Teguran Mantan Menteri

 

JALANAN mulai sepi. Menuju Bank Indonesia pun lebih nyaman. Mungkin karena lebaran hanya berjarak 2 hari lagi. Malam ke-29. Malam ganjil terakhir. Masihkah banyak yang akan beri’tikaf di masjid nanti? Melihat dari kondisi jalan yang saya lalui, nampaknya tidak.

Betul dugaan saya. Plaza masjid BI agak lengang. Orang-orang seperti biasa sudah ditemani nasi kotak. Saya melihat beberapa orang berbalik dari arah depan, membawa tentengan. Di depan sanakah letak kebahagiaan itu? Mulai deh, lebay …

Alhamdulillah. Masih ada beberapa tumpuk nasi kotak. Saya kebagian juga, akhirnya. Tidak tidak langsung saya buka. Meski sangat penasaran, saya simpan untuk nanti. Kali ini tukang bakpao yang lebih kuat doanya. Saya berbuka dengan air putih, ditambah kurma, dan bakpao itu.

Teguran itu

Saya sangat menyenangi bacaan imam sholat maghrib dan isya kali ini. Sebenarnya sudah beberapa kali juga. Tapi, sepertinya ini yang benar-benar meluluhkan hati. Belakangan saya tahu sang imam bernama Amami. Salah seorang imam di Masjid BI ini.

Sholat Isya selesai. Dilanjut ke Kultum. Kultum di malam pamungkas ini (mungkin) akan dibawakan oleh Ust. Adhyaksa Dault. Mantan Menpora Era Pak SBY dulu. Saya sudah tahu dari kemarin, makanya tidak lagi kaget. Karena di bawah, jadi saya tidak membawa buku untuk mencatat. Saya putuskan untuk merekamnya saja sekalian.

“Saya akan memulai dengan hadis yang sering saya ulang-ulang, karena kondisi kita saat ini,” begitu ustad Adhyaksa Dault memulai kultumnya. Hadis yang dimaksud adalah tentang tahun-tahun penuh kebohongan. “Orang khianat diberi kepercayaan, orang amanah justru dikhianati. Nanti akan muncul Ruwaibidhah-ruwaibidhah. Sahabat bertanya, “Siapakah ruwaibidhah itu?” Lalu Rasulullah menjawab, Ia adalah orang yang tidak bisa apa-apa, tetapi berbicara atas nama ummat, bangsa, bahkan atas nama Islam, kemudian ia muncul menjadi tokoh”. Dengan semangat ustad Adhyaksa menejelaskan.

“Kita lihat di twitter, dia berani bilang kalau kaum Luth itu di azab karena melakukan pernikahan sejenis. Kenapa sekarang tidak ada?” Ia melanjutkan. “Ini menantang Allah, hari ini banyak yang begitu. Kalau sudah begini persoalannya dua, intinya dua hal penting: 1) Pemimpin. Pemimpin membawa ke jurang kebinasaan. Lihat Ibrahim ayat 28. Terus kemudian, “Nggak usah direkam pak, nanti malah rame di youtube, karena dipotong-potong.” Sang ustad menatap saya yang sedang mengangkat kamera. Sambil melambaikan tangan, tanda agar kamera diturunkan. Iya ke saya …

Saya jadi tidak enak, karena memotong ceramahnya. Kamera saya turunkan lalu saya save. Ustadnya melanjutkan lagi. Tidak sampai 2 menit kemudian, saya nyalakan lagi kameranya! Dasar Bandel. Saya rekam lagi. Tapi kali ini tidak saya angkat. Hanya saya letakkan di bawah. Esensinya adalah suara. Saya ingin menangkap itu, hingga akhir. Dan saya berhasil. Cuma, saya bertekad untuk menyalami sang ustad begitu selesai taraweh nanti. Sekadar meminta maaf atas ketidak nyamanan yang saya buat.

Saya mencoba mengerti. Pernah juga saya merasa begitu. Ketika postingan saya tentang perampokan di Cilincing tersebar kemana-mana. Media online, bahkan media masa membuat berita tentang itu. Potong kata-kata, ada juga menambahkan. Tanpa konfirmasi terlebih dahulu. Kebanyakan begitu. Tetapi, ada juga yang langsung kroscek. Langsung cek tkp, mencari sumber tambahan. Banyaknya tidak.

bahaya di siang bolong_afterefek_wartakota

Sampai di mana tadi?

Ah .. iya dua hal. Yang pertama pemimpin yang kedua ini: Masyarakat. Masyarakatnya memang sudah tidak menghendaki lagi. Digiring dia ke arah sekuler, ke arah tidak suka terhadap Islam. Kalau Islam yang muncul, potong habis! Jelekin habis, Bully habis.. hingga masyarakat tidak suka. Untuk yang begini Allah menyindir di An-Nahl ayat 112: “Nanti Allah turunkan ketakutan dan kelaparan dimana-mana …” Kalau boleh meminjam Ali-Imron Ayat 103, “Kalian berada ditepi jurang kebinasaan”. Ustad Adhyaksa Dault menambahkan. Tapi, kata Allah … kami selamatkan kalian. Loh kok? Karena masih ada ustad-ustad seperti ini, ada masjid BI, ada orang-orang seperti kita ini yang masih melakukan gerakan perubahan terus menerus. Insya Allah”.

Jangan Putus

Masyarakat kita digiring oleh ruwaibidhah-ruwaibidhah itu. Muncul figur-figur baru, yang sebenarnya nggak ada apa-apanya. Timbul kata-kata, “Lebih baik punya pemimpin non muslim tapi anti korupsi, daripada muslim tapi korupsi.” Ini kan tidak apple to apple, kata ustad Adhyaksa tegas. Yang sejajar itu, lebih baik pemimpin muslim dan anti korupsi.

Anak-anak muda kita tergiring. Makanya kita tidak boleh putus. Bapak Ibu sekalian, kalau saya perhatikan kebanyakan yang taraweh itu ABG kayak saya. Angakatan Ba’da Gocap. Anak muda harus diajak. Anak kita juga, cucu, tetangga, semua.

Waktu saya SD—tahun 70-an jumlah penduduk muslim itu sekitar 95%. Ketika SMA berkurang menjadi 80%, sekarang berkisar di angka 78%. Ini kan berarti tergerus. Putus. Karena generasi-generasi sebelumnya telah meninggal.

Malu

Ustad Adhyaksa melanjutkan. Kondisi kita saat ini juga dikarenakan rasa malu sudah diangkat. Ia Lalu mengutip perkataan Rasulullah, “Jika Allah mau menghukum suatu kaum, Allah angkat rasa malu dari mereka”. Makanya Rasulullah menambahkan, “Kalau kalian sudah tidak punya rasa malu, berbuat apa saja terserah. Tunggu saja azabnya.”

“Bapak beli mobil baru dibungkus, beli motor baru disimpan rapi di garasi, di jagain di bungkus juga. Tapi, bapak nggak malu kalau istri nggak di bungkus. Nggak dijilbabin. Kemana-mana pake tengtop. Begitu juga dengan anak… lenggak-lenggok dibiarin. Masya Allah …”

“Malu itu kepada Allah. Bukan minder. Misal, bapak pakai motor tua. Sudah bunyi kretek, kretek, nggak karuan. Terus bapak turun, malu ketemu orang. Kenapa malu? Itu motornya jelek. Jangan malu Pak! Mereka menghargai bapak bukan karena motornya.”

Kalau orang sudah punya dignity, harga diri, rasa bangga kepada Allah karena memberikan makan anaknya bukan dari uang haram. Dia kerja sekuat tenaga. Maka tidak ada keraguan padanya. Coba lihat ustad-ustad. Kaya tetap tawadhu, miskin juga tawadhu. Seperti perkataan Ali bin Abi Thalib, “Pakaian kamu membuat kamu dimuliakan orang, tetapi ilmu kamu membuat kamu dimuliakan orang setelah kamu berdiri”.

Apa yang harus kita lakukan

Kondisi ummat seperti ini, jadi apa yang harus kita lakukan? Tidak lain dan tidak bukan, “Jaga diri dan keluargamu dari siksa api neraka”. Begitu orang tua saya dulu mendidik saya. Harus bisa baca kitab, harus bisa tafsir, harus bisa hafalan. Kalau tidak begitu, Bahlul juga saya. Jadi peranan orang tua itu sangat penting.

Mudah-mudahan nanti lahir dari rahim ibu-ibu ini pemimpin-pemimpin yang bertakwa. Yang satunya kata dan perbuatan. Dalam sholat berjamaah dapat menjadi imam. Maghrib, Isya, Shubuh. Tidak hanya berani dzhuhur dan ashar saja.Karena nggak bunyi.

Doa

Malam ini malam ke-29. Masih ada waktu. Kejar, bu! Ibarat mau naik pangkat, harus semangat. Kita bergadang ini malem, kita jagain. Karena Allah menyelipkan satu ayat tentang doa diantara ayat-ayat tentang puasa. Allah tidak pernah mengingkari janji. Pasti dikasih. Hanya saja ada yang langsung, ada yang ditahan, ada yang malah dihindarkan dari bahaya.

Kita jangan begini… baru Allahu akbar (ketika sholat). “Aduh begimana ya, udah mau lebaran, orang pada pulang kampung, kita masih di Jakarta, suami begini banget dah! Allahu Akbar (rukuk)… udah ngarepin mantu, eh dapet mantu kayak begini, bukannya ngasih THR malah kita yang ngasih THR. Sami Allah.. (i’tidal), bener-bener nasib dah.” Nggak dapet apa-apa bu kalau begitu.

Suami juga tidak sama. Ketika takbir, Allahu Akbar, Duh istri begini banget ya, belum apa-apa baunya minyak tawon, ngomel-ngomel mulu lagi! Allahu akbar, duh Allah cari duit di mana lagi.

Sang ustad lalu menceritakan pengalaman dia selama kerja jadi menteri. Dengan doa dari semua dapat menyelesaikan pekerjaannya dan terhindar dari segala “tantangan, halangan, hambatan, rintangan, hambalang… lewat semua. Alhamdulillah”.

Dakwah

“Dengan kondisi begini, tidak lain kita harus berdakwah. Menyampaikan ke anak. Berdakwah tidak harus ustad. Biasanya yang menengah ke atas memanggil guru ngaji, les privat. Menengah ke bawah dibawa ke TPA. Kita tidak bisa kontrol. Kita saja yang kontrol langsung. Kita yang ajari. Seperti saya ke anak laki-laki saya, “Kalau kamu terlihat merokok, maka demi Allah yang punya langit dan bumi, kamu akan kehilangan hak waris!” Ke anak saya perempuan, “kamu sudah SMA, ayah tidak mau melihat kamu keluar nggak pake jilbab? Kenapa? Wajib, agar kita tidak terpisah nanti diakhirat.”

Kakak yang menginspirasi

“Ikhwahfillah sekalian … sebentar lagi ramdahan akan meninggalkan kita. Kita tidak tahu apakah dapat bertemu lagi atau tidak. Saya punya kakak—beliau sudah saya anggap kakak sendiri. Dia sakit selama 10-12 tahun. Lumpuh setengah badan. Tapi subhanallah … senantiasa berhusnudzan kepada Allah. Bahkan dalam sakitnya, dia masih sempat menulis naskah-naskah untuk di televisi, untuk dikirim ke mana-mana”.

Suatu waktu ia menelpon saya. “Akhi ana sakit banget ini, jantung tinggal 20% .. hehe (sambil tertawa). Doain ya biar ketemu ramdahan lagi.” “Ya… ya.. akhi.. dan saya pun menangis. Tau.. tau.. seminggu sebelum ramadhan istrinya telp saya, “ustad… pepeng udah nggak ada… pepeng sudah meninggal.”

“Kakak saya meninggal dalam keadaan tersenyum. 10 tahun dia lumpuh, tapi selalu berhusnudzan kepada Allah. Ya Allah, Ya rabb… mudah-mudahan kita masih ada umur. Supaya kita berjumpa lagi dengan ramadhan tahun depan.”

 

Setelah Sholat taraweh. Saya pun mendatangi ustad Adhyaksa. Bersalaman, sambil meminta maaf. Ia pun menepuk pundak saya, sambil menatap, “jangan direkam ya, jangan direkam”.

Saya kembali ke atas. Maafkan ustad… karena semua saya rekam, dan saya bagikan. Memang ada yang saya skip, tidak semua saya ceritakan, tapi insya Allah tidak ada maksud apa-apa, kecuali untuk menyebarkan kebaikan. Semoga bila ada yang tergerak untuk berbuat, pahala mengalir ke ustad juga.

Malam ke 29 belum berakhir, masih permulaan. Esoknya… saya takluk oleh seorang ustad. Tapi, artikel ini sudah terlalu panjang. Jadi akan saya buatkan terpisah. Semoga bermanfaat.

Salam,

diki septerian

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.