
Dari sekitar lima puluh laptop yang sudah menjadi bagian dari hidup saya, ehm. Tidak ada satu pun Laptop Advan di sana. Padahal, sebagai pengguna laptop bekas seharusnya saya tergoda: Harga murah, spesifikasi serupa. Bahkan sangat mungkin lebih baik.
Benarkah begitu?
Setelah (sekitar) empat belas hari menggunakan Laptop Advan itu, penasaran saya terjawab sudah.
*
Laptop Advan Yang Menggoda
Laptop Advan pertama saya tidak tanggung-tanggung. Langsung versi tingginya: Advan AI-Gen yang harganya sekarang Rp9 jutaan. Mahal untuk sebuah laptop lokal. Murah untuk apa yang di dapat: AMD Ryzen 7 8845HS, 16 GB LPDDR5x 7500 MHz, 512 GB SSD PCIe 4.0, 14 inci IPS WUXGA, dan 60 Wh baterai.
CPU kelas atas itu, kalau di merek lain, paling murah saya temukan Rp12 juta lebih. Kalau kita bandingkan dengan laptop bekas, yang agak powerful tapi tipis, ThinkPad X1 Extreme misalnya, kita hanya mendapatkan generasi kedua. Yang rilisnya sekitar tahun 2019-2020 lalu. Sudah jauh sekali.
Dibandingkan dengan ThinkPad X1 Extreme G1 yang sudah saya gunakan sejak 1,5 tahun yang lalu, secara performa, Laptop Advan ini menang. Dari keluaran panasnya juga dia lebih dingin. Nanti saya tunjukkan hasil-hasil ujinya.
Sekarang kita ke bagian yang sering membuat ragu: material.
Laptop Advan dengan Material Logam
Material Laptop dengan berat 1,39 kg (dengan charger 1,65 kg) dan dimensi 31,4 cm x 22,3 cm x 1,7 cm ini campuran. Penutup display-nya dari logam (tidak ada detil lain selain itu pada web-nya), sedangkan penutup bawahnya dari plastik (terasa lentur tidak getas). Bagian tengah terasa kokoh, bagian dalam yang menopang keyboard dan motherboard, saya melihat ada dukungan plat logam juga.
Sehingga, secara umum kualitas rancang bangun dari Laptop Advan ini baik. Setiap hari dia saya bawa-bawa. Keluar masuk tas, keluar masuk bagasi motor. Sama sekali tidak ada keraguan, walaupun belum ada sertifikasi MIL-STD810H.
Engsel yang biasanya akan menjadi masalah pada laptop murah, mudah-mudahan tidak terjadi. Karena pertama, engselnya ini dapat terbuka hingga 1800, alias merebah. Kedua, membuka layarnya nyaris dapat saya lakukan dengan satu tangan saja. Hal ini menjadi penting, karena kalau saja dia terlalu kaku, dan rumah engselnya menempel pada plastik, tamat sudah.
Sepertinya laptop yang tergolong Ultrabook ini tidak. Karena dia saya terima dalam kondisi bekas, yang juga sudah berpindah-pindah tangan sejak tahun lalu.
Walaupun… beberapa bagian terasa murahnya. Misal, pada bingkai layar yang terlihat sekali plastik biasa. Kemudian penutup Webcam, yang kondisinya sekarang sudah sangat kendur dan klik kiri Touchpad yang sudah tidak membal lagi.
Berbicara tentang touchpad, kita masuk ke bagian input lain yang boleh jadi potensi Deal Breaker buat akang sekalian: Keyboard.
Keyboard Laptop Advan AI-Gen
Sebagai pengguna ThinkPad, tentu tidak adil membandingkan keyboard laptop yang sudah beredar sejak 33 tahun lalu dengan laptop lokal yang masih mencari-cari jati diri.
Setuju?
Boleh saja berpendapat begitu. Walaupun dari setiap ThinkPad yang saya coba juga tidak memberikan umpan balik serupa, dan makin ke sini, keyboard itu makin tipis, makin pendek saja key travel-nya. Hanya saja memang, mereka punya kesamaan (keyboard modern, bukan yang 7 baris ya, kang): model chiclet yang agak melengkung ke dalam, dengan bagian bawah yang seperti senyum.
Layout, atau tata letak juga serupa. Dari satu laptop ke tipe lainnya. Sedangkan Laptop Advan ini tidak.
Advan AI-Gen ini misalnya. Dia memiliki layout yang membuat saya terganggu: Shift kanan yang pendek, DEL yang tidak di paling pojok, page up/ down/ home/ end yang tidak ada. Juga Fn+lock yang absen.
Pada model lain, Advan Workplus misalnya. Sekilas layout itu berbeda.
Rasa mengetik memang berbeda dari ThinkPad yang benar-benar taktil (secara umum). Empuk, tapi tidak lembek. Keyboard Laptop Advan AI-Gen rasanya seperti keyboard laptop kekinian yang key travel-nya cenderung pendek.
Baiknya, keyboard itu bisa nyala, tutsnya besar-besar, dan selama mengetik sama sekali saya tidak mengalami Ghosting (tidak muncul walaupun sudah terketik).
Selanjutnya, kita masuk ke bagian pada laptop yang sering kita berinteraksi dengannya: Display.
Display Advan AI-Gen
Advan AI-Gen yang saya ulas ini versi 2024, dan ternyata sudah beredar versi 2025-nya. Berbeda pula pada beberapa bagiannya. Salah satunya display. Meski sama-sama 14 inci dengan panel WUXGA (1920×1200), namun detil-detilnya berubah. Tidak lagi 100% sRGB seperti pada 2024 (setidaknya di WEB bilang 100%, kang). Menjadi hanya sekitar 62% saja.
Buat saya, kalau masih pakai panel 2024 tentu tidak menjadi kekurangan. Teknologinya IPS yang tidak ada pergeseran warna seperti pada panel TN bila dilihat dari sudut tertentu. Tipenya juga Matte Anti-Glare, seperti kebanyakan pada Laptop ThinkPad atau bisnis lainnya, yang pucat tapi saya lebih suka.
Berbicara pucat, detil-detil lain, seperti tingkat kecerahan, kontra rasio, dan asal panel tidak dapat saya temukan melalui pengencekkan HWInfo. Dugaan saya, kecerahan layar ada dikisaran 250-300 nits, dengan kontras rasio di 1:700 – 1: 800 dan sRGB yang nyaris 100% saja.
Untuk keluaran warna, saya tidak merasakan adanya keanehan. Tidak terlalu merah, hijau, biru atau kekuning-kuningan misalnya. Setidaknya dimata saya begitu.
Kinerja Advan AI-Gen
Tidak perlu meragukan AMD Ryzen 7 8845HS. CPU kelas atas dengan iGPU terkencang tahun 2023 (AMD Radeon 780M) ditambah NPU 16 TOPS adalah jaminan untuk kenyamanan kerja.
Kecepatan dasarnya saja 3.8 GHz, turbonya hingga 5.1 GHz. Intinya 8, untaiannya 16, litografinya 4nm, dengan ZEN 4 sebagai arsitekturnya. Karena ada HS dibelakangnya, jadi dia memang bukan prosesor hemat daya, yang TDP-nya 15-25 W. Dia main di level 28-54 W. Sehingga tenaga tentu lebih besar.
Untuk akang yang memang berencana menggunakan laptop ini untuk produktifitas, kuliah, kerja kantoran. Pastinya akan senang, karena semua terasa cepatnya. Tidak ada hambatan mau menjalankan banyak aplikasi sekaligus, multitasking, aman.
Hasil dari PCMARK10 yang memang spesialis benchmark sintetis untuk produktifitas menunjukkan itu.
Untuk editing video juga menyenangkan. Video review Laptop Advan yang baru rilis, saya edit menggunakan laptop itu sendiri. Ringan, cepat, dan masih dapat diajak membuka aplikasi lainnya.
Suhu CPU terpantau di 80-900C, sedangkan suhu GPU di 70-800C. Saat itu, kipas memang terdengar, tapi tidak sampai mengganggu tetangga sebelah. Dari Stress Test 3DMARK Steel Nomad Light (20 loops) dia lolos, yang artinya stabil saat main game.
(Cek video tentang performa di kanal YouTube diki septerian, ya!)
AI?
Sedangkan untuk kinerja NPU-nya. Saya coba menggunakan AI Generator lokal, AMUSE 3.0 yang sekarang sudah bisa TEXT to VIDEO. Untuk TEXT to Pictures masih enteng, 4 gambar selesai dalam waktu 30-an detik, dengan iterasi 3,2 perdetik. Untuk Text to Video, ini yang kedodoran.
Karena AI Generatif itu sangat rakus RAM, sedangkan RAM yang ada hanya 8 GB (karena terbagi dengan GPU), jadi iterasinya hanya 0,1 perdetik. Dan laptop seperti membeku, tidak dapat mengerjakan apa-apa. Pantauan saya, NPU-nya baru bekerja ketika sudah mulai masuk ke finishing Super Resolution (menggunakan XDNA yang ada pada NPU tadi).
Isi di dalam Laptop Advan AI-GEN
Untuk membuka Laptop Advan, kita perlu hati-hati. Karena pertama, bautnya ada yang pendek ada yang panjang. Dan kedua, baut itu seperti ada anti magnetnya. Sehingga menyusahkan saat membukanya. Akang juga perlu congkelan, atau pry tools, karena setelah membuka semua baut, penutup itu masih menempel.
Ada perbedaan dengan versi 2025. Bahkan banyak, tapi bukan spesifikasi. Biasanya kalau merek lain, versi barunya itu berganti CPU misalnya, motherboard mirip. Ini sama sekali berubah.
Pada versi 2024 tidak bisa upgrade RAM. Versi 2025 bisa. Versi baru itu juga sama-sama memiliki dua slot SSD. Hanya saja penempatannya aneh, slot ke dua menimpa kartu Wi-Fi bila kita memasangnya.
Saya rasa, anggap saja itu tidak ada. Karena, jaga-jaga saja, kang. Jangan sampai SSD mahal yang sudah akang beli, ternyata rusak misalnya, hanya gara-gara memaksakan itu.
Perbedaan lain juga ada di heatsink fan. Alias sistem pendiginnya. Walaupun masih sama-sama ada dua kipas, tapi versi 2024 terpantau ada 3 heat pipe, sedangkan 2025 hanya 2.
Di bawahnya ada baterai 60 Wh, atau 5200 mAh, dan juga pelantang suara (loud speaker) yang tidak bisa kita banggakan.
Daya Tahan Laptop Advan
Dengan CPU model HS dan bentuk laptop 14 inci, saya membayangkan baterainya tidak akan tahan lama. Nyatanya tidak. Laptop Advan ini pernah menemani saya kerja hingga 11 jam lamanya. Artinya dia masih saya bisa pakai tanpa charging keesokan harinya (kerja 8 jam).
Pernah juga “hanya” 8 jam saat benar-benar banyak yang dikerjakan. Kondisinya: mode balance, kecerahan layar 40-60%, online, multitasking.
Tentu hasil ini akan berbeda-beda tergantung pemakaian nanti.
Baterainya memang tahan lama. Tapi, banyak hal yang masih dapat Advan tingkatkan.
Tidak ada mode Thershold seperti pada Lenovo ThinkPad atau Bypass charger pada laptop lain (ASUS misalnya). LED pengisian daya juga hanya berubah warna saat baterai sudah terisi 100% (dari oranye ke putih). Waktu pengisian juga relatif lambat. Butuh waktu 1 jam 40 menit untuk mengisi baterai dari kondisi 3% ke 91%. Padahal output charger itu 100W.
Software, Driver, Garansi Laptop Advan
Laptop Advan ini sempat saya kembalikan karena masalah Windows-nya yang tidak dapat saya aktifkan. Awalnya saya terima Windows 11 Pro, lalu saya instal ulang menjadi Windows Home, lalu saya instal ulang lagi ke Windows Home Single Language. Semua sama, tidak bisa aktif, lalu saya cek, memang kuncinya itu kosong.
Namun, katanya, karena memang unit ini untuk demo, jadi ya itu dibiarkan begitu. Tapi, buat akang yang nantinya memang beli, akan mendapatkan Windows 11 Home, ya.
Awalnya juga, saya kesulitan mencari Driver Wi-Fi, Bluetooth, PCIE, dan lainnya untuk laptop ini. Pakai Windows Update, tidak “nyangkut”, pakai Device Manager, sama juga. Masuk ke WEB Advan, “ZONK”. Tidak ada driver sama sekali.
Ini menjadi kekurangan besar yang harus Advan benahi. Untungnya, saat ini situs untuk update driver sudah Advan benahi dan tersedia untuk kita gunakan. Walaupun memang, terasa masih kurang lengkap karena kita harus mengunduh satu persatu, tidak ada pilihan otomatis untuk melakukan pembaruan driver seperti pada merek-merek yang memang sudah ajeg.
Garansi yang hanya 1 tahun juga penting untuk akang pertimbangkan. Karena beberapa pabrikan berani memberikan garansi hingga 2 atau bahkan 3 tahun lamanya.
Jadi?
Apakah Laptop Advan berhasil menggoda akang sekalian?
Dia kencang, adem, baterai tahan lama, dan ringkas, lho. Cocok untuk akang yang memang kejar performa atau dikejar-kejar kerjaan, hehe.
Namun, bila yang akang cari konsistensi, kenyamanan (hardware dan software juga garansi), rasanya perlu berpikir kembali. Sambil bergumam sendiri, “Duh andai saja…”
Advan memang tidak membuat sendiri Laptop mereka dari NOL. Mereka memilih, merakit semua bagian yang memang sudah tersedia di negara asalnya. ODM sifatnya (Original Design Manufacturer). Mungkin juga ada pesanan khusus pada bagian-bagian tertentunya.
Sehingga saya belum merasakan ciri khas, atau identitas pada laptop mahal mereka. Dan buat sebagian kita, itu lebih penting daripada spesifikasi.
