Rute Alternatif Menuju Jakarta

rute depok jakarta
Depok Jakarta via Tol

 

BERANGKAT (dan pulang) di saat rush hour, pahitnya bukan main. Jarak 30 kiloan meter bisa-bisa ditempuh selama 1,5 – 3 jam. Macet ampun-ampun. Untungnya di depok ada alternatif kereta. Bahkan, stasiun kemayoran-pun ada. Tinggal naik, menunggu menunggu menunggu, terus turun. Sampe, nggak pake macet.

Enak toh? Teorinya begitu …

***

Saya sudah jarang naik kereta lagi ke kantor. Alasan utamanya: Ribet sholat maghribnya. Menunggu maghrib, terlalu lama sampai rumahnya. Sholat di Stasiun Depok, mepet waktunya. Sholat di stasiun transit, penuh, dan nggak bisa lama-lama.

Jadi … hampir satu tahun ini saya kembali ke jalanan. Bukan pilihan terbaik juga. Saya masih yakin pilihan terbaiknya itu dua: deketin rumah, atau deketin kantor. Deketin rumah ya, pindahan. Deketing kantor, ya … cari kantor baru, atau buat kantor sendiri.

Kalau belum bisa? Ya … nasib. Hehe. Saya ikut merasakan perasaan ayah-ayah yang berangkat pagi, pulang pagi, (eh…). Menembus kemacetan, melewati rute yang sama, setiap hari. Untuk itu, artikel ini saya buat. Barangkali, ada yang terinspirasi. Dan barangkali juga, ada yang mau berbagi jalan “gacoan” yang selama ini dilalui …

***

Kita mulai ya … start dari Sentosa Raya Depok. Terus ke Juanda, terus ke Margonda, Fly over UI. Terus ke Lenteng Agung. Terus ke Universitas Pancasila. Eh .. tunggu dulu. Jangan terus, macet bisa panjang di sini. Kalau terasa tanda-tanda macet panjang, ambil kiri. Ke arah Srengseng Sawah. Tapi jangan sampai mentok. Belok kanan di komplek Yonzikon. Terus aja… ke Jalan Mangga sampai mentok. Belok kiri sedikit, terus belok kanan ke Jalan Suwarso. Ini gang lebih tepatnya. Setelah itu belok ke jembatan, dan masuk ke perumahan (atau asrama ya) Yonzikon tadi itu. Keluar-keluar di Mohammad Kadafi II. Jalan terus, tembus pas di pertigaan Stasiun Lenteng Agung.

Pilih jalan kiri di jalan kembar lenteng agung.
Pilih jalan kiri di jalan kembar lenteng agung. Klik untuk memperbesar.

 

Belok kiri, terus masuk gang pertama ke kanan, Jl. Suwarso kalau nggak salah namanya. Di peta nggak ada .. hihi. Klik untuk memperbesar.
Belok kiri, terus masuk gang pertama ke kanan, Jl. Suwarso kalau nggak salah namanya. Di peta nggak ada .. hihi. Klik untuk memperbesar.

Berikutnya … Tanjung Barat. Ini yang nggak ada alternatifnya. Kadang lancar banget. Kadang mulai dari ujung jalan kembar sudah macet sampai fly over Tb. Simatupang. Di sini pilihannya: Sabar.

Terus, lepas dari perempatan Tb. Simatupang, sampai di Pasar Minggu. Lancar. Geber sampai 80 km/jam juga kadang bisa. Eh.. sampai di underpass mulai macet. Ujungnya di lampu merah. Nah … di sini kalau ternyata jalan di depan macet parah, belok saja ke kiri. Masuk ke Jalan Pejaten Raya. Ikutin terus, sampai perempatan, belok kanan. Terus lagi, ada gang Jl. Siaga 2C, belok situ dah. Ikutin sampai mentok, belok kiri, terus kanan. Lurus aja… Sampai keluar di jalan H. Samali. Nah.. sampai situ balik lagi deh ke Jl. Pasar Minggu Raya.

Kalau di depan macet, bisa belok kiri ke pejaten raya, atau maju lagi, belok di siaga 2.
Kalau di depan macet, bisa belok kiri ke pejaten raya, atau maju lagi, belok di siaga 2. 

 

Ikutin jalan komplek, banyak juga motor yang lewat sini, jangan khawatir tersesat. he..
Ikutin jalan komplek, banyak juga motor yang lewat sini, jangan khawatir tersesat. he..

 

Sampai di Pasar Minggu Raya. Lihat agak jauh ke depan. Kalau macet parah, belok kanan ke arah Kalibata Timur. Kalau enggak ya terus sampai lampu merah. Terus belok ke arah Taman Makam Pahlawan. Jalan menuju Pancoran itu parah banget macetnya … Jalur ini yang membuat perbedaan besar. Mulai Lebay … hehe

Masuk ke Kalibata Timur. Terus ke Rawajati. Menyusur rel kereta.
Masuk ke Kalibata Timur. Terus ke Rawajati. Menyusur rel kereta. Putar arah. Belok ke arah Universitas Trilogi.

 

Putar arah. Masuk ke komplek pangadegan. Ini jalan triki, tapi ujungnya kita pengen ke pancoran timur 2.
Putar arah. Masuk ke komplek pangadegan. Ini jalan triki, tapi ujungnya kita pengen ke pancoran timur 2.

Selebihnya ikutin jalan. Sampai mentok di pertigaan Manggarai. Kiri ke Sudirman, kanan Tambak. Saya lebih suka lewat Tambak sekarang, karena jalurnya sudah dibuka dua-duanya. Dari lampu merah Tambak, belok kiri ke arah RSCM. Setelah itu, sampai di Salemba. Sudah deh.. ikutin jalan besar sampai ke Kemayoran.

Itu rute favorit saya. Sebelumnya saya sudah mencoba melewati Dewi Sartika dari Pasar Minggu. Tidak bertahan lama, karena lebih banyak kendaraan, tambah panas, tidak ada alternatif juga, karena jalan besar. Sebelumnya, saya juga pernah muter, lewat Juanda Depok, tembus Kelapa Dua, Condet, Dewi Sartika … ini juga tidak bertahan lama. Condet kalau anak sekolah masuk, gawat dah. Jalan kecil, macet panjang.

***

Jalan alternatif bukan berarti bebas macet. Macet juga, kalau mobil pada ikutan lewat. Jalan kecil di lewatin mobil dua arah, udah deh … Terus jalan alternatif sahabat deketnya polisi yang lagi tidur. Jadi, jalan nggak bisa kenceng-kenceng. Jalur itu juga nggak selamanya saya pakai, lihat-lihat kondisi di depan.

Dari sana juga masih bisa diekstrak lagi sebenarnya.. jalur alternatifnya jalan alternatif. haha … takut malah bikin nyasar nantinya.

Bagaimana menurut akang-akang sekalian? Punya jalur gacoan? Bagi-bagi dong kang …

 

salam,

diki septerian

 

 

 

0 thoughts on “Rute Alternatif Menuju Jakarta

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.