Untung Pakai Helm

Celaka di simpang LA

***

Yang suka lewat Jalan Lenteng Agung Raya pasti tahu: melawan arah adalah kenikmatan. Paling enak memang pasang lampu jauh, terus menyusuri pinggiran jalan yang sebenarnya satu arah. Tidak peduli ada anak yang diantar menuju tempat menimba ilmu. Rasanya lebih malu kalau terlambat sekolah daripada membiasakan keteraturan pada darah-darah muda itu.

Saya selalu cuek, meski kadang ikut menyisir sisi jalan, hingga para pelawan arus itu semakin terpinggirkan. Tapi, kemarin malam lain …

***

Saya tidak apa-apa. Helm yang saya pakai juga tidak apa-apa. Si Eda juga tidak apa-apa. Itu anehnya. Padahal rasanya saya jatuh cukup keras. Helm asli Indonsia yang saya kenakan hanya lecet dibagian ujungnya, tepat di pelipis posisinya. Bila tidak pakai helm itu, mungkin sudah ada yang bercucuran di jalanan.

Saya bangun. Setelah merasakan benturan di kepala. Saya melihat Eda yang tergeletak. Mati. Saya bangunkan dia. Saya periksa. Aneh, tidak ada lecet. Sayap-sayap masih bagus. Bodi samping juga. Hanya pijakan kaki dan spion yang tampak miring. Kemudian saya mencari-cari kunci untuk membetulkan posisi spion itu. Tanpa peduli dengan 3 orang di depan yang merasa kikuk. Akhirnya salah seorang dari mereka mengucap, “Maaf ya” sambil menjulurkan tangan.

Jalanan basah karena hujan. Dipersimpangan sempat saya di kagetkan dengan motor yang tiba-tiba menggunting jalanan. Saya banting kiri. Selamat. Saya tarik gas kembali. Tiba-tiba ada sorot lampu motor dari motor pejantan di sebelah kiri. Ingin mengambil jalan satu arah itu. Banting kanan, rem. Hilang traksi. Jatuh.

***

“Nggak apa-apa mas?”, Tanya seorang bapak yang berdiri di trotoar ketika saya sedang membetulkan spion. “Nggak papa pak”. Di sini memang kacau, katanya lagi. Tiga orang yang menunggangi satu motor tadi telah pergi. Tanpa bertanya apapun. Mungkin resahnya telah reda setelah salamnya bersambut.

Bapak yang hanya berdiri saja juga akhirnya pergi. Setelah kekasih dan buah hatinya datang. Bapak itu lalu mengikuti arah 3 orang penunggang motor pejantan itu. Dan saya hanya bisa bergumam …

“Damn … I Love Indonesia!”

melawan arah-01

Kenikmatan melawan arus ternyata membawa sengsara kepada mereka yang ingin menikmati waktu pulang-perginya dengan riang. Dan siapa tau, nikmat itu membawa penyesalan di hari kemudian.

***

 

Kejadian 01/09/16, Jalan Lenteng Agung Raya, satu arah, simpang KFC.

Salam satu aspal,

diki septerian

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.