Siami dan Risma … Resonansi Zaim Uchrowi, Juni 2011.

Nama Tririsma Harini, begitu santer terdengar hari-hari ini. Saya jadi teringat, tulisan dari Zaim Uchrowi 3 tahun lalu. Tentang kasus bocoran UN yang menghebohkan itu. Ibu Risma sudah disebut-sebut di sana. 3 tahun yang lalu kangmas …. sampai sekarang masih tetap terjaga integritasnya. Semoga Allah senantisasa menjagamu. Buat yang mau nostalgia, resonansi ini bisa jadi teman yang menarik …

******

Siami dan Risma

Oleh Zaim Uchrowi

Nurani tak dapat ditekuk begitu saja. Setidaknya itu yang dapat dipelajari dari Surabaya hari-hari ini. Dari Siami, seorang ibu rumah tangga, misalnya. Juga dari Tri Rismaharini, wali kota yang luar biasa. Mereka hanya bertumpu pada nurani dan akal sehat. Mereka sempat jadi bulan-bulanan. Namun, mereka menang.

Sosok Siami sudah banyak diangkat media. Begitu pula anaknya, Aam (13). Dia disebut telah ditekan guru untuk memberi ‘contekan massal’ saat Ujian Nasional yang lalu. Tekanan itu sulit dielakkan Aam. Merasa terusik batinnya, ia mengadu pada ibunya, Siami. Sedangkan, Siami tak dapat pula berdiam diri atas kejadian tak benar itu. Maka, meledaklah kasus itu.

Hasilnya semua tahu. Warga menghujat Siami. Ia harus diselamatkan polisi dari emosi para tertangganya saat pertemuan warga di Balai RW, di Tandes, Surabaya. Ia dan keluarganya juga harus terusir untuk sementara dari rumahnya. Ia tak menyangka akan bernasib begitu. Tapi, ia merasa lega. Dukungan demi dukungan juga terus mengalir untuknya. Ia dipandang pantas menjadi ‘pahlawan kejujuran’.

Dukungan yang sangat berharga datang dari Wali Kota Surabaya. Risma terjun langsung menangani soal itu. Dengan pendekatan keibuan yang lembut dan lugas, ia dapat meyakinkan masyarakat setempat  bahwa ‘contek massal’ itu memang keliru. Tak boleh ditutup-tutupi apa pun akibatnya. Risma menunjukkan bahwa Siami benar dan harus didukung. Maka itu, Risma pun meminta Siami untuk pulang kembali ke rumahnya. Ia menjamin tak akan ada tekanan lagi dari para tetangganya.

Risma dapat memahami suasana batin Siami. Ia pernah berada pada posisi semacam Siami dalam urusan yang lebih besar. Koalisi ‘politikus hitam’ menghantamnya bertubi-tubi hanya untuk urusan reklame dan rencana jalan tol. Risma tak mau mengakomodasi kepentingan para politikus yang menguasai lembaga terhormat, Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD). DPRD Surabaya pun mendongkelnya sebagai wali kota.

Tapi, nurani akhirnya menang. Pencopotannya sebagai wali kota dianulir kembali. Risma dapat melanjutkan tugas yang diamanahkan padanya. Ia mampu memimpin Surabaya secara efektif. Terbukti, antara lain, kota itu merebut penghargaan Adipura. Padahal,  kriteria penilaian Adipura kini semakin ketat. Metropolitan Jakarta yang berlimpah uang pun malah gagal meraih Adipura.

Kotornya Jakarta bukan semata-mata karena fisiknya. Lebih dari itu, karena kotornya moral penduduk. Pusat Republik ini masih dikuasai para ‘politikus hitam’ meskipun  ‘berbaju putih’.  Kasus Nazaruddin, isu calo anggaran di DPR, hingga perkara suap hakim kunci menjadi gambaran nyata bahwa negeri ini betul-betul dalam genggaman orang-orang bejat yang tampak baik. Itu yang menjelaskan mengapa ‘berkah’  belum kunjung menyiram tanah pertiwi ini.

Siami dan Risma membawa secercah harapan. Negeri ini bukan cuma Jakarta dan beberapa daerah lain yang kotor. Ada juga Surabaya dan daerah-daerah lain, tempat nurani masih dapat tumbuh dan berkembang. Kasus kejujuran Siami memberikan pelajaran berharga pada semua. Apalagi, bila Siami mau pulang ke rumahnya lagi seperti  ajakan Risma.

Indah betul bila Siami dapat berdamai dengan mereka yang telah menghujatnya. Ada yang memaafkan, ada yang secara tulus mengakui kesalahan. Lalu, sama-sama bergandeng tangan menyongsong hari esok yang lebih baik dengan saling mengingatkan soal kebenaran. Momen tersebut akan memberi  pelajaran berharga bagi semua. Bukan saja untuk mengingatkan para penjagal kejujuran, melainkan untuk menyemaikan benih-benih nurani bangsa ini agar dapat tumbuh lebih subur lagi.

2 thoughts on “Siami dan Risma … Resonansi Zaim Uchrowi, Juni 2011.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.