What the Dog Saw

what the dog saw ds-01

Bukan resensi, sekadar berbagi teman perjalanan.

***

Tujuh tahun lalu buku ini terbit. Dua tahun kemudian saya membacanya. Kini saya memilikinya, setelah empat tahun mengira-ngira. Ternyata tidak juga membosankan untuk dibaca. Malcolm Gladwell memang piawai menulis berita menjadi cerita layaknya novel.

Ini buku ke-empat-nya. Setelah sukses dengan Tipping Point, Blink dan Outliers. What the Dog Saw memang berbeda dari pendahulunya. Ia “hanya” kumpulan artikel yang ditulis oleh Malcolm dalam rentang 1996-2010. Hanya saja kumpulan artikel itu merupakan favorit penulis The New Yorker itu sendiri.

Yang ternyata jadi kesukaan saya juga.

Mengapa saya menyukainya sebagai teman perjalanan? Dimensi fisik pertama. Ukurannya masuk dalam tas jinjing yang saya bawa sehari-hari. Bahan kertas premium, yang membuatnya ringan, meski tebalnya mencapai empa ratus lima puluh halaman lebih. Cover-nya juga model lunak sehingga membacanya bisa sambil dilipat.

Loh, nanti rusak dong bukunya?

Buat yang sering naik Commutter Line pasti tahu mengapa. Di saat jam padat, ruang gerak di gerbong kereta listrik itu sangat terbatas. Membawa buku dengan cover keras, berat, dan lebar tentu menyusahkan.

what the dog saw ds-02

***

What the Dog Saw telah memenuhi syarat pertama sebagai teman perjalanan yang baik. Syarat berikutnya: isinya juga harus menarik. Lalu, apa yang ditawarkan Malcolm dalam buku ini?

Dari dua puluh artikel yang ada, ia membaginya dalam tiga bagian. Pertama, tentang para Obsesif, Perintis, dan Macam-macam Genius Minor lainnya. Kedua, tentang Teori, Prediksi dan Analisis. Ketiga, tentang Kepribadian, Sifat, dan Kecerdasan.

Pada bagian pertama Malcolm mengenalkan kita pada tokoh-tokoh yang (mungkin) tidak kita kenal tapi memiliki keunikan. Ada Ron Popeil Sang Penakluk dapur Amerika, Nassim Taleb yang mampu mengubah bencana menjadi strategi investasi, Cesar Milan yang begitu mengerti bahasa tubuh anjing. Juga ada John Rock, penemu pil KB yang tersesat.

Bagian dua melebar ke lingkungan dan negara. Ada kisah dibalik jatuhnya Enron, perusahaan raksasa energi dari Amerika. Ada kisah mengurai peliknya masalah gelandangan seharga satu juta dollar. Tentang seorang penulis yang merasa dicuri karyanya. Tentang seni kegagalan, bedanya panik dan tercekat.

Bagian ke tiga tidak kalah menggelitik pikiran. Ada cerita tentang orang-orang yang terlambat panas (lawannya jenius) dan bagaimana kita memandangnya. Ada cerita dari pencari bakat dan kolerasinya dengan dunia personalia. Ada juga mitos tentang bakat: Apa kita terlalu menganggap hebat orang pandai. Kemudian tentang wawancara kerja. Dan terakhir tentang si biang kerok: Pit Bull.

***

what the dog saw ds-03

Jadi, tentang apa sebenarnya What the Dog Saw ini? Tentang bagaimana memandang masalah dari mata orang lain, dari dalam pikiran orang lain. Tentang tekad penulis yang melawan naluri manusia yang menganggap sebagian besar hal tidak menarik. Dan pastinya, tentang bagaimana anjing menatap dunia. Eh.

 

salam,

diki septerian

 

 

 

One thought on “What the Dog Saw

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.