Saat-saat Pergantian Kulit

sebelum diganti
sebelum diganti

EDA mulai bekerja saat langit beranjak jingga. Berangkat dari Depok, menembus padatnya lalu lintas pagi, hingga sampai di Kemayoran. Dia harus sampai sebelum anak bayi yang dijemur merasa kepanasan. Bila tidak, empu-nya akan terlambat. Karena itu, dia selalu berusaha mencari jalan-jalan alternatif. “Lenteng Agung bisa dikalahkan, Pasar Minggu bisa dikalahkan, Pancoran juga. Hanya Tanjung Barat saja yang sulit”, ujarnya semangat. Pagi satu setengah jam, sore dua setengah jam. Lima hari dalam seminggu. Itu minimal. Kalau si empu minta diantar ke teman-teman bisnisnya, tambah lagi minimal 2 jam. Satu setengah tahun seperti itu. Akhirnya dia menyerah: Punggungnya minta dipijit, kulitnya minta diganti.

***

mr jok 1

Beruntung empunya Eda orang perhatian. Eda Kemudian dibawa ke Black Sweet, tempat ganti kulit yang berlokasi di pinggiran kali Utan Panjang. Sayang, Black Sweet tidak bisa memijit Eda, hanya bisa mengganti kulitnya. “Sebenarnya, saya mau bawa kamu ke Haji Jaja yang di Jagakarsa. Cuma kapan… Jaraknya lumayan jauh dari rumah, pulang kantor juga tidak akan sempat.” Keluh si empu sambil mengusap-ngusap punggung si Eda. Ia diam saja karena yakin si empu akan mencarikan tempat yang tepat.

Benar saja. Ketika berjalan menuju pulang, di lampu merah Jatinegara Eda dibelokkan ke arah Manggarai. Ternyata di jalan itu ada Mr. Jok. Posisinya dekat dengan Stasiun Manggarai, tepat di seberang Alfamart. Eda mendengar si empu bernegosiasi. “Kulit standar 45-65 ribu, sudah tambah busa”, kata orang yang menunggui tempat itu. Si empu memegang-megang kulit standar yang dimaksud, kemudian dia bertanya, “Kalau yang MBTECH ada?” “Ada, tapi lebih mahal, 85 ribu satunya. yang KW nya juga ada”. “Jangan yang standar, jangan yang standar…” Eda bergumam. “Kurangin ya”, si empu menawar. “hmmm… paling bisa jadi 80 ribu, jawab orang itu”. “OK deh”. Eda, kegirangan, harapannya terkabul.

***

mr jok 3

Eda adalah Suzuki Shooter. Motor yang menjadi andalan saya sehari-hari. Minggu lalu saya mengganti kulit joknya. Sebenarnya hanya ingin menambah busa, tapi karena tidak bisa, ya sekalian ganti kulit. Seperti biasa saya searching. Nama Haji Jaja Jok sering muncul. Katanya murah dan rapi pengerjaanya. Kemudian Black Sweet juga dikenal. Selebihnya sulit dicari. Mr. Jok, tempat yang akhirnya saya datangi, saya pilih karena lokasinya yang bisa saya lewati ketika pulang kantor. Kalau akang-akang sekalian mencari plang nama-nya pasti tidak akan ketemu. Sudah jatuh katanya.

Ini impresi saya menambah busa dan mengganti kulit di Mr. Jok : Penuh dedikasi, rapi (menggunakan mesin jahit), dan banyak pilihan. Mulai dari melepas kulit, memilah-milah busa, memotongnya, menempelnya, menghaluskannya, hingga menjahit kulit jok, sampai memasangkannya kembali. Semua dikerjakan dengan sangat profesional. Saya benar-benar menyukai hasilnya.

Ketika mengerjakan jok saya, ada anak-anak muda yang meminta untuk potong fiber, papas dan memasangkan kulit. Ditolak oleh Marta—pemilik dari Mr. Jok ini. Sudah terlalu sore katanya, tidak akan terkejar. Ramah sekali orangnya, meski sudah tidak lagi bisa dibilang muda ia sangat cekatan. Saya kaget ternyata Marta sendiri yang menjahit kulit jok itu.

mr jok 2

***

Eda lebih kekar dan berisi sekarang. Si empu yang perhatian, baik hati, dan penyayang itu pun ikut senang.

hasilnya
hasilnya

Sekian dulu. Semoga bermanfaat.

salam,

diki septerian

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.