Site icon diki septerian

ASUS Vivobook 14 M1407KA (AMD Ryzen AI 5 340): Laptop AI Murah!

Asus Vivobook 14 M1407KA

Selagi saya mencari-cari alternatif X1 Carbon gen 9, AMD Indonesia menawarkan Laptop Ryzen AI 300 series terbaru yang harganya mirip-mirip dengan X1 Carbon bekas itu.

Bahkan, laptop itu punya sesuatu yang dari dulu X1 Carbon tidak miliki: Slot RAM untuk upgrade.

Apakah sebaiknya memang saya melupakan X1 Carbon, lalu meminang ASUS Vivobook 14 M1407KA dengan AMD Ryzen AI 5 340 ini?

Dua yang BERBEDA

Sebelum jauh-jauh dan sebelum saya diprotes para fans ThinkPad garis keras, dua laptop ini memang sangat berbeda. Yang sama hanyalah ukuran layar 14 inci. Selebihnya mereka bak pinang dibelah terserah.

X1 Carbon laptop kelas bisnis unggulan, Asus Vivobook 14 ini kelas konsumer mainstream. X1 Carbon (9th) harga Rp9 juta statusnya bekas, sedangkan Asus Vivobook AMD Ryzen AI 5 340 ini dapat dibeli baru, dengan garansi resmi 2 tahun lamanya (dan tukar unit dalam 5 hari).

X1 Carbon berbahan karbon, dengan berat 1,1 kg, sedangkan Vivobook 14 M1407KA ini berbahan plastik dengan bobot 1,46 kg (unit review 1,57 kg karena sudah upgrade RAM).

Ketika memegang laptop ini untuk pertama kali, perbedaan itu memang terasa sekali. Asus Vivobook 14 ini tidak memberikan kesan mewah apa pun kepada saya.

Kecuali, sertifikasi MIL-STD810H yang sudah mereka dapatkan. Dan seharusnya itu cukup untuk kita-kita yang sering mempertanyakan daya tahan.

Bukan berarti Buruk Rupa

Dia memang tidak istimewa buat saya. Tapi, belum tentu bagi orang lain. Itulah yang terjadi, saat teman saya melihat laptop ini. Dia bilang, laptopnya bagus. Terlihat keren.

Kenyataannya memang sentuhan akhir laptop ini bagus. Cat terasa tebal dan mulus. Tidak ada sudut-sudut yang terasa tajam juga.

Walaupun kembali lagi, kalau kita perhatikan detil, kita akan melihat mengapa urusan fisik tidak menjadi fokus laptop ini.

Webcam FHD misalnya. Tidak ada pelindungnya. Bolong saja begitu. Sebenarnya Webcam itu punya banyak fitur. Seperti Studio Light, dan sebagainya. Namun fitur yang sangat membantu akang sekalian yang sering meeting online adalah AI Noise Canceling.

Hasil pengecekkan saya di luar menunjukkan tanda-tanda yang positif. Suara motor yang lewat tidak terdengar sama sekali.

Urusan porta koneksi juga sama. Meski terbilang banyak, tapi penempatan seperti kurang perhatian. Sisi kanan hanya ada 1 USB-A 5 Gbps. Tidak ada apa-apa lagi kecuali LED Indikator. Yang padahal tempat pengisian dayanya ada di sebelah kiri semua. Aneh kan, colok di kiri, nyala di kanan.

Laptop ini menggunakan USB Tipe-C untuk pengisian dayanya. Ada dua, tapi ya itu tadi, dua-duanya akur di sebelah kiri. Begitu juga dengan USB-A, HDMI, dan Audio Combo 3.5 mm.

Kekuranganya adalah: tidak ada koneksi LAN RJ-45, tidak ada slot pembaca kartu SD (ataupun microSD), dan tidak ada porta koneksi berkecepatan tinggi. Jangankan USB4, USB 3.2 gen 2 saja tidak ada! Hanya mengandalkan USB 3.2 gen 1 yang kecepatannya 5 Gbps.

Sungguh sangat disayangkan.

Kabar Bagusnya

Display dapat dengan mudah kita buka dengan satu tangan. Dan layar itu dapat merebah hingga 180o. Ini menjadi penting, karena pengalaman saya bersama laptop ASUS ”kejar performa”, bagian ini yang sering jadi masalah. Terlalu ketat masalah, terlalu longgar juga masalah. Ini pas.

Engsel yang dapat merebah hingga 180 derajat

Bagian display itu memang tidak memiliki fitur Ergolift, seperti laptop tipis ASUS pada umumnya. Namun, dia tidak perlu begitu. Karena dengan perbedaan tinggi rubber feet yang sangat berfungsi di bawahnya ini, sudah membuat laptop terangkat lebih tinggi di bagian belakang.  

Dan, kabar bagus lainnya. Touchpad-nya sangat besar (12,7 x 7,9) cm. Mulus, tidak berisik kalau di-klik, dan punya fitur gesture pada sisi-sisinya (mengatur kecerahan, volume, dan play back).

Walaupun sayangnya, untuk saya, touchpad itu kurang responsif. Ada jeda sepersekian detik dengan kursor. Saya sudah coba mengecek driver, dan tidak ada pembaruan. Tidak terlalu masalah sih, karena tanpa trackpoint (pentil merah ThinkPad), laptop ini kebanyakan saya gunakan dengan tetikus.

Potensi Peningkatan ASUS Vivobook 14 M1407KA

ASUS Vivobook 14 M1407KA menjadi salah satu laptop baru dengan RAM DDR5 yang masih dapat kita upgrade. Memang hanya ada 1 slot-nya. Tapi karena bawaan sudah 16 GB, jadi untuk mendaptkan RAM 32 GB, cukup membeli 1 keping lagi.

Laptop yang saya ulas ini sudah ditambah RAM nya menjadi 24 GB. Sangat OK untuk pemakaian sehari-hari. Yang saya suka dari AMD dan ASUS juga, adalah kita dapat mengatur jumlah VRAM dari 512 MB hingga 16 GB, sesuai dengan selera akang. Atau dapat juga kita biarkan ASUS sendiri yang mengatur dengan kita pilih Automatic.

Saya sendiri langsung mengalokasikan 12 GB untuk VRAM, sehingga total ada 12,5 GB (VRAM bawaan 512 MB). Tapi kemudian, saat ingin menggunakan AMUSE AI, RAM yang dikehendaki oleh sistem adalah 16 GB. Jadi saya atur ulang menjadi 16 untuk sistem dan 8 GB tambahan untuk VRAM.

Selain RAM, komponen yang masih dapat kita upgrade adalah SSD. Bawaannya adalah 512 GB, dengan tipe PCIe NVMe gen 4, ukuran normal 2280. Ingin tambah 1 TB, 2 TB, atau hingga 4 TB, rasanya masih bisa, tinggal akang sekalian rela atau tidak.

Mudah Servisnya?

Bicara tentang perbaikan dan perawatan, ASUS Vivobook 14 M1407KA ini tergolong susah-susah gampang. Untuk membuka penutup bawah kita perlu membuka 10 baut. Baut itu berbeda panjang dan pendeknya. Jadi, hati-hati. Setelah itu kita membutuhkan alat bantu untuk membuka penutupnya. Pakai kuku? Saya coba tidak berhasil.

Kemudian, kalau kita ingin mengganti baterai misalnya. Tidak ada pegangan yang memudahkan kita untuk melepas konektornya. Lagi-lagi, perlu ekstra hati-hati. Selain Baterai, SSD, dan RAM yang bisa kita ganti sendiri, kartu WLAN juga masih bisa. Itu untungnya. Tidak semua komponen tersolder.

Walaupun lagi-lagi, sayangnya DC-In tersolder bersama motherboard. Sehingga kalau rusak, yaa… mari berharap agar dia tidak rusak. Hehe.

Tapi seberapa sering kita melakukan pengisian daya sebenarnya?

Baterai ASUS Vivobook 14 M1407KA

ASUS Vivobook 14 M1407KA memiliki baterai berkapasitas 42 Wh. Sangat normal untuk kelasnya. Baterai ini kondisinya masih sangat baik, walapun unit yang saya terima ini jelas bukan baru lagi.

Baterai itu sanggup menemani saya kerja 6 jam 54 menit. Mode balanced, online multitasking dengan tingkat kecerahan 40-60%. Kalau saya geber untuk nonton YouTube non-stop, sekitar 5 jam. Dan, bila saya geber main game. Ya, akang tidak salah dengar, laptop dengan iGPU ini bisa untuk main game. Dapat sekitar 47 menit.

Semua dengan kondisi baterai dari 92-95% hingga 13-8%. Termasuk yang lumayan.

Bagian terbaiknya, menurut saya ada pada waktu pengisian yang cepat. Dalam waktu 28 menit, baterai bertambah 45%, dan dalam 1 jam sekitar 72%. Sehingga, kalau akang mengisi saya dari 20% misalnya, akan “penuh” dalam waktu 1 jam saja.

Penuh, maksud saya 90%. Itu cukup dan bagusnya seperti itu, karena biar umur baterai lebih panjang. Dan kalau akang lihat pada grafik, setelah 80% waktu pengisian itu akan melambat.

Bagian terbaik berikutnya adalah kita bisa mengatur baterai itu terisi sampai berapa walaupun charger tetap terpasang. Pengaturan itu ada di Battery Care, yang dapat kita akses melalui MyASUS.

Ahli Kustomisasi

Ini yang saya suka dari ASUS dan AMD: kustomisasi. Sudah tersedia aplikasi bawaan, untuk mengatur beberapa hal sesuai dengan preferensi kita. VRAM dan pengisian daya sudah saya sebut. Kemudian kecepatan kipas dan profil display.

Saya sendiri mengatur display ke standar, VRAM ke 12 GB, dan kecepatan kipas antara standar dan performa tinggi. Ada cara cepat untuk mengatur kipas ini: tahan tombol Fn dan tekan F. Lalu atur sesuai keinginan.

Pantauan saya, kipas kalau mode Full Speed akan berputar sangat kencang (sekitar 6-7 ribu rpm), dan terdengar, seperti layaknya laptop gaming. Bila mode Standar atau Whisper, akan sangat tenang, nyaris tidak terdengar.

Berani Adu Kinerja

Sampailah kita pada bintang utama pertunjukkan. Star of The Show: AMD Ryzen AI 5 340. CPU kelas menengah yang banyak bisanya. Sorotan utama tentu pada NPU-nya yang mencapai 50 TOPS. Dengan 50 TOPS itu, ASUS Vivobook 14 M1407KA ini termasuk dalam Copilot +PC.  

Beberapa hal memang hanya dapat dilakukan dengan CPU yang memiliki 40 TOPS ke atas. Seperti Click To Do. Kita dapat mengaktifkan fitur itu dengan cara menekan tombol Windows kemudian klik kiri, atau dengan kombinasi tombol Windows + Q.

Dengan Click to Do, kita dapat mengidentifikasi tulisan atau apa pun yang ada pada layar kita, dan melakukan sesuatu setelahnya.

Misal, kita sedang membaca artikel, lalu aktifkan Click to Do, kita minta buatkan poin, rangkuman, atau bahkan menuliskan ulang dengan gaya sesuai keinginan kita.

Click to Do untuk gambar juga menarik, setelah kita aktifkan, kita dapat membuat buram, menghapus objek, atau memindahkan background pada gambar itu.

AI di mana-mana, dan pertumbuhan penggunaan AI memang rasanya begitu cepat. Pada Ms. Office misalnya. Sudah ada Copilot bertengger di sana. Buka Word/ Power point lalu ketik buatkan saya ulasan tentang Laptop ASUS Vivobook 14 M1407KA, langsung dia buatkan dalam hitungan detik.

Pada aplikasi legendaris PAINT juga begitu. Kita sudah bisa minta buatkan gambar sesuai dengan PROMPT yang kita tulis, atau juga fitur yang hanya ada pada Copilot +PC ini CoCreator. Jadi, selagi menggambar, AI ini akan membantu memberikan ilustrasi.

Untuk AI Generatif di luar Microsoft, saya coba AMUSE 3.0 untuk membuat gambar default tidak ada masalah berarti. Tapi ketika memintanya untuk membuatkan video, nah ini butuh waktu sekitar 3 menit untuk jadi 1 video berdurasi 4 detik. Kecepatan iterasinya 0,08 per detik.

Saat itu, laptop bekerja dengan sangat kerasnya, kipas meraung-raung. Tapi tidak sampai membuat laptop membeku.

Kerjaan Sehari-hari

Di luar AI-AI-an. AMD Ryzen AI 5 340 ini tetaplah CPU yang mampu menangani tugas sehari-hari dengan cepat. Arsitektur Zen 5, fabrikasi 4 nm, dengan kecepatan 2,0 GHz – 4,8 GHz dan TDP 28 W. Membuat multitasking, browsing, streaming, dan lain-lain tidak menjadi masalah. Begitu juga saat berurusan dengan konten video, editing foto, dan sebagainya.

Untuk rendering video FHD 24p durasi 8 menit misalnya, selesai dalam 1:33 menit. Sedangkan resolusi 4K 24p durasi 7 menit, selesai dalam 3:30 menit. Rendering menggunakan Blender BMW selesai dalam 3:12 menit.  

Hasil benchmarking menunjukkan angka-angka yang menjanjikan. Saya sengaja membandingkan dengan ThinkPad T14 G2 yang memang memiliki CPU yang sama dengan X1 Carbon gen 9 yang saya incar, dan juga ASUS Vivobook S14 OLED dengan AMD Ryzen AI 9 365 sebagai referensi.

Kecepatan Single Core pada AMD Ryzen AI 5 340 bisa dibilang mengesankan, karena dapat setara dengan AMD Ryzen AI 9 365 yang jauh lebih mahal secara harga. Namun, kecepatan Multicore jelas (12 vs 20 memang jauh kan kang).

Gaming Tanpa Tapi?

AMD Radeon 840m menjadi sumber utama otak pemrosesan grafis dari AMD Ryzen AI 5 340. Ia menggunakan RDNA 3.5 sebagai arsitekturnya, dan merupakan suksesor dari Radeon 740m. Punya 4 CU dan kecepatan maksimalnya dapat berjalan hingga 2900 MHz.

Untuk main Valorant FHD Medium rata-rata 117 fps. Naik turun, sering anteng juga di 140 fps, terendah juga 70-an fps.

Main Wuthering Waves mode performance juga aman di 30-an fps. Bisa lebih juga di 45 fps, terendah sekitar 25 fps. Masih sangat enak untuk kita mainkan. Begitu juga dengan game eFootball. Dengan mode FHD LOW anteng di 55 fps. Sedangkan kalau kita naikkan ke medium, dia menjadi 25-an fps saja.

Bagusnya, kita bisa main tanpa colok charger sama sekali, seperti yang saya lakukan saat uji ketahanan baterai mode performance. Sudah begitu, ASUS Vivobook 14 M1407KA ini lulus stress test Steel Nomad Light dan Night Raid.

Tentu hasilnya mungkin akan berbeda jika kita coba main game AAA, yang biasanya memang memerlukan kartu grafis terpisah.

Tetap Nyaman?

Kinerja sudah OK, bagaimana tingkat kenyamanannya? Buat saya, ada 2 hal utama yang mempengaruhi kenyamanan laptop: Display dan Keyboard. Juga ada 2 lainnya: Suhu dan Kebisingan.

Suhunya dulu… karena ini benar-benar tanpa tapi. Kombinasi heatsink fan yang besar dengan AMD Ryzen 4 nm memang luar biasa. Saat main game, rendering, ataupun stress test suhu tetap terjaga di di 50-60oC. Adem luar biasa. Suhu itu akan meningkat bila kita hanya menggunakan baterai saja. Tapi peningkatan itu juga masih tergolong adem, karena ada dikisaran 70oC.

Eh, itu pakai tapi juga ya. Hehe.

Kebisingannya sudah saya singgung sebelumnya. Sekarang kita ke.. display-nya dulu.

Display Tanggung

Bezelnya sudah tipis, rasionya sudah 16:10, teknologinya sudah IPS, tipenya matte yang bikin nyaman, kecerahannya lumayan 300 nits, bisa juga kita buka dengan satu tangan hingga merebah 180o, sayangnya… cakupan warna hanya 45% NTSC, atau sekitar 64% sRGB saja.

Yaaah… penonton kecewa. Saya sudah bisa mendengar suara-suara hati akang sekalian. Kenyataannya memang begitu, ASUS harus mengorbankan salah satu fitur untuk membuat laptopnya tetap kompetitif. Warnanya memang jadi pucat, tapi kontras rasio sudah 1000:1, sehingga tidak buruk-buruk sebenarnya. Kecuali sebelumnya terbiasa memandang layar dengan 100% sRGB Glossy.

Keyboard Nyaris

Keyboard-nya bisa nyala, tutsnya besar-besar, empuk, key travel relatif dalam (1,7 mm), sayangnya… Nah akang menantikan saya bilan begitu kan. Hehe.

Sayangnya.. keyboard berlabel Ergosense itu minim LED indikator. Hanya ada 1 LED bahkan, dan itu di tempat yang sudah seharusnya ada: Capslock. Tidak ada LED indikator pada Fnlock, mute speaker, mute speaker bahkan pada tombol power yang memang menjadi satu dengan keyboardnya ini.

Begitu juga kekosongan pada area panah. Padahal Pgup dan Pgdn bisa terpasang di sana. Memudahkan kita-kita yang sering berganti tab atau sheet saat menggunakan excel.

Sebelum beli… atau tidak

X1 Carbon gen 9 memang bukan lawan sepadan ASUS Vivobook 14 dengan AMD Ryzen AI 5 340 ini. Secara performa (mungkin) kalah telak. Uang Rp10 juta tidak akan tersia-sia untuk membeli laptop yang saya rasa dapat dipakai hingga 3,4, hingga 5 tahun ke depan ini. Belum lagi kalau kita mempertimbangkan Garansi 2 tahun, sudah dapat Office Home Student 2024, dan Windows Home yang original. Istilahnya beli, pakai, kalau ada sesuatu yang tidak sesuai, tinggal klaim.

Tidak ada kesulitan seperti membeli laptop bekas. Beli di mana, terpercaya atau tidak tokonya, kalau sudah beli harap-harap cemas dapat unit seperti apa, dan setelahnya masih juga belum tenang, karena khawatir rusak setelah masa garansi habis (biasanya hanya 1 bulan).

Meski begitu, akang sudah tau jawabannya bila saya harus memilih antara dua yang berbeda itu.

Exit mobile version