Umur Shockbreaker Suzuki Shooter

shock-breaker-suzuki-shooter-06

Penggantian peredam kejut pada motor yang tidak lagi muda.

***

KEHIDUPAN baru dimulai saat umur empat puluh tahun. Entah siapa yang mempopulerkan istilah itu. Benarkah? Tidak tahu, karena saya belum sampai sana. Tapi, bagaimana dengan motor? Apakah baru hidup lagi setelah empat puluh ribu kilometer?

Rasanya iya. Setelah menginjak umur empat puluh empat ribu, peredam kejut si EDA mengalami kebocoran.

Sebelumnya EDA, Suzuki Shooter yang telah menemani saya sejak 2014 lalu sudah memiliki jantung baru, dan aki baru. Kini shockbreaker baru. Sebelumnya saya sempat berpikir untuk menggantinya dengan milik Jupiter Z, namun akhirnya saya ganti dengan milik Suzuki Smash Titan.

Pilihan itu terlintas begitu saja setelah melihat Smash Titan. Ukurannya, bentuknya, modelnya sangat mirip dengan milik Shooter. Mengapa tidak mengganti saja dengan shockbreaker bawaan? Saya tidak menyukai tampangnya. Milik Titan lebih tampan.

Akhirnya saya mencari ke daerah BonJer. Saya beli, lalu rasanya ada yang janggal. Sepertinya bukan yang ini. Tapi, di kardusnya jelas tertulis milik Titan. Ya sudahlah. Yang itu juga bagus, ulirnya lebih banyak sehingga terkesan lebih empuk.

shock-breaker-suzuki-shooter-03

Saya bawa ke bengkel untuk dipasangkan. Ternyata saya salah sangka. Milik Titan lebih panjang. “Nanti akan repot kalau parkir, mentok”, ujar mekanik yang menangani si EDA. Tapi, ini bisa di ganti kok, katanya sambil menunjuk dudukan bawah shockbreaker.

Lalu, bagaimana rasanya?

Saya belum memakainya untuk jarak jauh dan dalam kecepatan tinggi (>60 kpj). Tapi sudah saya gunakan untuk berboncengan dengan bobot total kira-kira 130 kg. Rasanya? Membalnya enak. Tidak terlalu kaku, tidak juga terlalu membal. Pas. Meski kadang-kadang jika menghadapi polisi tidur yang tinggi masih mentok di ayunan pertama. Tapi tidak lagi patah-patah.

Kesimpulan saya untuk diajak boncengan: cocok, susuai dengan apa yang saya harapkan.

Bagaimana bila dipakai sendiri? Ayunannya tidak seperti bila berboncengan, bantingannya juga lebih lembut dibanding shocbreaker yang sudah berumur itu. Perut tidak lagi terasa keram bila melewati jalanan yang penuh dengan polisi tidur.

Apakah anteng tidak mental-mentul saat diajak ngebut? Nah, ini yang masih belum bisa saya jawab. Sejak dua minggu lalu, saya telah kembali manjadi RoKer (Rombongan Kereta). Jadi, si EDA hanya menemani saya dari rumah hingga Stasiun Depok saja.

shock-breaker-suzuki-shooter-07

Bagaimana dengan para “Penembak” lain? Silahkan berbagi pengalaman, kang, jangan raug-ragu 🙂

 

salam,

diki septerian

 

 

2 thoughts on “Umur Shockbreaker Suzuki Shooter

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.