Memikirkan Asrama

Kemarin ade lorong mengirim pesan ke saya, “main ke asrama lagi dong kak, sebentar lagi kita di usir nih !?” Saya cuma bisa kaget dan tentu tidak bisa menjanjikan kapan ke asrama lagi. Jujur saja, akhir-akhir ini pikiran sedang tidak berada di sana (asrama). Tapi, setelah mendapat pesan tersebut, mau tidak mau dipikirkan juga.

keroyokan

Ketika masa PDSR dulu ada kejadian yang sampai sekarang masih terngiang jelas di kepala. Bagi kami waktu itu  adalah masa pelatihan, tapi bagi penghuni (angkatan 44) waktu itu merupakan masa akhir tinggal di asrama. Masa akhir di asrama tidak selalu menyenangkan. Bukan saja karena harus berpisah dengan teman-teman tetapi juga karena urusan administrasi. Nah, ketika itu beberapa SR diprotes, bahkan sampai-sampai ada yang berani mengeroyok SR nya.

Mengeroyok? Iya, mereka berbondong-bondong datang ke sekret SR mengeluhkan sanksi yang menurut mereka tidak adil, tidak transparan, bahkan sampai bawa-bawa urusan agama. “katanya IPB ini Islami, tapi kok nggak transparan dan cenderung riba sih !”, begitulah salah satu keluhan mereka ke SR yang notabene nya SR lorong mereka sendiri. Saya yang melihat kejadian tersebut tentu bingung sekaligus takut, “bagaimana kalo saya yang jadi SR nya ya ???” Karena menurut saya, SR yang mereka protes itu bukan tipikal SR yang rese (baca: banyak mengatur). Bahkan sangat baik. Saya juga yakin beliau tidak pernah “macam-macam” ke adek-adek lorong nya. Tapi mengapa bisa sampai begitu ya, pikir saya dalam hati.

tidak cukup baik

Hal tersebut ternyata terjadi juga pada saya. Bahkan sebelum masa akhir kepenghunian. Yang mengeluh memang tidak banyak, hanya tiga orang, tetapi tiga orang ini cukup membuat saya merasa bersalah sekali kepada Kepala Asrama. Karena waktu itu saya tidak dapat membendung mereka yang langsung menyampaikan keluhan ke beliau dengan cara yang sangat kasar (tapi, untungnya di sana ada mas Habib yang bisa meredam sekaligus mengarahkan mereka ^^).

Saya pernah cukup bangga dengan komentar, “kakak itu SR yang baik, nggak kayak SR yang itu rese”. Namun, setelah kejadian tersebut saya pun semakin menyadari bahwa menjadi SR itu tidak cukup hanya baik, tetapi juga harus memiliki kontrol atas ade-ade lorong. Tidak cukup sekedar baik, tetapi juga harus kuat.

menyiapkan ruang kecewa

Bahasan pokok pada majalah tarbawi tersebut memang mudah untuk di sampaikan, namun sulit untuk di terapkan. Apalagi bagi saya yang memang cenderung tidak suka dengan penolakan. Suka nya yang lurus-lurus saja. Cenderung menghindari konflik. Dan selalu mencoba memperbaiki secara diam-diam. Padahal saya juga tahu, menjadi SR adalah bukan tentang bagaimana membuat semua senang dengan kita, tetapi lebih merupakan tentang bagaimana kita melebarkan lingkaran kesolehan pibadi kita. Seharusnya memang ketika memutuskan menjadi SR saya menyiapkan ruang di hati untuk kecewa, agar tidak kehilangan arah saat menjalani tugas sebagai SR.

Loh, katanya memikirkan asrama, tapi kok malah curhat masa lalu?

Ah, iya maafkan… sebenarnya kepikiran SR baru, panitia yang menyiapkan SR baru, juga SR-SR yang dulu saya PDSR-in. Bagaimana kelanjutan cerita mereka ya?

(Tapi lagi-lagi baru sampai tingkat dipikirkan… ^^)