Sehat Lahir Bathin

SAYA tidak tahu apa pengantar yang di sampaikan ustad pada kultum yang heboh itu. Karena saat itu, saya lebih siap tidur ketimbang mendengarkanya. Kata-kata yang membuat saya akhirnya pantengin ustad itu adalah: “Rohani Barat tidak sama dengan Rohani Islam. Psikolog Barat pasti masih bisa stress”.

Ingatan saya langsung tertuju ke Ibu di rumah. Setiap hari saya berdoa agar mamah—panggilan saya ke ibu, dapat sembuh total. Tidak perlu tiap bulan ke psikiater. Tidak perlu setiap hari meminum obat. Inikah salahnya? Sisi ini kah yang tidak tersentuh? Saya lalu bergerak, mendekati balkon agar dapat menyimak ustad itu dengan lebih serius.

Jiwa, Fisik, dan Ruh

“Perempuan lebih sering terkena kanker”, ustad itu melanjutkan. “Karena perempuan paling tidak bisa mengendalikan pikirannya. Perempuan paling jago mengingat-ingat kesalahan. Tahun kemarin suami salah 1 kali, tahun sebelumnya salah 2 kali, tahun sebelumnya salah 3 kali. Istri akan mengingatnya”. Perkataan ustad itu senada dengan buku yang pernah saya baca, perempuan itu seperti gelombang. Emosinya mudah sekali naik dan turun. Kadang bahagia sekali, lain waktu depresi mendalam. Dan cepat perubahannya. Lagi-lagi ingatan saya ke ibu di rumah … waduh, jangan sampai mamah terkena kanker!

“Tubuh kita terdiri dari tiga: Jiwa, Fisik, dan Ruh. Apa bedanya jiwa dengan ruh? Jiwa itu nyawa, ruh itu pemimpinnya, motornya, energinya. Jiwa bisa mati, ruh tidak. Ruh itu pulang. Psikolog barat pembahasannya hanya sebatas Jiwa, tidak sampai ruh. Inilah yang memungkinkan seorang psikolog barat masih bisa stress. Masih menyisakan masalah.”

Kepala, leher, pundak, lambung

“Saya terkesan dengan cara panitia tadi. Mengajak pijat-pijatan setelah sholat. Orang sakit itu bisa di rasakan dari pundaknya. Mohon maaf ya, adakah tadi yang ketika memijat merasakan pundak yang keras? Kalau ada, itu tanda orang yang dipijat itu sedang banyak pikiran. Pikiran itu bisa mempengaruhi kepala, leher, pundak, hingga akhirnya ke lambung. Makanya kalau sakit tidak cukup diberi obat saja. Tapi harus sabar. Setelah sabar, barulah naik ke tingkat selanjutnya, syukur. Barulah orang itu bisa tenang. Orang yang tenang itu hatinya lapang. Seperti lautan. Apapun yang masuk tetap tidak berubah.

Karena itu, Rasulullah ditenangkan Allah, “Bukankah kami telah melapangkan dadamu, dan kami pun telah menurunkan bebanmu darimu, yang memberatkan pundakmu,” Rasulullah itu hatinya lapang sekali. Dicaci, dihina, diapa-apakan tidak apa-apa. Makanya Rasulullah tidak pernah sakit—kecuali menjelang wafatnya.

Puasa yang benar itu menenangkan dan menyembuhkan. Syaratnya harus bisa: 1) Mengendalikan pembicaraan (lisan) seperti yang dicontohkan oleh Siti Maryam, 2) Menenangkan pikiran, dan 3) membahagiakan hati. Sholat juga begitu, asalkan benar dan tu’maninah. Makanya saya senang, rukuk saya tadi bisa saya selesaikan dengan sempurna. Jarang sekali saya bisa seperti ini di sholat jamaah yang lain.

Sesi lanjutan: Tanya Jawab

Setelah ustadnya memberi salam tanda mengakhiri kultum, saya bergegas turun. Ternyata orang-orang telah lebih dahulu mendekat, mengerubungi ustad itu. 0823xxx … tanpa saya minta sang ustad sudah lebih dulu membeikan nomor kontaknya. (yee … GR, orang lain yang tanya juga). Setelah itu orang-orang bertanya ini itu. Berikut yang bisa saya catat:

T    : Apakah Ruh sama dengan Qolbu?

J    : Berbeda. Saya ibaratkan begini. Masjid yang yang luas ini adalah Ruh. Sedangkan pintunya adalah Qolbu. Ruh itu luas tidak terbatas. Ruh dan qolbu tidak terpisah.

T    : Apa beda ruh dengan jiwa?

J     : Ingat proses penciptaan manusia. Manusia mulai ditiupkan ruh pada umur berapa? Ada yang berpendapat saat hari ke 120. Ada yang berpendapat saat hari ke 40. Nah, katakanlah hari ke 40 ditiupkan ruh. Selama hari pertama sampai hari ke tiga puluh sembilan apakah dia mati? Tidak. Itulah jiwa. Ruh adalah pemimpinnya, motor, energinya. Dia yang menggerakkan jiwa.

T    : Di surat Al fajr disebutkan… wahai jiwa-jiwa yang tenang kembalilah …

J     : Jiwa kalau dekat ke badan (fisik) jadinya Lawwamah. Kalau dekatnya ke Ruh, jadinya muthmainnah.

T    : Bagaimana dengan binatang, apakah memiliki ruh?

J     : Tidak. Binatang hanya jiwa dan fisik saja. Itulah mengapa binatang tidak dihisab. Tidak bertanggung jawab atas apa-apa.

T    : Bagaimana dengan perjanjian Ruh dengan Allah seperti di surat Al-A’raf, Alastu birobbikum …? mengapa sekarang kita tidak mengingat apa-apa.

J     : Ketika ruh dimasukkan, ia dilemahkan terlebih dahulu. Makanya supaya kembali naik, kita diperintahkan untuk sholat. Sholat itu mi’raj nya orang mukmin.

T    : Bagaimana dengan orang yang mimpi bertemu dengan Rasulullah?

J    : Itu adalah pertemuan antar ruh. Karena di alam ruh tidak terbatas ruang dan waktu.

T    : Saat tidur, bukankah Allah menahan jiwa kita? Tapi kita tidak mati?

J     : Nah itu adalah Nafs. Nafs itu terbagi tiga: Jiwa, diri keseluruhan, dan ruh. Ruh inilah yang ditahan oleh Allah. Karena itu, saat kita tidur kita tidak dikenai tanggung jawab.

T    : Orang yang gila?

J     : Ah itu ada yang korslet ruhnya. Makanya dia juga tidak dikenai tanggung jawab.

T    : Orang yang kemasukan jin?

J     : Itu ruhnya lemah.

T    : Ruqyah?

J     : Itu dari luar. Yang bagus itu dari dalam. Mengaktifkan ruh itu tidak bisa pakai mulut, tapi pakai qolbu.

T    : Jadi qolbu itu pengertiannya apa?

J     : Qolbu itu ada dua pengertian, bathin dan fisik. Bathin berarti benda yang halus, lembut. Fisik berarti jantung. Makanya semakin orang baik hubungannya dengan Allah, jantungnya juga semakin baik.

T    : Ada orang yang di warisi jin. Kadang mengganggu, bahkan ketika sholat pun begitu. Bagaimana mengatasinya?

J     : Bisa. Dengan dialog. Bukan di lawan. Kalau di lawan itu cara-cara preman, dialog itu tingkat tinggi. Seperti yang dicontohkan nabi. Saat ruh diaktifkan, pasti jin itu terusik. “hei, ngapain kamu ganggu-ganggu cucu saya”, nah di saat itulah kita ajak dialog. Minta keluar baik-baik.

 

Rukuk yang rata?

Ustad itu sering mengadakan training. Jadi beberapa jamaah mendesak ustadnya untuk menjadwalkan training. Dan sebagai pembuka memberikan gambaran. Karena itu ustadnya memulai dengan rukuk.

“Setiap yang saya training, rukuknya hampir semua salah. Rukuk yang benar itu seperti Rasululullah, jika air ditaruh di atas punggung ia tidak akan jatuh. Itu artinya apa?” “Rata”, serempak jamaah menjawab. “Bukan, kalau rata pasti jatuh. Jadi, rukuk yang benar itu ada cekungan sedikit, tidak rata.” Ustad itu lalu meminta salah seorang mempraktekkan rukuk. Menunjukkan cekungan itu seharusnya ada dimana.

“Rukuk yang benar, bahkan bila di belakang tembok, katakanlah hanya berjarak 3 jari, pasti kita tidak akan mentok. Seorang peserta saya di singapur bilang, “Bahkan rukuk ini lebih berat daripada apa yang diajarkan personal gym trainer saya”. Ustad itu lalu mencontohkanya. Saya lihat dengan seksama. Memang benar pantat—maaf, tidak kebelakang, tetapi punggung yang turun. Saya pun iseng mencoba… luar biasa susah!

Takbir

Begitu juga dengan berdiri saat sholat. Tegak. Sikap itu lah yang kita bawa selama rukuk, i’tidal, sujud, serta duduk. Sekarang Takbiratul ihram. Takbir itu sejajar dengan telinga. Tarik tangan sampai sejajar telinga, bukan di depan. “Oh iya-ya, berbeda sekali rasanya”, salah seorang jamaah terkesan setelah mencoba.

Aksi berikutnya

Dahaga jamaah tidak terobati. Terus saja ingin minum dari ustad itu. Hingga akhirnya diputuskan untuk training sholat. “Sebut saja ustad berapa biayanya, kan profesional”. Sang ustad tersenyum. Saya tersenyum kecut, lalu meluncurlah kata, “Jangan, lebih baik beritahu salah seorang, atau panitia, nanti baru kita diberi tahu”. Ustad itu mengiyakan. Dia akan bilang ke salah seorang jamaah, berapa biaya yang harus dikeluaran untuk training.

Karena sudah hampir jam 8, ustad itu pamitan. Masih saja ada yang megejar. Ustad itu ditemani salah seorang jamaah. Mereka lalu membicarakan training lebih lanjut. Setelah ustad itu pamitan, orang tadi mengumpulkan kita. Membicarakan teknis training.

Training ada 3 sesi. 1 sesi efektif delapan jam, dengan peserta maksimal 50 orang. Tapi, diputuskan untuk 2 sesi saja. Dimulai hari Senin dan Selasa besok. Ya, besok (13-14 juli 2015), jamaah sudah ngebet banget rupanya. Biaya nya sekian sekian dan sekian.

Eh.. dari tadi elu nggak sopan banget. Nyebut ustad itu ustadnya, emang dia nggak punya nama?

Ah.. haha iya… nama ustad itu akhirnya saya ingat juga: Muhammad Iqbal Irham.

Saya sangat tertarik untuk ikut training nya, cuma senin-selasa masih kerja. Huuhh… tapi, mungkin bisa juga. Lihat saja nanti. Saat itu fokus saya ke rumah: Mamah apa kabarmu? Saya pun bergegas pulang. Mungkin inilah jalan kesembuhannya …

Segitu dulu kang.. mohon maaf bila terlalu panjang (bahkan sebenarnya lebih dari ini loh). Bila ada yang menginginkan nomor kontak ustad Iqbal itu, bisa email ke saya ya. Semoga bermanfaat.

Salam,

diki septerian

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.