar, saya menemukan hal ini: Ternyata nilai f (aperture) pada kamera belakang dan depan tidak sesuai dengan yang tertera pada spesifikasi. Nilai f yang terbaca adalah f/2.2, dua-duanya begitu. Padahal di spek mengatakan kamera belakang memiliki f/2.0 (lebih besar dari f/2.2), dan depan f/2.4 (lebih kecil dari f/2.2).

Biasanya pembacaan Adobe Ligtroom akurat. Saya juga menggunakan perangkat bawaan dari microsoft yaitu foto, hasilnya juga menunjukkan hal yang sama. Hmmm…

Temuan lainnya, nilai ISO terendah yang dapat dihasilkan oleh kamera itu dikisaran 200, tidak seperti kebanyakan lainnya 100. Artinya? Tingkat kejernihan harusnya lebih rendah dari kamera dengan ISO dasar 100. Juga shutter speed yang berada di kisaran 1/25-1/35, ini standar pada kamera handphone sih… tapi karena tidak ada pilihan untuk mengatur shutter speed, saran saya, ketika akan melakukan foto, pastikan tangan tidak banyak bergerak. Agar gambar yang dihasilkan tidak menjadi buram.

Menu yang terdapat pada kamera Flash Plus 2

Bagaimana dengan baterainya? Baterai yang ditanam pada ponsel ini sebesar 3000mAh. Iya tanam. Baterainya tidak bisa dilepas. Meski penutup belakangnya bisa. Sangat disayangkan … Saya belum mengetahui seberapa lama baterai itu dapat bertahan, tapi saya dapat bilang: Fitur fast charging benar-benar bekerja. Meski dengan charger Oneplus X yang memiliki keluaran daya 10W saja. Dalam setengah jam baterai yang tadinya dikisaran 20% dapat terisi hingga 85%. Sungguh sangat membantu. Panasnya juga normal.

Apakah ada keluaran panas berlebih? Selama menggunakannya untuk berselancar dengan chrome, tidak ada terasa ada panas berlebih yang keluar. Untuk games? Belum coba kang.

***

Bila dirangkum, maka ini kelebihan, kekurangan, serta berbagai temuan yang saya alami ketika menggunakan Alcatel Flash Plus 2 ini:

  • Tidak ada nama Alcatel di kotak, maupun pada handset. Seperti yang dikatakan oleh Albert Wong, General Manager of Flash 3C Limited, Flash Plus 2 ini sudah terlepas dari branding Alcatel. Tapi tetap dalam satu holding TCL.
  • Ada notifikasi LED pada handset. Tombol kapasitif pada sisi bawah juga memiliki led.
  • Penutup belakang bisa dibuka untuk mengakses dual sim card (Micro dan Nano) dan micro sd. Sayangnya baterai tidak dapat dilepas.
  • Layarnya tidak secerah dan sejelas Oneplus X.
  • Kamera bukan kekuatan dari Flash Plus 2 ini. Juga ternyata nilai f nya berbeda dari spesifikasi.
  • Fingerprint belum saya coba, tapi beberapa ulasan memberinya nilai positif.
  • Keluaran suara pada telepon (earpiece) relatif kecil, namun jernih. Audio tergolong baik.
  • Desainnya biasa saja, bila layar depan menganut tren 2.5D mungkin akan lebih menarik.
  • Kualitas pengerjaannya baik.
  • Bisa USB On The Go (OTG).
  • Jaringan 4G nya seperti ini: TDD: B38/B40/B41; FDD: B1/B3/B5/B7. Harusnya bisa semua operator. Saya baru mencoba dengan Telkomsel (dan bekerja dengan baik).
  • Butuh waktu lumayan lama bagi Wi-Fi untuk mendapatkan jaringan yang sama banyaknya dengan handset lain. (Efek baru pertama dicoba, mungkin).
  • Minim gesture. Hanya ada ketuk dua kali untuk menyalakan dan memadamkan layar.
  • Sisa memori internal saat pertama kali pakai 1.14 GB dari 16 GB yang ada.
  • Sisa RAM saat pertama kali pakai 632 MB dari 2 GB yang ada.
  • Minim bloatware. Hanya ada 2-3 aplikasi yang menjadi bawaan, selebihnya dari Google.

Untuk siapa Flash Plus 2 ini? Lagi-lagi menurut Om Albert, hp ini untuk mereka yang senang dengan berbagi dan mengutamakan kualitas. Menurut saya? Buat siapa saja yang suka dengan layar besar, performa dapat diandalkan dan mereka yang tidak ingin merogoh kocek dalam-dalam.

Bila tidak suka dengan besar layarnya? Bisa melirik Lenovo Vibe K5 yang dijual dengan harga sama, spesifikasi juga mirip. Memang ada penurunan di chipset dan kerapatan layar, tapi nama Lenovo tentu tidak lagi asing di pasar teknologi Indonesia. Yang (seharusnya), memiliki jaringan purna jual lebih baik dari para pendatang baru.

***

***

Salam,

diki septerian

 

4 thoughts on “Review Singkat Alcatel Flash Plus 2

  1. Nice review kang..

    Mungkin boleh sy tambah sedikit kekurangannya, mengingat kelebihannya sudah cukup dijabarkan agan diatas..

    – Tidak adanya buku panduan, sehingga menyulitkan saya yang awam dengan bahasa” istilah di android.
    – Saat main game handphone cepat panas, terutama game dengan spec agak lumayan (shop heroes, etc.)
    – Saat terima SMS tidak ada notifikasi seperti bintang merah dll, jadi seringkali tidak tahu ada sms masuk
    > hal ini saya dengar sudah diperbaiki dengan tambahan installer atau sesuatu, tapi belum sy coba.

    So far, overall sihh oke, dapat hape ini dengan harga murah di kocek.. 😀

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.