Sehat Itu Murah

sehat itu murah ds-01

Catatan pengalaman Dr. Handrawan Nadesul selama lebih dari dua puluh tahun.

***

Dr. Handrawan Nadesul membuka tulisannya dengan sangat baik. Ia mengajak kita untuk melek gizi. Seperti:

  • Semakin enak suatu makanan, umumnya semakin tidak sehat. Begitu juga sebaliknya … Ubi rebus lebih sehat dibanding donat goreng. (Ubi kaya serat, obat pencahar alami).
  • Beras tumbuk lebih kaya vitamin B daripada beras putih yang disosoh. (Vitamin B tidak disimpan oleh tubuh, ia mempengaruhi saraf. Pegal linu, kesemutan? Mungkin hanya kurang asupan vitamin B).
  • Pilih terigu atau gandum?
  • Kalau bisa mentah, kenapa di masak. Daun mentah kaya akan zat hidup, sebaliknya masakan yang berlebihan dalam proses (over cooked) sebagian zat gizi dan mineralnya telah hilang.
  • Pilih gula merah atau pemanis buatan? Madu tentu lebih sehat dibanding gula pasir.
  • Mengapa pilih buah impor? Buah impor biasanya sudah lama dipanen, banyak bahan pengawet, dan harga biasanya lebih mahal.
  • Buah-buahan itu diblender, bukan dijus. Apalagi jus pakai tambahan gula, susu, dan lainnya.
  • Lebih sehat masakan di dapur daripada di restoran. Karena kita bisa memilih bahan yang masih segar, dan memasak tanpa perlu berlebihan.
  • Diet bukan disiplin mati. Pola makan sebaiknya mengikuti kodrat tubuh. Jangan salah pantang.
  • Perlu bantuan suplemen. Karena menu kita cenderung monodiet. Dosis kecukupan vitamin dan mineral tidak seperti dulu. Suplemen tidak menjadikan ketergantungan.
  • Buat sel tubuh tetap bugar. Makanan sel datang dari oksigen yang kita hirup dan makanan yang kita konsumsi. Bila keduanya optimal, maka sel akan tetap bugar.
  • Bukan sekadar cari keringat. Tapi zona aerobic harus tercapai. Jangan dulu membayangkan aerobic dengan musik-musik itu ya.
  • Jaga berat badan ideal. Kebanyakan tubuh memerlukan 2200 Kkal perhari. Sebagian dipakai untuk metabolisme, sebagian untuk aktifitas fisik dan berpikir. Bila kalori yang masuk berlebih, dan dibiarkan berbulan-bulan, maka itulah yang menjadikan gemuk.

sehat itu murah ds-02

***

Tulisan-tulisan di dalam buku Sehat Itu Murah memang menarik. Dr. Handrawan Nadesul sebisa mungkin menggunakan bahasa yang mudah dipahami oleh orang awam. Beberapa yang terus saya ingat adalah Jalan tergopoh-gopoh (brisk walking), dan obat hore.

Setelah diteliti lebih lanjut, Institut Cooper menemukan bahwa aerobic tidak perlu seberat dulu. Cukup dengan gerak badan yang sedang-sedang maka penyakit-penyakit degeneratif bisa batal muncul, dan dengan berjalan tergesa-gesa akan menghasilkan nilai aeorobic yang sama dengan lari, jogging atau latihan berat lainnya (latihan berat diperlukan untuk ketahanan).

Obat diminum bila perlu. Karena setiap obat memiliki efek samping. Keluhan-keluhan seperti demam, mual, mules, pusing, nyeri kepala lebih seringnya adalah asap dari sejumlah api penyakit. Obat-obat itu bisa diminum bisa tidak, hitung-hitung saja manfaat-resikonya. Obat simtomatik itu adalah obat hore. Tubuh berasa sembuh, padahal penyakit belum hilang. Pasangannya adalah obat kausatif, atau obat sebab. Obat inilah yang akan “mematikan” sumber sakit.

sehat itu murah ds-03

***

Buku Sehat Itu Murah disandingkan dengan dua buku lainnya: Jurus Sehat Tanpa Ongkos dan Resep Mudah Tetap Sehat. Bila dibuku pertama Dr. Handrawan Nadesul bercerita tentang hal-hal dasar seputar kesehatan tubuh, dibuku kedua ia menyederhanakan dengan artikel-artikel ringkas yang siap untuk dipraktekan sehari-hari. Nah, dibuku ketiga ia lebih mengkhususkan lagi dengan penyakit-penyakit yang sering terjadi (kanker, jantung, kencing manis, ginjal, sakit kepala, rematik, mag, insomnia, herpes, dan lain-lain) dilengkapi dengan penjelasan, siapa dan bagaimana cara mencegah dan mengobatinya.

sehat itu murah ds-05

Adakah kurangnya buku ini?

Bentuk buku sudah menarik. Tidak besar, tidak berat, jadi mudah dibawa kemana-mana. Isinya tentu sangat bermanfaat dan bergizi. Penulisnya juga seorang ahli yang tidak hanya memiliki ilmu tapi sudah mempraktikkannya sehari-hari. Bahasa Mata Najwa-nya: ilmu yang ditempa pengalaman.

Bila ada kurangnya, maka penulisan yang kadang berulang menjadi cela-nya.

Ah, tapi buku dengan genre seperti ini kan memang harus begitu. Biar menancap diingatan dan langsung dijadikan kebiasaan sehari-hari.

Terima kasih Dr. Handrawan Nadesul.

sehat itu murah ds-04

___________

*saya bukan ahli kesehatan, sekadar senang membaca apa saja. Tulisan ini juga sebagai pemicu supaya kita-kita ini lebih banyak membaca buku daripada stalking status mantan. Eh.

 

Salam,

Diki septerian

2 thoughts on “Sehat Itu Murah

  1. berapa rupiah kang 3 buku tsb? dijual bebas toko buku online dan offile? makasih resensinya :), markihihat (mari kita hidup sehat, maksa haha….)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.